Senin, 14 Desember 2009

Kopdit Serviam & Orang Miskin Flores

(Catatan Pengantar pada Buku Bunga Rampai yang telah dilaunching di Ende, 19 Maret 2010)

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Naomi Susan dalam bukunya ‘Be Negative = Menjadi Negatif’ pernah menulis, “Anda memiliki kebebasan untuk memilih. Tetapi, mengapa Anda memilih untuk tetap berada dalam keadaan yang sama setiap harinya dan tidak bergerak lebih maju selangkah demi selangkah?”

Koperasi Kredit Serviam Ende yang dibentuk pada tanggal 09 Januari 1993 dengan anggota awal hanya 27 orang dan asset 670 ribu rupiah terus-menerus menata dirinya untuk berkembang selangkah demi selangkah sebagai salah satu wadah dan sarana pemberdayaan yang handal bagi orang-orang miskin, orang-orang yang berpenghasilan rendah terutama berupaya menjawab berbagai kebutuhan mendesak (uang) para guru, dosen, pegawai dan karyawan Yayasan Nusa Taruni Bakhti yang terkena dampak langsung bencana gempa bumi menghantam Flores tanggal 12 Desember 1992. Di atas reruntuhan itu mereka membangun Koperasi Kredit Serviam (saya mengabdi tanpa pamrih).

MEMBANGUN DARI APA YANG ADA
Perjalanan pertumbuhan dan perkembangan Koperasi Kredit ini ada jatuh dan bangun seperti bayi yang baru berlatih untuk jalan. Walaupun demikian koperasi kredit yang pada awalnya hanya diperuntukkan bagi orang-orang lingkungan Yayasan, sejak tahun 2001 mulai membuka pintu keanggotaan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Ende, pertumbuhannya terus menampakkan hasil yang signifikan: per 31 November 2009; anggota: 1.457, asset: 5,4 M dan modal 3,08 M.

Modal ini dikumpulkan dari kekuatan sendiri, mereka menghemat dari pendapatannya dalam jangka waktu 16 tahun mencapai 3,08 Milliar apabila terus dipacu dan didorong maka perhitungan kasar penduduk Kabupaten Ende misalnya: 20.000 saja maka asset yang dimiliki masyarakat : 20.000 x 3,706,246 = Rp.74.124.914.207 (3,706,246 diperoleh dari 5,400,000,000 : 1.457) dan apabila kita menabung 10 tahun dari sekarang (2009) berarti 2019 = Rp. 74.124.914.207 x 10 (thn) = Rp. 741.249.142.073. Masih pantaskah kita menerima raskin dan blt....???

Jika kita tidak secara serius melakukan ini maka kita dan generasi kita turun-temurun terus mendapatkan ‘raskin dan blt’ sampai dunia akhirat.

Beras Miskin atau raskin dan BLT (Bantuan Langsung Tunai) merupakan musuh keswadayaan dan martabat manusia. Sebab melalui berbagai program (apalagi bersifat proyek) akan semakin mematikan kreativitas masyarakat untuk berusaha sekeras mungkin mempertahankan hidup (e’lan vitae) dan semakin meninabobokan mereka. Proyek ini juga akan mewarisi kepada generasi berikut : “generasi yang hanya tahu menerima tanpa mau bekerja keras” sehingga tidak heran banyak orang mencari jalan pintas dan melahirkan kerusuhan sosial baik di kota terutama sekarang mulai di desa.

Mungkin program padat karya yang sharing kapital dari pemerintah dengan sharing tenaga masyarakat rasanya memiliki nilai lebih ketimbang memberikan uang tunai atau beras raskin. Beras raskin dimakan oleh anak-anak akan melahirkan juga otak miskin, cara berpikir miskin sehingga benang kusut kemiskinan atau penyakit turunan kemiskinan tak akan terobati dan tidak akan tersembuhkan.

Berdasarkan refleksi pengalaman pribadi sudah kurang lebih 12 tahun berkiprah di koperasi kredit, saya mempunyai 1 kesimpulan sederhana bahwa gerakan ini lebih menggerakkan masyarakat untuk hidup mandiri dari apa yang ada pada mereka (pengatahun, ketrampilan, sikap/perilaku) yang disokong dengan berbagai sumber daya alam yang ada. Juga ketika saya ke Thailand, Koperasi Kredit di sana memobilisasi sikap hidup hemat dengan menabung serta memprakarsai lahirnya jiwa kewirausahaan anggota (masyarakat) yang akhir-akhir ini menghasilkan kurang lebih 3-4% penduduknya berwirausaha dan mengurangi jumlah masyarakatnya untuk memilih bekerja sebagai orang upahan.

Tentunya semua mimpi tersebut tidak mudah untuk direalisasikan namun paling kurang secara strategis; cara kerja pemberdayaan ala koperasi kredit rasanya lebih cocok untuk masyarakat kita menuju standar ideal negara maju secara ekonomis sekurang-kurang penduduknya 2,5% bergerak di bidang wirausaha.

MEMBANTU TUGAS PEMERINTAH
Cara kerja dan mekanisme pelayanan Koperasi Kredit yang mengandalkan keswadayaan, pendidikan dan solidaritas tidak untuk dirinya sendiri. Melalui cara dan sudut pandang berbeda ikut membantu memberdayakan anggota dan masyarakat yang sama yang menjadi titik fokus kerja pemerintah.

Walaupun kadang-kadang kita berbeda dalam cara dan sudut pandang namun kita memiliki visi dan misi yang sama untuk memberdayakan anggota (masyarakat) keluar dari lilitan kemiskinan. Kita bersama-sama mengurai benang kusut kemiskinan yang menjadi musuh bersama turun-menurun.
                                                     Anggota sedang mengikuti RAT

Koperasi Kredit Serviam dalam keseluruhan kiprahnya baik langsung maupun tidak langsung telah, sedang dan akan membantu tugas-tugas pemerintah sehingga diharapkan saat-saat mendatang ada kerjasama yang lebih aplikatif dan saling menguntungkan dalam nuansa saling percaya yang jujur. Tidak diharapkan ada usaha saling menciderai.


MELIBATKAN AKTIVIS YANG SE-IDE
Koperasi Kredit Serviam sejak awal pembentukannya selalu melibatkan berbagai pihak yang se-ide, se-pikiran agar se-tindakan untuk memberdayakan masyarakat akar rumput dalam perspektif keswadayaan, pendidikan dan solidaritas.

Oleh karena itu Koperasi Kredit Serviam senantiasa merangkul sekolah-sekolah (SD-SMA) meski belum optimal, Yayasan, Perguruan Tinggi (ada pribadi-pribadi yang menjadi anggota) juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa melakukan penelitian untuk penulisan skripsi, LSM baik lokal maupun internasional, Akta Notaris, Media Massa (terutama Flores Pos), Media Elektronik (RRI-Ende) serta Pemerintah setempat (Dinas Koperasi) selain kerjasama jejaring Puskopdit, Inkopdit, ACCU dan WOCCU.

Kita bekerja sama untuk membangun paradigma cara berpikir baru bagi masyarakat menuju habitus baru yang lebih mengandalkan keswadayaan, kewirausahaan dan kesejahteraan yang bermartabat.

TERBIT BUKU BUNGA RAMPAI
Bermula dari suara-suara dan sekaligus rekomendasi anggota dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2008 agar pengurus menerbitkan buku bunga rampai untuk menceritakan kepada anggota, masyarakat dan pihak III terutama generasi penerus tentang apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan aktivis Koperasi Kredit Serviam.

Para generasi penerus harus memiliki sikap optimis dan moralitas harapan memberdayakan kehidupannya yang lebih bermartabat melalui wadah Koperasi Kredit Serviam Ende.

Menerbitkan buku .... suatu pekerjaan sangat besar dan memakan waktu serta biaya yang tidaklah kecil. Lalu apakah buku itu bermanfaat bagi anggota bahkan tidak sebaliknya membebankan anggota?
Namun itulah kenyataan. Anda memiliki kebebasan untuk memilih, mengapa Anda memilih untuk tetap berada dalam keadaan yang sama setiap harinya?

Buku Bunga Rampai ini bukan buku yang super hebat. Namun kami yakin buku ini bisa membantu membuka wacana bagi kita semua. Buku ini lebih banyak bercerita tentang pengalaman, sejarah pembentukan, opini tentang strategi mengatasi kemiskinan, tips-tips untuk berwirausaha dan hal-hal menarik lainnya yang bisa memberikan rasangan dan suntikan ke otak sehingga berpikir positip dan bergerak lebih maju selangkah demi selangkah.

Buku Bunga Rampai ini merupakan buku pertama kami namun bukan yang terakhir. Kritik dan saran kami harapkan dari rekan-rekan aktivis koperasi kredit atau credit union dan sidang pembaca sekalian agar buku-buku karya kami selanjutnya lebih bermutu dan bermakna.

Terima kasih berlimpah kepada semua pihak yang telah terlibat pada penerbitan buku ini : Pemerintah Kabupaten Ende yang bersedia memberikan kata sambutan, General Manager Inkopdit-Jakarta, Para Penyumbang Tulisan, Tim Editor, Fungsionaris dan 1.457 Anggota Kopdit Serviam yang telah memberikan kepercayaan untuk menerbitkan buku ini serta semua saja yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu dan Tuhan Yang Maha Sempurna. “Kita tidak perlu ahli untuk memulai namun kita memulai untuk menjadi ahli”.

Ende, Desember 2009

Read more...

Kamis, 03 Desember 2009

Mengapa Angka 15 ???

(Kata Sambutan Ketua Kopdit Serviam untuk dimuat pada
Buku Bunga Rampai yang telah dilaunching di Ende, 19 Maret 2010)

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Tentu menjadi pertanyaan banyak orang dan terutama kita sebagai anggota ataupun fungsionaris Koperasi Kredit Serviam bahwa mengapa kita rayakan 15 tahun koperasi kredit kita berkiprah di Kabupaten Ende pada tahun 2010? Apabila kita merujuk pada tahun pembentukan 09 Januari 1993 berarti sudah memasuki usia 17 tahun.

Inilah keunikan Koperasi Kredit Serviam yang sejak awal terus melakukan terobosan meski belum berkembang besar sesuai harapan kita semua. Angka 15, kita tarik dari tahun 2008. Tahun 2008 merupakan garis demarkasi kita menyatakan pengelolaan dilakukan secara profesional. Tahun ini juga Kopdit kita memenuhi target anggota 1000 lebih dengan kekayaan di atas 1 Milliar yang tahun-tahun sebelumnya untuk mencapai hal itu terasa tidak mudah dan mungkin hanyalah sebuah mimpi yang tak terwujudkan.

Syukur kepada Tuhan bahwa tahun ini bagaikan tahun rahmat lantaran kita juga secara swadaya membeli gedung pelayanan sendiri yang berluas 552 m2 di Jalan Eltari serta mendapat penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Ende sebagai Koperasi Kredit Terbaik Kabupaten Ende. Hingga per November 2009, anggota kita mencapai 1.457 orang dan kekayaan (asset) Rp. 5,4 M lebih.

Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bahwa pada tahun 2008 menjadi titik start kita merayakan berbagai keberhasilan kecil, merefleksi diri dan memberi makna tersendiri sebagai bekal berharga untuk menumbuhkembangkan Kopdit Serviam semakin JAYA dan ANGGOTA SEMAKIN SEJAHTERA ...!

ASSET KEBANGGAAN
Sadar atau tidak bahwa Koperasi Kredit Serviam merupakan juga anak kandung sebagai asset kebanggaan ibu pertiwi Kabupaten Ende yang berjuang bersama komponen masyarakat lain di daerah ini untuk mengurai benang kusut kemiskinan yang melilit sebagian besar masyarakat.

Kemiskinan masyarakat Kabupaten Ende bukan karena mereka tidak mempunyai ‘apa-apa’ untuk memenuhi kebutuhan dasariah namun lebih dikarenakan oleh kemiskinan cara berpikir (mindset) yang hanya menghabiskan tanpa suatu upaya yang serius dan sungguh-sungguh untuk menghemat dari berbagai pendapatannya dengan cara menabung.

Pada titik kritis inilah, Koperasi Kredit Serviam coba tampil untuk mengambil bagian dalam proses perubahan cara berpikir untuk keluar dari berbagai himpitan kemiskinan dan kemelaratan.

Bukan sesuatu yang luar biasa kontribusi yang diberikan Koperasi Kredit Serviam bagi masyarakat Kabupaten Ende namun hal yang biasa apabila dilakukan secara luar biasa akan memberikan dampak yang luar biasa juga.

TIDAK BERHENTI DISINI
Sesuatu yang baik patut dilanggengkan dan ditingkatkan kualitasnya. Para aktivis dan seluruh anggota Koperasi Kredit Serviam tidak boleh berpuas diri dan berhenti pada zona aman. Sebab 95% manusia di muka bumi ini selalu tergoda untuk berada pada zona aman dan tertidur. Mereka mulai malas untuk bergerak lebih maju. Mereka malas melakukan perubahan.

Padahal siapa yang tidak melakukan perubahan pasti akan terpuruk. Diharapkan kita tetap menjadi manusia yang 5% untuk terus menerobos hutan belantara persaingan agar menjadi salah satu lembaga pelayanan keuangan yang dapat dipercaya dengan ‘branding-designed’ yang tidak mudah dilupakan anggota dan masyarakat.

Kita merasa perlu untuk terus memperbaiki diri dan berubah, selalu ada cara dan sistem kerja yang lebih profesional, mekanisme dan prosudur yang lebih cepat serta produk-produk yang lebih bermutu. Hendaknya perubahan dan perkembangan organisasi kita bagaikan ‘never ending story’: sebuah cerita melodrama yang tak pernah selesai’.

S e m o g a!


Read more...

Rabu, 02 September 2009

Pelatihan Kompetensi Manajer Kopdit

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Pertumbuhan dan perkembangan koperasi kredit dan pusat koperasi kredit (Puskopdit) dari sisi keanggotaan dan kekayaan secara nasional mengalami peningkatan yang cukup signifikan akhir-akhir ini. Pertumbuhan yang super cepat itu hendaknya didukung dengan kompetensi para pengelolanya terutama manajer atau general manajer (CEO: Chief Executif Office versi ACCU) sebagai epicentrum atau penaggungjawab utama operasional organisasi kita yang berlandaskan kemandirian, pendidikan dan solidaritas. Demikian suara Edy Subagio yang mewakili Pengurus dan Manajemen Inkopdit menggelegar dihadapan 44 peserta Pelatihan Kompetensi Manajer Koperasi Kredit Regio Timur di Aula Pusdiklat Puskopdit Bekatigade Timor-Kupang, tanggal 02 – 09 Agustus 2009.


Senada dengan itu, Chris Polo; Sekretaris Pengurus yang mewakili Pengurus Puskopdit Bekatigade Timor dalam acara pembukaan menyatakan bahwa semakin banyak orang terlibat pada jasa keuangan koperasi kredit dengan kemajuan yang cukup pesat sesungguhnya menjadi tantangan sekaligus peluang agar kita siap diri untuk menjadi pemenang di arena kompetisi bisnis. Lebih lanjut Polo menegaskan bahwa patut disadari seorang manajer sebagai ujung tombak untuk memajukan kopdit/puskopdit. Dengan demikian manajer juga harus kuasai hal-hal teknis.

“Disini kita saling sharing untuk dijadikan panduan bagaimana cara terbaik mengelola kopdit secara profesional. Diharapkan setelah pelatihan kompetensi manajer, para peserta bisa membawa oleh-oleh kompetensi yang baik untuk membangun puskopdit/kopdit yang lebih besar, kuat dan aman”. Beliau juga atas nama pengurus Puskopdit Bekatigade Timor menyampaikan ucapan selamat datang dan mohon maaf kepada peserta apabila ada kekurangan terutama besarnya ruangan pelatihan yang agak terbatas.

Ke-44 peserta pelatihan terdiri atas 21 utusan dari Puskopdit Swadaya Utama Maumere dibawah koordinasi ade Nong Baba, 12 utusan dari Kupang, Alor dan Rote, 4 utusan dari Maluku Utara (Kopdit AHA asuhan Romo Carrol), 5 utusan dari Puskopdit Manggarai Raya dan 2 utusan dari Ende-Ngada-Nagekeo. Mereka bagaikan ribuan warna bunga dengan kelebihan dan kelemahan yang menghiasi taman pelatihan untuk mendongkrak kompetensi manajer dan calon manajer gerakan koperasi kredit yang handal dan dapat dipercaya.

Pelatihan itu sendiri difasilitasi FX. Ari Setiawan (penanggungjawab) didukung para fasilitator muda: Edy Subagio (ES), Arina Kusuma Dewi (AKD), Abraham M. Paulson (AMP) dari Inkopdit-Jakarta serta fasilitator “terbang” Fl. Frediyanto (General Manajer Kopdit Obor Mas-Maumere)serta disokong kuat oleh panitia lokal; nona Lucy dan mas Yanto dari Puskopdit Bekatigade Timor-Kupang.

Pelatihan Kompetensi diawali dengan Orientasi Pelatihan yang dibawakan oleh FX. Ari Setiawan, Kabid Pendidikan Inkopdit setelah perkenalan peserta dan penetapan kesepakatan tata aturan selama kegiatan berlangsung. Yang menarik bahwa peserta yang melanggar aturan dikenakan sangsi pembayaran keuangan mulai dari Rp. 5000 s/d 50,000 dilihat dari besar kecilnya pelanggaran. Ari Setiawan dalam orientasinya menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, hasil yang diharapkan serta modul-modul materi pelatihan yang dijalankan selama 1 minggu.

Ke-8 modul kompetensi manajer yang diadaptasi dari modul CUCCC-ACCU adalah: Manajemen Dasar Kopdit, Perencanaan Strategis, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Resiko, Tata Kelola Kopdit yang Baik, Manajemen Perkreditan dan Manajemen Keuangan.

Menurut Ari Setiawan; perkembangan anggota, simpanan saham dan non saham dan aset koperasi kredit secara nasional memang cukup pesat dan nyata. Data nasional per 31 Desember 2008 menunjukkan angka-angka: ada 947 primer dengan jumlah anggota perorangan 1,154,208 orang, simpanan saham Rp. 1,4 triliun, non-saham: Rp. 3,4 triliun, pinjaman beredar Rp. 4,6 triliun, dana cadangan Rp. 128 miliar serta aset Rp. 5,7 triliun. Pertumbuhan naik 40% dari tahun 2007.

Pertumbuhan keuangan koperasi kredit yang mengelola keuangan masyarakat demikian pesat namun memiliki resiko yang cukup besar juga. Dalam menghadapi resiko yang akan timbul maka diperlukan orang-orang yang kompeten. Kompeten atau kompetensi adalah kombinasi antara ketrampilan (skills), atribut personal dan pengatahun (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (attitude) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Untuk mencapai itu semua harus diadakan suatu pendidikan dan pelatihan. Dalam nada ini, pelatihan kompetensi manajer dilaksanakan.

Dalam sesi Manajemen Dasar Kopdit, Ari menjelaskan tentang defenisi, ruang lingkup dan apa keinginan pengurus, manajer (staf) serta anggota. Manajemen adalah seni untuk merencanakan, mengorganisir, mengimplementasi dan mengawasi sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Manajer sebagai top-management harus peka terhadap kebutuhan anggota, staf dan pengurus (pengawas, penasihat).

Beliau juga menjelaskan ruang lingkup atau fungsi-fungsi manajemen yakni perencanaan (memikirkan rencana apa yang akan dikerjakan dengan sumber daya yang dimiliki: ingat orang tidak menilai rencana atau pikiran tetapi tindakan), pengorganisasian (menciptakan struktur dengan bagian-bagian yang terintegrasi, selaras dan efektif), penggerakkan (tindakan untuk menggerakkan segala sumber daya agar mencapai sasaran secara optimal), pengawasan (tindakan manajer untuk menilai pencapaian kegiatan yang mengarah pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan).

Untuk bisa menjalankan tugas secara sukses maka manajer perlu memiliki ketrampilan teknis, ketrampilan konseptual dan ketrampilan komunikasi. Melengkapi berbagai ketrampilan demikian, manajer juga harus paham tipe atau gaya kepemimpinan sesuai staf yang ia hadapi. Peserta dibekali dengan test untuk mengetahui gaya kepemimpinannya yakni Telling, Selling, Participating dan Delegating dengan skor jika mendapat nilai 30-36: sangat tinggi, 24-29: moderat dan 0-23: perlu peningkatan untuk mampu menyesuaikan gaya. Saya sendiri mendapat nilai akumulatif : 19 artinya masih perlu belajar banyak untuk menjadi manajer yang efektif dan berhasil.


Kelompok "Manuhara": primadona pelatihan !

Sesi berikutnya kami ditawarkan materi perencanaan strategis oleh fasilitator cantik Arina Kusuma Dewi (AKD). Ia memulai dengan meminta peserta membuat puri di udara secara berkelompok untuk mengetahui ketrampilan perencanaan dan hal-hal teknis yang harus dilakukan manajer. Ada berbagai ragam hasilnya. Ada yang tinggi sekali tetapi fundasinya tidak kuat. Ada yang fundasinya kuat tetapi purinya rendah sekali. Ini menunjukkan perbedaan pengatahun, ketrampilan dan keuletan masing-masing manajer di lapangan bakhti dengan aneka ragam tantangannya. Ada banyak penjelasan tentang Perencanaan Strategis seperti yang telah kita peroleh bahkan kita buat selama ini seperti: pra-perencanaan, analisa swot, pernyataan visi-misi, tujuan jangka panjang, sasaran jangka pendek, rencana strategis, rencana taktis, anggaran, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Sebagian peserta bisa membuat PS secara baik tetapi ada juga yang masih butuh bimbingan dan pembelajaran lebih lanjut.

Materi Manajemen Sumber Daya Manusia difasilitasi oleh auditor Inkopdit, Edi Subagio. Cakupan penjelasannya cukup luas dan lengkap. Yang menarik bahwa ia menyinggung SDM dalam takaran atau standarisasi accesbranding serta dalam tinjauan UU Koperasi No. 25 Tahun 1992.

Ari Setiawan melanjutkannya dengan sesi Marketing. Ia membuka dengan permainan 3 vs 3 secara berhadapan dengan 1 orang sebagai pembatas serta meminta peserta sebagai manajer memberi petunjuk: setiap orang hanya boleh melangkah ke depan 1x dan tidak boleh mundur sampai akhirnya 3 orang sebelahnya berada secara berurutan pada tempat ke-3 orang disebelahnya. Semua peserta mencoba memberikan komando tetapi tidak ada satupun yang berhasil. Nampaknya sulit ternyata bisa dilakukan secara sukses oleh mas Ari. Marketing atau pemasaran adalah mencari sesuatu yang unik atau berbeda. Ia juga menyinggung tentang service excellent.

Ada 3 tingkatan servis atau pelayanan yakni servis dasar: servis minimal, servis sesuai harapan anggota dan servis melebihi harapan anggota. Servis melebihi harapan anggota itulah service excellent. “Manajer mau pilih tingkatan servis yang mana...?” tanya Ari menantang peserta.

Kami juga dibekali secara berturut-turut dengan materi Manajemen Resiko serta sharing SDM oleh Fl. Frediyanto, Perpajakan Kopdit oleh Edi Subagio, Tata Kelola yang Baik oleh Ari Setiawan, Manajemen Perkreditan oleh Edi Subagio, Manajemen Keuangan oleh Edi Subagio yang dilengkapi dengan Pembuatan Arus Kas oleh Abraham M. Paulson (AMP). Materi-materi ini disimpulkan dengan ujian tertulis serta studi lapangan pada Kopdit Serviam-Penfui, Samijaya, Adiguna, Swastisari dan Solidaritas.

Sesungguhnya pelatihan ini sangat membantu para peserta dalam mempersiapkan diri bagi yang belum manajer dan meningkatkan kompetensi dirinya bagi yang sekarang sedang memangku jabatan manajer baik di kopdit primer maupun di puskopdit untuk mengelola organisasinya secara profesional sesuai kompetensi yang dimiliki. Patut disadari bahwa profesionalisme dan kompetensi mampu mengarahkan koperasi kredit/puskopdit untuk berkompetisi secara sehat dan unggul di tengah pacuan bisnis yang super cepat kemajuan dan perkembangan saat ini. Apalagi menghadapi era pasar bebas ... tuntutan kompetensi sudah seharusnya dilakukan.

Namun demikian masih ada saja masukan kritis dari peserta untuk lebih meningkatkan mutu pelatihan agar tidak berhenti pada tataran teoretis namun sudah harus lebih aplikatif sesuai kondisi masing-masing kopdit/puskopdit. Tentu kita ada banyak kepala berarti ada seribu satu cara berpikir atau persepsi yang berbeda. Berbagai masukan kritis tidak melemahkan para fasilitator yang telah bekerja optimal serta mengurangi mutu pelatihan atau ada pikiran sesat bahwa pelatihan itu tidak penting tetapi harus dilihat dalam kerangka membangun sesuatu yang lebih berkualitas dan berkompeten ke depan. Tentu teori atau praktek bagi kita sebagai praktisi koperasi kredit masih harus diperdebatkan karena teori tanpa pratek adalah bohong tetapi praktek tanpa landasan teori yang benar adalah omong kosong.

Maka bijaklah kita menyimak pepatah tua mengatakan,”Kita tidak harus ahli untuk memulai tetapi kita harus memulai untuk menjadi ahli”. Semoga pelatihan ini membawa efek positif peningkatan kompetensi manajer dan calon manajer nusantara yang berdampak pada semakin profesionalnya pengelolaan organisasi kita hari ini terutama pada hari depan.

Tidak berarti juga bahwa pelatihan ini meneguhkan pemikiran yang sedang berkembang dalam gerakan kita akhir-akhir ini yakni mau menciptakan dan mencetak manajer abadi atau manajer seumur hidup tanpa tergantikan dengan satu alasan bahwa yang berhak berkompetisi menjadi calon manajer adalah mereka yang telah lulus pelatihan kompetensi manajer atau versi ACCU dinamakan CUCCC. Penempatan seseorang pada suatu jabatan apapun dalam Koperasi Kredit, Puskopdit, Inkopdit harus tetap berpegang teguh pada kompetensi yang dimiliki atau bahasa pemerintah,
‘The right man on the right place’ atau ‘The right place special for the right man’.


Read more...

Kamis, 20 Agustus 2009

Kopdit Serviam Ende: Pipa Orang Miskin Flores

Oleh Kosmas Lawa Bagho

(Tulisan ini akan dimuat pada buku bunga rampai 15 tahun Kopdit Serviam Ende berkiprah memberdayakan masyarakat Flores khusus Kabupaten Ende yang direncanakan akan launching Januari 2010)

Data yang ditampilkan dari Departemen Tenaga Kerja AS Tahun 2008 (Bisnis Bekerja dari Rumah: www.peaklifestyle.com tanggal 06 Juni 2009) cukup mengesankan dan mengejutkan saya. Dalam website tersebut memberikan hasil data penelitian orang-orang yang bekerja selama 40 tahun (usia 65 tahun) di kantor sebagai karyawan dengan perbandingan sebagai berikut:
a. 1 % orang-orang bersangkutan hidup makmur dan sejahtera.
b. 4 % memiliki cukup uang untuk hidup pas-pasan.
c. 5 % terpaksa untuk tetap bekerja di usia 65 tahun.
d. 54 % hidup dibawah garis kemiskinan, bergantung terhadap uang pensiun atau bergantung      pada sanak saudara, keluarga dan teman.
e. 36 % telah meninggal dunia.

Data statistik ini berkaitan langsung dengan cerita yang coba saya angkat dari Buku Cashflow Quadrant karangan Robert T. Kyosaki. Maaf cerita ini saya edit sedikit dari cerita asli. Inilah kisahnya. Zaman dulu terdapat sebuah desa kecil nan indah. Tempat itu sangat menyenangkan namun sayang tidak ada ketersediaan air jika hujan tidak turun mencium bumi. Para kepala kampung atau desa mengadakan rapat besar untuk mengatasi masalah yang cukup kronis itu. Rapat bersepakat mengontrak dua orang pemuda yang sanggup menyelesaikan persoalan yang dialami masyarakat. Mereka adalah Ed dan Bill. Ed seorang yang bergerak cepat.

Ed segera berlari ke pasar lalu membeli dua buah ember baja besar dan bolak balik ke danau untuk mengambil air. Jarak danau dari desa bersangkutan kira-kira 1,5 km. Pagi hingga petang, ia bekerja keras mengangkut air untuk memenuhi kepentingan masyarakat dan ia langsung mendapatkan uang. Setiap pagi dengan setia ia lakukan dan memperoleh banyak uang. Ia bersyukur bisa mendapatkan banyak pemasukan dari kerja kerasnya sejak pagi hari hingga petang tanpa henti.

Sementara Bill beberapa saat menghilang. Keadaan ini membuat Ed tambah bahagia lantaran tidak ada pesaing. Bill tidak membeli ember baja untuk bersaing dengan Ed tetapi dia membuat rencana usaha, mendirikan perusahaan, mendapatkan empat penanam modal, mengangkat seorang manajer untuk melakukan pekerjaannya dan kembali enam bulan kemudian dengan kru atau rombongan bangunan. Dalam waktu satu tahun, timnya telah membangun jaringan pipa baja anti karat bervolume besar yang menghubungkan desa dengan danau.

Pada pesta pembukaan, Bill mengumumkan bahwa airnya lebih bersih dan bisa memasok air ke desa selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu serta memberikan harga 75% lebih murah dari air yang dijual Ed dan sumber mata airnya lebih berkualitas dan sehat. Penduduk desa bersorak sorai dan langsung berlari ke kran air di ujung saluran pipa Bill. Ia mendapatkan pemasukan tanpa ia harus memikul air dari pagi hingga petang. Bill juga mulai melebarkan sayap usahanya ke desa-desa lain.

Kini Bill menjadi milioner tanpa harus bekerja keras lagi seperti Ed. Ia menghabiskan banyak waktu untuk keluarga sementara kekayaannya terus bertambah dari hari ke hari tiada henti selama air mengalir dari saluran pipa usahanya. Kini uang bekerja keras untuk Bill bukan lagi Bill yang bekerja keras membanting tulang untuk memperoleh uang. Ia bisa mendapatkan uang meski sedang tidur nyenyak.

Dilain pihak Ed, kualitas tenaganya makin menurun karena bertambahnya usia serta mutu airnya menurun drastis maka ia tidak berdaya apa-apa. Ia terus bekerja keras namun kekayaannya tidak bertambah malah tergerus habis untuk membiayai sekolah anak-anaknya dan biaya perawatan rumah sakit. Ed bekerja sebagai mental pembawa ember yang terus bekerja keras untuk memperoleh uang. Tidak pernah berubah nasibnya agar uanglah bekerja untuk dia. Kini kita mau seperti Bill membangun saluran pipa kehidupan atau seperti Ed sebagai pembawa ember seumur hidup?


Kopdit Serviam dan Mental Pembawa Ember

Koperasi Kredit Serviam dibentuk pada tanggal 09 Januari 1993 oleh sekelompok anak muda di Yayasan Nusa Taruni Bakhti Ende. Pembentukan awal hanya untuk menanggulangi beban kehidupan para guru, dosen, staf dan karyawan Yayasan Nusa Taruni Bakhti yang terkena dampak langsung gempa bumi 12 Desember 1992. Awalnya keanggotaan terbatas hanya intern dan tidak terbuka untuk masyarakat umum. Dalam perjalanan selanjutnya ada begitu banyak masyarakat mau bergabung dengan koperasi kredit ini dengan berbagai latar pendidikan, status sosial, profesi, suku, ras dan agama.

Tahun 2000, Kopdit Serviam terbuka untuk umum sesuai prinsip dan jati diri koperasi versi UU Koperasi No.25/1992; keanggotaan terbuka dan sukarela. Sejak saat itu, Koperasi Kredit berjuang melawan berbagai bentuk kemiskinan, kemelaratan dan sikap mental pembawa ember bagi seluruh masyarakat Flores umumnya dan Kabupaten Ende khususnya.

Data penelitian Departemen Tenaga Kerja AS hampir searah dengan hasil penelitian NGO Swisscontact di Ende yang dilaksanakan pada tahun 2006. Mereka meneliti sikap masyarakat terhadap sikap menabung serta di mana hal paling besar masyarakat menghabiskan uangnya. Mereka melakukan secara sampel di Kelurahan Tanalodu Bajawa dan Desa Mautenda, Ende. Hasil penelitian juga menunjukkan hal yang sangat mengejutkan dan mengesankan bahwa mamang sebagian besar masyarakat kita tidak segera membangun saluran pipa kehidupan menuju kesejahteraan melainkan sebagai pembawa ember yang senantiasa miskin turun temurun.

Penelitian tersebut menunjukkan angka-angka pembiayaan masyarakat Flores umumnya adalah bidang makan-minum dan konsumeris lainnya dengan prosentase tertinggi yakni 42%, diikuti pesta adat 12%, pendidikan 10%, transport, listrik, telepon dan pengembalian pinjaman sama-sama 9%, pertanian, peternakan dan perkebunan 8%, kesehatan, asuransi dan menabung masing-masing 1%. Data ini diperkuat dengan penelitian dari mana semua sumber pembiayaan masyarakat yang paling sering adalah pinjaman pada teman, arisan, bank dan penggadaian. Koperasi kredit atau CU belum menjadi primadona sebagian masyarakat kita meskipun akhir-akhir ini mulai muncul kesadaran ke arah itu.

Menarik untuk disimak bahwa prosentase pembiayaan masyarakat kita untuk asuransi dan tabungan hanyalah 1% dari seluruh pendapatan atau penerimaan. Bayangkan! Menabung masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat kita. Itu berarti pola pikir dan pola hidup kita masih sebagai pembawa ember. Kita belum mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih cerah dengan penciptaan kekayaan/asset melalui menabung. Data-data kuantitatif ini dipertegas lagi dengan data kualitatif yaitu sebagian masyarakat apabila mau masuk koperasi kredit /CU SERVIAM, selalu bertanya berapa rupiah yang bisa dipinjam bukan berapa rupiah yang disimpan.

Apabila ada motivasi menabung selalu ada seribu alasan yang membuat mereka tidak bisa menyisihkan sesen dua untuk masa depan yang lebih cerah. Oleh karena itu tidaklah heran data dari Departemen Tenaga Kerja AS di atas bahwa setelah bekerja 40 tahun (dalam usia 65 tahun) hanya ada 1% yang hidup sejahtera lalu dimanakah 99%? Sangat tragis bahwa 36% dari antaranya telah meninggal dunia dan 54%-nya hidup dalam keadaan miskin. Semua itu terjadi lantaran kita masih hidup dengan mental pembawa ember.

Kopdit Serviam dan Perubahan Mindset:Pembawa Ember menjadi Pembuat Saluran Pipa
Rhenald Kasali, Ph.D pernah menulis dalam bukunya Re-Code: Change Your DNA bahwa usaha yang paling berat dan prosesnya sangat lama, bagaimana upaya melakukan perubahan mindset atau mengubah pola pikir. Namun tanpa perubahan pola pikir, kehidupan masyarakat tidak akan lebih berkualitas. Untuk itu suatu pekerjaan paling memakan waktu dan biaya bagaimana upaya Kopdit Serviam mau mengubah pola pikir masyarakat Flores agar bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Membantu orang miskin adalah berjuang sekeras mungkin merubah cara pikir dan cara tindak mereka agar tidak lagi mau hidup miskin. Untuk itu ditawarkan beberapa cara alternatif dibawah ini:

 Membangun Sikap Optimis. Semua orang memiliki peluang yang sama yakni rasa percaya diri (dalam batasan yang positip) dan yakin usaha akan mencapai tujuan adalah sikap yang perlu dipupuk di dalam diri. Pepatah menyatakan,’Kita boleh kehilangan apapun tetapi jangan sampai kehilangan harapan’. Harapan akan melahirkan semangat atau optimisme. Sikap optimis harus kuat laksana gergaji yang mampu menembus batang kayu yang sangat keras sekalipun untuk maju dan meraih sukses.

Orang yang putus asa akan dekat dengan bahaya dan kemiskinan. Peluang untuk hidup sejahtera milik semua orang dan peluang itu ada di mana-mana hanya yang berbeda adalah semangat atau tekad serta cara memanfaatkan peluang untuk meraihnya menuju hidup yang lebih sejahtera. Sebab perbedaan orang kaya dan orang miskin adalah motivasi untuk mencapai sukses. Sukses itu butuh komitmen tidak sekedar ingin. Komitmen memerlukan motivasi besar yang lebih dikenal dengan antusiasme atau optimisme. Mengeluh karena satu tantangan atau rintangan menandakan bahwa kita bukan pejuang tetapi pengecut. Dunia sukses tidak pernah dan tidak akan pernah berkenalan dengan pengecut. Dunia sukses hanya memerlukan manusia yang siap menghadapi segala tantangan dengan gagah berani. Kita tak pernah sukses jika tidak berani melangkah, tidak mau mengambil kesempatan dan menunda-nunda usaha/bisnis.

Setiap orang bisa merubah keadaan. Keadaan sudah tercipta secara alamiah. Namun keadaan demikian bisa diubah sesuai visi dan rencana yang akan diejahwantahkan atau dilakukan dalam tindakan nyata. Jikalau keadaan tidak dapat diubah maka tidak akan memberi dampak apapun. Untuk itu kita harus siap mengoptimalkan modal terbesar dalam diri. Modal terbesar kita untuk merubah keadaan adalah tangan, kaki, mata, pikiran, anggota tubuh lainnya. Namun terkadang berbagai modal itu tidak dimanfaatkan atau malah ragu atau takut mengoptimalkan. Apalagi dibarengi dengan cara pikir yang keliru bahwa kita orang kebanyakan dengan pola hidup pas-pasan rasa-rasanya sulit untuk menjadi kaya. Cepat menyerah dan menerima keadaan yang sudah ada. Hidup begini sudah cukup untuk apa diubah lagi. Kita harus berani ambil tindakan dan mau merubah keadaan yang bisa kita ubah. Tidak ada yang mustahil sejauh ada tekad, kerja keras dan kerja cerdas.

Mulai mengurus bisnis sendiri. Pepatah bijak mengatakan bahwa kita memulai usaha atau bisnis sendiri atau mau miskin seumur hidup. Membaca, memperhatikan dan mendengarkan sangat penting tapi lebih penting dari semuanya itu adalah MULAI MELAKUKAN. STOP DREAMING, START ACTION!

Pakai sedikit uang untuk berbisnis atau berinvestasi. Jangan takut buat kesalahan dan mengalami kegagalan dalam berbisnis yang penting mau belajar dari kesalahan dan berani mengubah strategi. Banyak orang tidak pernah bisnis atau usaha apapun hanya karena mereka tidak mengetahui semuanya. Kita takkan pernah bisa mengetahui semuanya, tetapi tetaplah memulai. Keith Cunningham menulis, “Banyak orang tidak berani menyeberang jalan sebelum semua lampunya berwarna hijau. Itu sebabnya mereka tidak ke mana-mana”.

Atau pepatah bijak lainnya menulis, “Kita tidak perlu ahli untuk memulai tetapi kita harus memulai untuk menjadi ahli”. Salah satu cara mengatasi kesulitan finansial dan kemiskinan adalah kita harus berani mulai mengurus bisnis atau usaha sendiri ketimbang hanya menghamba mengurus bisnis orang lain.

Mengendalikan arus kas. Arus kas merupakan kompas bagi ekonomi keluarga apalagi kita selalu mengandalkan pendapatan dari gaji atau hasil panen. Apabila sungguh kita mau mengambil peran sebagai pembuat saluran pipa yang kaya, aman, nyaman seumur hidup maka pengendalian aru kas (cashflow) sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan. Cash atau kas adalah raja. Hindari pembayaran melalui bon sebab dengan demikian kepastian cashflow bisa terjaga dengan baik. Jangan biarkan masalah cash flow terjadi jika demikian maka bisa-bisa usaha kita bangkrut. Juga diharapkan kita memiliki cash flow projection (proyeksi arus kas usaha kita) dan up date setiap hari.

Mengapa ini penting?? Seperti pepatah bijak mengatakan bahwa ‘...lebih banyak uang tidak akan menyelesaikan masalah, kalau problemnya adalah pengelolaan cash flow’. Pengendalian cash flow menentukan besar –kecil dan untung-ruginya usaha atau bisnis kita. Dalam pendidikan dasar 7 jam, kita telah diperkenalkan bahkan diwajibkan untuk membuat buku kas harian. Melalui buku kas harian menjadi pintu membuka kita mengendalikan arus kas bahkan proyeksi arus kas yang menentukan kemajuan usaha kita untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi hutang yang turun-temurun.

Membangun Karakter Menabung.
Pola pikir kita (hidup pas-pasan) yang keliru bahwa kebiasaan atau budaya menabung itu hanya berlaku jika seseorang mempunyai uang lebih atau ketika menabung harus dengan angka yang besar. Artinya orang yang hidup pas-pasan tidak perlu untuk menabung. Pola pikir seperti ini yang perlu Kopdit Serviam  evaluasi. Menabung itu bisa dilakukan oleh siapapun, apapun profesinya dan di manapun juga. Menabung tidak harus dalam jumlah yang besar tetapi Rp.1000 per hari juga sudah cukup. Apabila itu yang kita lakukan berarti 1 minggu sudah 7,000 rupiah, 1 bulan 30-31,000 dan setahun 365 ribu rupiah, 10 tahun 3,650,000 rupiah dstnya. Tabungan juga bisa menggunakan sarana celengan agar uang yang seribu rupiah per hari tidaklah tercecer atau cepat berubah bentuk menjadi es, ikan tongkol, rokok dan lain sebagainya.

Untuk bisa menjadi penabung yang baik ada trend dalam Koperasi Kredit Serviam Ende yaitu mengajak anggota agar tidak menghitung berapa rupiah sehari yang perlu ditabung melainkan tanyakan dan hitung berapa rupiah yang dihabiskan sehari sebagai pengeluaran. Misalnya perokok surya 12 merokok dua bungkus sehari. 1 bungkus surya 12 diasumsi 8,000 rupiah maka sehari, perokok bersangkutan menghabiskan uang hanya untuk rokok 16,000 rupiah, dalam sebulan menghabiskan 496,000 rupiah, setahun menghabiskan 5,952,000 rupiah. Jika dia merokok 10 tahun berarti 10 x 5,952,000 = 59,520,000. Bayangkan jika perokok tidak merokok dan menginvestasikan uangnya pada koperasi kredit. Itu belum kita hitung bunga simpanan setiap hari x setiap minggu x setiap bulan x setiap tahun x 10 tahun x 20 tahun dstnya. Berapa rupiah kekayaannya ... ?

Mayoritas masyarakat kita bertumpu pada pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan hendaknya melakukan gerakan menabung sebagai investasi untuk meningkatkan kesejahteraannya. Seiring dengan memperkuat budaya hidup hemat dan memulai gerakan menabung tanpa harus menunggu hari esok. Manfaat menabung adalah memiliki asset (kekayaan) yang tidak berkurang jumlahnya melainkan terus bertambah karena pemberian bunga dari koperasi kredit Serviam seperti perhitungan di atas. Manfaat lain adalah mengantisipasi apabila sewaktu-waktu ada kebutuhan yang sangat mendesak memerlukan uang untuk pembiayaan dikala sakit, meninggal dunia, melahirkan, biaya panen, dll. (bdk. A.Suman Kurik, MM; Membangun Ekonomi Kerakyatan; Yogyakarta, 2008)


Penutup

Seperti pepatah bijak mengatakan, ’Soal miskin atau kaya bukanlah nasib melainkan pilihan’. Sudah banyak tawaran bagi kita untuk mulai membangun saluran pipa kehidupan menuju kaya, aman dan nyaman. Semua kita bisa melakukannya. Kapan saatnya? Saya pikir mulai di sini dan saat ini. Aa Gym mengajak kita para aktivis Kopdit Serviam,’ Mulailah dari hal yang kecil, dimulai dari diri sendiri dan dilakukan pada saat ini.’ DIRGAHAYU KOPDIT SERVIAM dalam HUT-nya yang ke-15. Semoga tetap jaya memberdayakan orang-orang Flores menuju tangga kebahagiaan yang lestari secara fisik dan batin. JAYALAH SERVIAM ENDE SELAMANYA .........



Read more...

Selasa, 21 Juli 2009

Review Peralatan Alnect Komputer

Alnect computer Blog Contest

Saya Kosmas Lawa Bagho dulu sangat mengagumi komputer dengan merk lain (tak disebutkan nanti dianggap sebagai pencemaran nama baik suatu produk) yang dibeli kurang lebih 4 tahun lalu. Maklum saya berasal dari daerah kurang memahami produk-produk unggulan elektronik apalagi yang namanya komputer. Komputer dianggap sebagai barang mewah. Namun karena saya bekerja di lembaga keuangan masyarakat (Koperasi Kredit atau Credit Union) maka mau tidak mau harus familiar dan mampu mengoperasikan yang namanya komputer. Pembelian produk tersebut hanya karena omongan teman-teman yang kebetulan tahu sedikit tentang seluk beluk komputer.

Dapatkan hadiah pertama (1stwinner) bagi pemenang pertama!


Meskipun saya masih menggunakan komputer lama namun kini saya lebih mempercayai komputer dengan merk Accesories TV Turner, Webcam yang diangap lebih smart dalam penggunaannya, tidak mudah rewel (maklum hanya tahu mengoperasikannya) serta suku cadang lebih mudah diperoleh di kota kami atau di Surabaya setelah mendapat pembekalan hardware dan software komputer dari seorang ahli. Apalagi sekarang ini lebih dipermudah dengan online Alnect Komputer (alnect net). Saya juga menginformasikan kepada teman-teman segerakan termasuk ke lembaga perguruan tinggi di kota kami, Ende-Flores, NTT.

Secara pribadi, saya berpikir bahwa membeli komputer Accesorries lebih murah, mudah mengoperasikan, tidak mudah rewel, mudah diperbaiki dengan akses suku cadang sangat mudah. Oleh karena itu sejak sekarang saya mengajak teman-teman untuk memanfaatkan Accesorries sebagai teman hidup selain keluarga. Sebab melalui Accesorries, kita bisa menyelesaikan tugas dengan mudah terutama (keuangan), lebih ringan dan mudah mengakses informasi dengan dunia luar. Selamat membeli dan menggunakan komputer dengan merk Accesorries. Bisa hubungi alnet net secara on line. Terima kasih! Alnect Komputer menanti permintaan anda dan siap melayani anda dengan hati dan tepat waktu. Kualitasnya dijamin aman. Segeralah manfaatkan Accesorries .......!

Jangan lupa ikut yuk! Lomba mendapatkan hadiah istimewa dari Alnect Komputer ... buruan tinggal seminggu lagi! Hubungi: info@alnect.net atau sales@alnect.net dan care@alnect.net!
Read more...

Minggu, 05 Juli 2009

Sepenggal Kisah di Koperasi Kredit

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Sejak Mei 1997, saya sudah berkarya di Koperasi Kredit terutama sebagai Karyawan Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo (BENN) yang dulu masih dikenal dengan nama BK3D NTT Barat (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Nusa Tenggara Timur bagian Barat) .


Kantor FSCT Thailand, Bangkok

Saat itu memang masih cukup langka bagi gerakan koperasi kredit di wilayah Ende-Ngada (dan kini Nagekeo, Kabupaten Baru, 2006) bagi seorang jebolan perguruan tinggi untuk menjadi karyawan atau bekerja di koperasi kredit atau Puskopdit.

Ketika itu yang menjadi karyawan ya.. tingkat pendidikan paling tinggi adalah SMA atau SMEA. Apabila ada yang dari Perguruan Tinggi berarti bekerja di koperasi kredit hanya untuk mengisi waktu luang atau sebagai batu loncatan sebelum beralih ke tempat lain yang dianggap lebih layak atau dianggap lebih bergengsi menjadi kebanggaan orangtua kebanyakan di pulau Flores adalah menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai BUMN lainnya.

Secara pribadi, saya merasakan hal itu. Saat awal bekerja di Puskopdit waktu itu BK3D, orang-orang dari kampung saya memandang sebelah mata dan bahkan menganggap saya sebagai warga kelas dua. Sekali peristiwa, seorang bapak dari kampung asal saya sebut saja AG, menginap di rumah kontrakan saya di Ende hendak mengunjungi anaknya di Kupang.

Beliau tiba sore hari. Kami makan minum ala kadarnya dan berbincang ngalor-ngidul maklum sekali-sekali bertemu. Keesokan harinya, saya mempersiapkan diri dan seperti biasa mengenakan pakaian seragam kantor swasta; putih-hitam. Spontan ia menanyakan kepada saya, anak kerja di kantor apa? Saya menjawab, kantor BK3D atau koperasi kredit. Ia diam.

Siang hari, saya pulang kantor ... kami makan siang seperti biasa. Selesai makan, adik-adik saya menyampaikan bahwa saya tidak boleh lagi melayani AG lantaran beliau merendahkan pekerjaan yang sedang saya jalani. Dia bilang, “Saya kira kerja di kantor apa padahal kerjanya di kantor koperasi kredit. Tamat perguruan tinggi termasuk PT terkenal di Flores saat itu (STFK Ledalero, red) lalu bekerja hanya di kantor koperasi kredit”.


Sakit memang hati ini namun saya berusaha menguatkan adik-adik saya yang masih kuliah dengan pernyataan ‘Apapun orang berbicara tentang kita hendaknya kita terima sebagai daya dorong buat kita untuk bekerja lebih baik pada lembaga apa saja. Tidak ada yang kurang jika orang mengeritik atau menganggap remeh dan tidak berlebihan juga jika orang memuji. Semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Harus ada niat dari dalam diri sendiri untuk memberikan segala potensi terbaik sebab barang siapa menabur kebaikan akan menuainya’.

Cerita ini bukan untuk menonjolkan diri tetapi menjadi bagian pengalaman terindah buat saya mengabdi di koperasi kredit pada saat-saat awal terutama pada saat koperasi kredit sedang dalam masa krisis.

Masa Krisis
Paruh waktu 1997 s/d 2000 merupakan masa-masa sulit bagi pertumbuhan dan perkembangan koperasi kredit di wilayah BK3D NTT Barat yang meliputi Kabupaten Ende dan Ngada. Ada banyak koperasi kredit atau credit union yang dimekarkan oleh DELSOS (kini PSE, red) Keuskupan Agung Ende bagai cendawan di musim hujan periode 1970-1980-an, pada saat ini satu per satu gugur tanpa penyelesaian yang positip.

Bukan itu saja. Para karyawan bekerja 4 hari seminggu dan 2 harinya libur untuk mencari makan (saat itu masih bekerja 6 hari dan kini 5 hari dalam seminggu). Gaji staf kurang dari 100 ribu rupiah. Itu pun dibayar secara cicilan 3 x dalam sebulan. Anggota kopdit primer mengajukan pinjaman ke BK3D hanya 10 juta rupiah saja tidak bisa dilayani.

Peristiwa ini menimbulkan luka traumatis yang mendalam bagi masyarakat di 2 kabupaten yakni Kabupaten Ende dan Ngada sebelum mekar dengan Nagekeo. Sehingga tidaklah heran banyak orang tidak lagi percaya dengan koperasi maupun koperasi kredit (credit union).

Bahkan ada banyak plesetan dengan koperasi (kredit) seperti dalam bahasa daerah (kepo ghasi) artinya tidak dapat apa-apa atau ketua untung duluan (kud) dlsbnya. Almarhum penasihat Inkopdit, Bapak Haji Ir. Ibnoe Soedjono memberi nama mati suri.

Saat-saat seperti ini merupakan batu ujian paling sahih bagi seseorang untuk mengabdi di lembaga koperasi kredit dan puskopdit atau lebih dikenal saat itu BK3D. Seperti pepatah kitab suci menulis, ‘Sebuah emas berkualitas harus dimurnikan dalam tanur api’. Demikian militansi dan loyalitas pengabdian kami sedang diuji saat itu.

Masa Konsolidasi

Walaupun terasa berat dan menyesakkan dada namun selalu saja timbul semangat untuk berjuang mengembalikan kejayaan koperasi kredit seperti pernah dialami pada tahun 1970-1990-an awal. Sesungguhnya koperasi kredit atau credit union dari segi kelembagaan an sich maupun visi-misi ataupun rohnya tidak ada yang salah namun kesalahan itu lebih terletak pada mis-management.

Tidak ada yang patut dipersalahkan dalam kasus ini. Semuanya dilihat dalam kerangka membangun kembali rasa ketidakpercayaan anggota atau masyarakat terhadap cikal bakal koperasi kredit sebagai jembatan meretas kemiskinan, kemelaratan dan keterbelengguan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Masa ini lebih dikenal dengan masa konsolidasi dan reposisi keanggotaan dengan tuntutan kriteria yang mengikat seperti anggota individu minimal 1000, kekayaan minimal 1 M, menggunakan sistem komputerisasi, memiliki manajer, memiliki kantor baik milik sendiri atau sewa dan setiap tahun harus menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan.


Masa Konsolidasi Organisasi dan Reposisi Keanggotaan dimulai sejak tahun 2002 dan finalnya tahun 2008 yang selanjutnya tahap pertumbuhan dan perkembangan. Sejak diterapkannya aturan ini, koperasi kredit-koperasi kredit di wilayah Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo seakan bangkit dari tidur panjang atau mati suri.

Setelelah masa konsolidasi, mulai tampil banyak koperasi kredit yang beranggotakan 1000 orang dan memiliki asset 1 M yang tahun 2000 ke bawah dianggap sebagai sesuatu yang mustahil.Ternyata jika ada tekad, kerja keras dan kerja cerdas, semuanya bisa diraih. Atau pinjam istilah Andrie Wongso, pakar motivator nasional pernah menulis, ‘Memang punya tekad bukan segala-galanya, tetapi tanpa tekad tidak mungkin ada segalanya’.

Masa Pertumbuhan dan Perkembangan
Tiga pilar koperasi kredit: swadaya, pendidikan dan solidaritas seolah menjadi perekat untuk memajukan koperasi kredit meski badai krisis ketidakpercayaan anggota apalagi masyarakat terus menderanya. Perjuangan yang disertai dengan pengorbanan nan tulus akhirnya menuai hasil yang berlipat ganda.

Siapa pernah menyangka koperasi kredit di wilayah ini bisa bangkit dan mekar begitu indahnya. Kini koperasi kredit bagaikan gadis cantik yang sedang laris dilirik oleh banyak orang. Per Juni 2009, pertumbuhan anggota: 52 ribu lebih, simpanan saham: Rp. 127 M lebih, simpanan non saham: Rp. 56 M lebih, pinjaman beredar: Rp. 192 M lebih dan kekayaan: Rp. 225 M lebih.

Yang menarik lagi apabila Puskopdit dan koperasi kredit mau merekrut pegawai baru ada banyak antrian lamaran dari berbagai disiplin ilmu dari berbagai perguruan tinggi melamar menjadi karyawan koperasi kredit. Jika saya melihat kenyataan ini ada rasa haru dan bangga bahkan ada perasaan menangis bahagia di dalam hati kecil. Seolah-olah ada mujizat Tuhan telah terjadi dalam gerakan koperasi kredit.

Ini bukan prestasi satu dua orang tetapi semua orang yang berkehendak baik. Semua orang terakses berbagai kebutuhan akan keuangan dan para staf ataupun karyawan Kopdit dan Puskopdit seolah mendapatkan jaminan masa depan yang layak sebagaimana orang-orang berprofesi lainnya. Para orangtua mulai bangga dan percaya diri jika ada anaknya bekerja di koperasi kredit atau puskopdit.

Tidak nampak lagi nada penyesalan atau perasaan negatif lainnya. Para orangtua bersangkutan bisa bercerita dengan antusias tentang pekerjaan anaknya ataupun ia sendiri menjadi anggota koperasi kredit. Lebihnya lagi sekarang ini para staf atau karyawan bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dirinya baik di tingkat lokal, nasional bahkan di tingkat asia.

Saya pribadi sangat berterima kasih kepada koperasi kredit karena bisa mengalami peristiwa berahmat mengembangkan kemampuan sambil jalan-jalan di beberapa kota besar di Indonesia dan dua kali ke Thailand, Bangkok. Apabila saya tidak bertahan di koperasi kredit (Puskopdit) jangankan ke Thailand, mengunjungi daerah lain di Indonesia seperti Lampung, Pontianak, Medan (sempat mandi di Danau Toba-Samosir), Jakarta, Jogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar dan Kupang sekalipun dengan biaya organisasi rasa-rasanya hanyalah sebuah mimpi.

Kopdit/Puskopdit Masa Depan
Berangkat dari pengalaman nyata yang pernah dirasakan baik suka maupun duka maka diharapkan ke depan koperasi kredit atau Puskopdit dan jaringannya hendaknya dikelola secara sungguh-sungguh dan serius dengan tetap berpedoman pada tiga pilarnya; swadaya, pendidikan dan solidaritas. Tidak ada lagi tunggu waktu luang setelah bekerja di tempat lain. Perlu pembedaan yang jelas antara pengurus sebagai penetap pola kebijakan dan manajemen sebagai pelaksana operasional yang didukung dengan kontrol yang konstruktif dari pengawas yang berkemampuan secara intelektual dan moralitas.

Sistem perekrutan staf atau karyawan perlu dilakukan secara transparan dan selektif sesuai mekanisme perekrutan perusahaan modern. Tidak ada lagi staf atau manajer titipan. Menduduki suatu posisi baik dalam kepengurusan terutama dalam manajemen tidak lagi bergantung pada kemauan atau katabelece satu dua orang tetapi berpedoman pada kemampuan dan kinerja yang dimiliki.

Koperasi kredit atau puskopdit perlu dikembangkan sesuai perkembangan lembaga keuangan lainnya. Apalagi sekarang ini ada soft-ware yang memungkinkan lembaga Koperasi Kredit atau Puskopdit dan Inkopdit dapat melakukan transaksi on-line serta ATM dengan program SIKOPDIT CS.

Profesionalisme pengelolaan yang ber-branding bukan lagi hal tabu bagi gerakan koperasi kredit. Hendaknya kita menjaga lembaga ini akan tetap tumbuh dan berkembang secara profesional sampai generasi anak cucu dengan meningkatkan SDM manajemen, pengurus, pengawas dan seluruh anggota.

Pengembangan SDM seluruh komponen yang terlibat dalam gerakan koperasi kredit dari primer sampai tingkat atasnya serta network yang produktif menjadi salah satu titik kunci keberhasilan koperasi kredit masa depan dan mati hidupnya masa depan koperasi kredit.

Penutup
Demikian satu dua pengalaman saya berkarya di koperasi kredit tanpa ada tendensi memegahkan diri. Ada suka dukanya. Awalnya lebih banyak dukanya namun akhirnya bisa menikmati dengan suka cita. Memiliki jaminan masa depan namun terutama lebih banyak orang terbantu dengan kehadiran koperasi kredit yang dikelola secara sungguh-sungguh.

Dulu koperasi kredit hanya mampu menampung uang anggota paling tinggi 3-5 juta rupiah dan biasanya dilemparkan juga kepada anggota dengan jumlah berkisar demikian namun kini ada banyak koperasi kredit yang bisa menampung simpanan saham dan non saham sampai ratusan jutaan rupiah dan juga melemparkan pinjaman dengan plafon perorangan bisa ratusan juta rupiah tergantung kemampuan pengembalian dan potensi (prospek) usahanya.

Koperasi kredit menjadi jalan tol menuju tangga kesejahteraan bagi orang yang langsung berpartisipasi di dalamnya sebab pepatah China mengatakan, ’Saya dengar, saya lupa, saya lihat dan saya ingat namun jika saya melaksanakan maka saya mengerti.’ Bravo koperasi kredit. Terus maju memberdayakan masyarakat terutama masyarakat yang berkekurangan secara ekonomis, sosial-budaya dan politik.

Pernah dimuat di HU Flores Pos, 13 Juli 2009


Read more...

Pelatihan Master Auditor di Thailand

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Pelatihan Master Auditor Accesbranding Koperasi Kredit Skala Asia diikuti oleh peserta dari 9 negara utusan anggota ACCU-Bangkok serta dari staf pemerintah Kementerian Koperasi Thailand. Pelatihan yang dikenal dengan nama Accesbranding Master Auditors Training dihadiri utusan dari Philipina 6 orang, Indonesia 4 orang, Srilanka 3 orang, Bangladesh 2 orang, Nepal 2 orang, Mongolia 2 orang, Myanmar 1 orang, Laos 1 orang, Pakistan 1 orang, Rusia 1 orang, Thailand 7 orang, Kementrian Thailand 2 orang serta utusan ACCU 2 orang, 2 fasilitator dan 4 mentor. Total peserta sertifikasi 40 orang. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 25-31 Januari 2009.

Ke-4 utusan dari Indonesia adalah Bapak Antonius Suharyono Daud-Inkopdit Jakarta, Bapak F.X. Ari Setiawan-Inkopdit Jakarta (keduanya mendapat beasiswa dalam pelatihan ini), Bapak F.X. Sri Haryadi-Kopdit Keling Kumang, Kalimantan Barat dan Bapak Kosmas Lawa Bagho (penulis) utusan Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo, Flores-NTT (dengan biaya sendiri dari lembaga masing-masing).

Para petinggi gerakan yang hadir adalah Ms. Supatra Thanaseniwat (Pimpinan Umum Departemen Promosi Koperasi Negeri Thailand), Mr. Steven Rheault-Kihira (Duta Besar Kanada), Mr. Joris Geeven (Sekretaris 2 Seksi Ekonomi Duta Besar Belanda), Dr. Amporn Wattanavongs (Direktur Eksekutif FORDEC: Foundation for Rehabilitation & Development of Children and Family), Mr. Suriya Montripak (Bendahara ACCU & Ketua Pengurus CULT: Credit Union League of Thailand), Mr. Chalermpol Dulsamphant (Ketua Pengurus FSCT: Federation of Savings & Credit Cooperatives of Thailand), Mr. Supachai Srisupaaksorn (Ketua Pengurus Koperasi Kredit Klongchan) dan Mr. Ranjith Hettiarachchi (General Manajer ACCU: Association of Asian Confederation of Credit Unions).

Mr. Ranjith Hettiarachchi dalam laporan pembukaanya mengemukan bahwa isu kritis yang sedang menjadi perhatian di negara masing-masing saat ini adalah isu kemiskinan. Kehadiran Koperasi kredit atau Credit Union yang melandaskan kegiatannya pada pola pemberdayaan dan filosofi pendidikan, kemandirian dan solidaritas didesain khusus untuk melawan kemiskinan, kemelaratan dan keterbelengguan masyarakat.

Oleh karena itu koperasi kredit atau credit union harus tampil di tengah kompetisi kemiskinan masyarakat dan harus menjadi pemenang. Untuk menjadi pemenang dalam kompetisi yang super ketat itu, menurut Ranjith, CEO ACCU-Bangkok hendaknya koperasi kredit memiliki kelembagaan yang kuat dan menciptakan variasi produk yang unggul. Kelembagaan yang kuat dan produk yang unggul dengan brand-desaigned yang jitu harus ada alat ukurnya yang standar. Dan alat ukur yang standar bagi kualitas kelembagaan koperasi kredit ASIA adalah ACCESBRANDING.

Accesbranding memiliki keunggulan tersendiri dari alat ukur PEARLS-WOCCU. Sebab PEARLS hanya mengukur citra koperasi kredit dari perspektif keuangan saja sementara Accesbranding mencakup 4 perspektif yakni keuangan (PEARLS), perspektif kualitas produk dan pelayanan, perspektif kepuasan anggota serta perspektif pendidikan dan pembelajaran

Yang menarik bagi saya pribadi bahwa kehadiran seorang petinggi dari Kementrian Koperasi Thailand pada acara dimaksud serta mengirimkan 2 stafnya mengikuti pelatihan secara langsung bersama peserta lainnya agar mereka bisa memahami seluk-beluk perkoperasian kredit terutama menyangkut Accesbranding sebuah alat diagnosis standar koperasi kredit Asia termasuk Thailand.

Dengan demikian menjadi masukan berharga dalam pembuatan peraturan atau UU koperasi sesuai kebutuhan yang terjadi di tingkat akar rumput. Memang Thailand bisa menjadi tempat studi banding bagi departemen atau kementrian koperasi kita khususnya menyangkut kerja sama dengan koperasi kredit secara nasional. Pemerintah Thailand (Departemen Koperasi) senantiasa memperlakukan koperasi jenis apa pun sama dihadapan pemerintah dan hukum sehingga tidaklah heran kerjasama lintas sektor menjadikan Thailand berkembang pesat proses pengembangan koperasi termasuk koperasi kredit baik yang dikoordinir pemerintah terutama yang lahir dari inisiatif masyarakat sendiri.


Ke-4 peserta dari Indonesia bersama Mr. Ranjith & Ms. Lenny

Pemerintah kita juga sudah sangat kondusif namun terkadang belum sejalan bahkan mungkin bisa saja dalam hal tertentu seolah-olah berseberangan padahal kita berupaya membebaskan kemiskinan dari masyarakat Indonesia yang sama. Koperasi kredit selalu mengutamakan pemberdayaan yang berpedoman pada keswadayaan, pendidikan dan solidaritas sementara pemerintah (maaf) kadang-kadang lebih mengutamakan program memberikan bantuan (Bantuan Tunai Langsung, misalnya).


Accesbranding: Alat diagnosis untuk standarisasi pengelolaan koperasi kredit Asia
Ranjith Hettiarachchi sekali lagi menekankan perlunya suatu standarisasi pengelolaan koperasi kredit menuju koperasi kredit yang unggul, sehat, kuat dan aman di tengah kompetisi pasar global. Koperasi kredit harus tampil unggul sebagai salah satu wadah pembebesan dan pemberdayaan masyarakat miskin.

Seperti yang telah diketahui umum bahwa Accesbranding memuat empat komponen penting sebagai batu pijakan pemeringkatan sebuah organisasi koperasi kredit menuju besar, kuat, sehat dan aman (safety and soundness) yakni Perspektif Keuangan (Financial Perspective), Perspektif Anggota (Customer/Member Perspective), Perspektif Internal Bisnis (Internal Business Processes Perspective), Pendidikan dan Pembelajaran (Knowledge and Learning Perspective).

Selama seminggu kami menggumuli dan menggeluti secara lebih mendalam Accesbranding dengan 4 perspektif. Kami mengulitinya satu per satu ditambah dengan kunjungan lapangan dan sharing best-practice bagi koperasi kredit yang telah menerapkan acces dan mengikuti penilaian tingkat ASIA.

Dari sharing penglaman didapat suatu kesimpulan bahwa untuk koperasi kredit di Philipina dan Thailand tidak bermasalah pada 3 perspektif (Internal Bisnis, Pendidikan dan Pembelajaran serta Kepuasan Anggota) sementara untuk di India masih mengalami 4 perspektif. Perspektif kuangan masih menjadi titik kritis terutama menyangkut kelalaian kecuali Kopdit Klongchan Thailand yang tingkat kelalaian menurut PAR (Portofolio at Risk)-nya 0,05%.

Menurut pengakuan kepala bidang audit Kopdit Klongchan bahwa mereka getol melakukan penagihan dari rumah ke rumah serta pendidikan kelompok dengan memperbanyak petugas lapangan yang kapabel. Petugas lapangan 80% ada di tengah anggota dan simpatisan koperasi kredit bukan sebaliknya.

Format Accesbranding kali ini sudah lebih lengkap dan praktis sehingga memudahkan para fungsionaris koperasi kredit di Asia bisa menerapkannya di kopditnya sesuai format yang telah disediakan. Dengan demikian diharapkan koperasi kredit Indonesia juga siap berprestasi skala Asia bersama 3 segi tiga emasnya ACCU-Bangkok yakni Korea Selatan, Thailand dan Philipina.

Untuk Inkopdit sudah memiliki Buku RUPIAH EMAS yang disumbangkan oleh Bapak Drs. Theofilus Woghe dari Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo dan terjemahan Manual Accesbranding dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Bapak FX. Ari Setiawan. Untuk Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo sendiri sudah coba mempraktekkannya walaupun belum sempurna dan fokus setelah mendapat fasilitasi dari tenaga-tenaga handal Lembaga MICRA-Jakarta serta Ibu Theresia Multi,cs.

Sebagai auditor accesbranding yang berskala Asia maka hendaknya auditor membekali diri selain pengatahuan dan ketrampilan tetapi juga kode etik dalam keseluruhan audit seperti apa yang diungkapkan harus benar secara objektif dan dapat dipercaya, memilikit integritas yang tidak semu atau munafik, independen dan netral dari segala godaan dan kepentingan, dapat menjaga kerahasiaan serta bersikap profesional.

Apabila hal ini dilakukan sungguh-sungguh oleh auditor maka segala opini dan hasil audit tidak akan mendapatkan pengeluhan ataupun pengaduan. Lebih dari itu bahwa koperasi kredit kita mengarahkan diri kepada pengelolaan yang profesional dengan standar yang akurat, jelas dan objektif.

Kunjungan Lapangan
Para peserta berkesempatan mengunjungi Kantor FSCT (The Federation of Savings and Credit Cooperatives of Thailand Limited), Kopdit Klongchan dan CULT (Credit Union League of Thailand Limeted). Salah satu daya tarik tersendiri bagi saya pribadi adalah ketika kami mengadakan kunjungan lapangan ke kantor CULT dengan program unggulan terbaru untuk meningkatkan wirausaha anggota adalah dengan menerbitkan website (www.e-coop.cultthai.coop) yang memuat lengkap siapa mereka, apa yang mereka kerjakan, tujuan website ini dan apa kemampuan web.

Diceritakan bahwa selama kurang lebih 150 tahun, credit union atau koperasi kredit di seluruh dunia menyediakan akses bagi masyarakat terutama yang tidak mendapat akses terhadap lembaga keuangan resmi. Akses dana terutama menyiapkan pinjaman mikro untuk meningkatkan wirausaha kecil agar mampu mendongkrak pendapatan keluarga dan lingkungannya. Di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi, para wirausaha koperasi kredit membutuhkan suport atau dukungan untuk melink (a more sustainable linkage) dengan pasar.

Web E-coop (Electronic Cooperarative) menyediakan sebuah platform bagi pengusaha mikro koperasi kredit agar berbagai produk usahanya yang paling bagus bisa mencapai tingkat pasar global. E-Coop merupakan hasil kerjasama ACCU (Association of Asian Confederation of Credit Unions) dan CULT (Credit Union League of Thailand) menjadikan para pengusaha koperasi kredit dan berbagai desain produknya bisa sejajar dengan produk lain di persaingan pasar global.

Produk-produk yang ditampilkan dalam web ini hendaknya hasil seleksi berdasarkan mutu dan kualitas kemasan dari berbagai koperasi kredit di Asia serta hasil karya unik dari berbagai kampung di negara Asia. Semua kita bisa mengakses dalam web ini dengan semboyan mereka,’ E-Coop, Global Market For All: Come and Join Us Now! (E-Coop, Pasar Global untuk Semua: Datang dan Bergabung Bersama Kami Sekarang!).

Dengan bergabung ataupun kita membeli berbagai produk berkualitas demikian, kita diharapkan bisa membantu ribuan pengusaha kecil (small entreprenuers) untuk meningkatkan keswadayaan keuangan (financial independence) untuk mengurangi kemiskinan masyarakat pada tahun 2015.

Tujuan E- Coop adalah mempercepat pertambahan dan pertumbuhan para pedagang dan enterpreunir di dalam koperasi kredit, mengembangkan pendapatan ekonomi bagi para anggota koperasi kredit, keluarganya dan masyarakat di lingkungannya serta meningkatkan kesadaran jiwa berdagang (wirausaha) untuk membangun kemandirian ekonomi sedangkan kemampuan web ini adalah mempromosikan produk dan pelayanan koperasi kredit, transaksi pasar melalui kartu kredit, sharing gagasan dan update informasi on-line dan pameran produk yang bervariasi. Bisa menghubungi (www.cultthai.coop atau email : cult@cultthai.coop).

Acara Penutupan & Action Plan
Kami berempat membuat satu action plan untuk dijalankan secara bersama tentu dikoordinir tingkat Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Jakarta. Tidaklah muluk-muluk disesuaikan dengan kondisi kepulauan dan daerah berjauhan koperasi kredit di negeri kita, Indonesia tercinta. Acapkali biaya pelatihan atau kegiatan itu sendiri lebih murah ketimbang biaya transportasi.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para master auditor accesbranding kelahiran pelatihan di Bangkok, Thailand tanggal 25-31 Januari 2009. Mister Ranjith berulang-ulang menekankan bahwa ‘... anda sekalian adalah master auditor. Oleh karenanya dalam memberikan rekomendasi hendaknya menunjukkan kualitasnya tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Tidak terlalu penting anda memberikan rekomendasi tetapi apa yang anda lakukan dengan rekomendasi yang anda berikan sebab rekomendasi itu gampang dan mudah dibuat oleh semua orang (auditor & pengawas) tanpa pelatihan master auditor accesbranding di Bangkok ini. Apa nilai lebih (selling point) anda sebagai master auditor ???’

Dimuat pada Buletin BK3 Jakarta, edisi II; April-Juni 2009


Read more...

Selasa, 30 Juni 2009

Membangun Jiwa Wirausaha Anggota

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Demikianlah tema sentral Rapat Anggota Tahunan ke-15 Tahun Buku 2008 Koperasi Kredit Serviam Ende di Aula Marinus Krol Paroki Onekore tanggal 08 Februari 2009 lalu. Tema ini mau menggugah kurang lebih 1000 anggota yang hadir serta puluhan undangan dalam rangka membudayakan jiwa enterpreunership (wirausaha) untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga dan seluruh masyarakat Kabupaten Ende serta menjawabi keluhan mayoritas anggota akan kekurangan naluri untuk membangun usaha sendiri.

Para undangan yang hadir adalah Drs. Abdul Syukur, Kepala Dinas Koperasi & UKM Kabupaten Ende, Drs. Mikhael H. Jawa, Manajer Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo, Sr. Kristofora, OSU Ketua Yayasan Nusa Taruni Bhakti Santa Ursula Ende, Drs. Lukas Lege, Anggota DPRD Kabupaten Ende periode 1999-2004. Semua peserta yang hadir larut dalam perayaan demokrasi paling nyata koperasi kredit.

Koperasi Kredit Serviam yang dipelopori oleh beberapa anak muda di lingkungan Yayasan Nusa Taruni Bakhti pada tanggal 09 Januari 1993 untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan para guru, dosen dan karyawan yayasan akibat gempa bumi 12 Desember 1992 dengan anggota awal 27 orang dan modal Rp. 607 ribu memiliki kemauan kuat untuk berkompetisi dengan lembaga keuangan lain secara elegan dan manusiawi.

Tak pernah disangka bahwa dalam rentang waktu 15 tahun, Koperasi Kredit ini menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang cukup signifikan untuk membantu meminimalisir kemiskinan yang senantiasa melilit sebagian besar masyarakat Flores terutama masyarakat Kabupaten Ende dan sekitarnya.

Meskipun patut diakui bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan lebih progresif ke depan seperti kualitas anggota, kredit bermasalah, kurangnya jiwa wirausaha dll namun Kopdit Serviam pada Tahun Buku 2008 mendapat berbagai prestasi karena keterlibatan dan kerjasama yang saling menguntungkan dari semua pihak.

Tahun ini Kopdit Serviam mendapatkan penghargaan monumental dari Pemerintah Kabupaten Ende yang diterima pada tanggal 14 Juli 2008 di Aula BBK Ende sebagai Koperasi Berpretasi Terbaik 1 Tingkat Kabupaten Ende untuk Jenis Koperasi Simpan-Pinjam serta memperoleh apresiasi positif dari jaringan Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo sebagai salah satu koperasi kredit yang mampu merealisasi target pencapian memenuhi 1000 anggota. Tahun 2008, Kopdit Serviam memiliki kekayaan Rp. 3,6 M naik sekitar 1,5 M dari tahun buku 2007.

Syukur kepada Tuhan bahwa kerinduan 1,046 anggota dan seluruh fungsionaris untuk mendapatkan seorang manajer sebagai penanggungjawab operasional demi menjawabi kebutuhan pelayanan anggota yang semakin banyak juga dapat diraih berkat kerja keras pengurus dan tangan-tangan terulur lainnya.

Berdasarkan suara sepakat Pengurus pada rapatnya tanggal 17 Desember 2008 dan Rapat Gabungan tanggal 22 Desember 2008 telah mengangkat Saudari Ermelinda Ani, SE yang sebelumnya sebagai Act. Manajer terhitung mulai tanggal 02 Januari 2009 menjadi manajer dengan pelimpahan wewenang dan kewajiban yang lebih luas untuk lebih memajukan koperasi kredit Serviam ke arah yang lebih besar, kuat, sehat, aman dan profesional.

Memang tingkat keberhasilan sebuah koperasi kredit tidak hanya diukur dengan indikator-indikator di atas. Namun paling kurang tingkat keberhasilan kecil-kecilan ini semakin memotivasi seluruh anggota dan fungsionaris untuk meraih impian yang lebih besar.


 Mengenakan Tenunan Daerah Flores di Forum Kopdit Asia

Robert T. Kiyosaki, warga keturunan Jepang (Asia) yang menjadi salah seorang terkaya di Amerika Serikat pernah menulis, “Besar kecilnya seseorang sangat bergantung pada impiannya. Orang besar mempunyai impian besar sedangkan orang kecil memiliki impian kecil. Jika (anda) koperasi kredit mau berubah ke arah yang lebih besar maka hendaknya mulailah dengan mengubah ukuran impian. Banyak orang miskin berada dalam keadaan miskin karena mereka telah berhenti bermimpi.”

Setelah koperasi kredit berjuang sekian lama, apakah para aktivis kopdit ini sudah puas dan tidak lagi memiliki impian ? Ataukah seperti Martin Luther King ... tetap memiliki impian (i have a dream) untuk lebih besar meski harus berhadapan dengan terpaan angin taupan tantangan dan bencana banjir kegagalan dalam perjalanan kopdit selama 15 tahun terutama pada tahun buku 2008.

Walaupun demikian Robert T. Kiyosaki memberikan wanti-wanti tentang 5 tipe pemimpi :
Pertama: Tipe pemimpi yang bermimpi di masa lampau meski ia sudah berada pada masa kini. Pemimpi jenis ini selalau mengidolakan dan mengenangkan masa-masa romantis pada masa lalu. Terkadang mereka bertindak tetap seperti anak kecil walaupun usianya sudah dewasa. Hidupnya berorientasi dan berkiblat pada masa lalu. Susah dan tidak mau berubah. Seseorang yang bermimpi tentang masa lampau adalah orang yang hidupnya sudah berakhir. Orang seperti ini perlu menciptakan impian di masa depan agar kembali hidup.

Kedua: Pemimpi yang hanya memimpikan impian kecil. Jenis pemimpi ini akan memimpikan impian-impian kecil karena mereka ingin merasa yakin mereka dapat mencapainya. Yang ini sudah baik untuk apa mau diubah lagi. Pemimpi jenis ini terkadang yang paling berbahaya. Hidup mereka seperti kura-kura, makan dan minum dalam ruangan yang tenang tanpa terusik berbagai peluang kemajuan yang lebih besar dan tetap diam di tempat tidak pernah pergi kemana-mana.

Ketiga: Pemimpi yang telah mencapai impian dan belum menentukan impian baru. Jenis pemimpi seperti ini ketika telah mencapai satu impian mulai merasa bosan dan frustrasi. Mereka tidak berani lagi menentukan impian atau petualangan baru karena takut gagal dan takut dikritik atau pun takut prestise pribadinya luntur apalagi sampai hilang.

Keempat: Pemimpi yang mempunyai impian besar tetapi tidak mempunyai rencana bagaimana mencapainya sehingga tidak mencapai apa-apa. Mereka hanya mampu bermimpi besar tetapi tidak memiliki kemauan untuk mewujudkannya. Semua impian hanya tinggal impian sambil terus berangan-angan untuk merubah hidup ke arah yang lebih baik.

Orang yang banyak rencana tetapi tidak berusaha untuk melakukannya. Biasanya mereka membuat aturan tetapi enggan mentaatinya dalam tindakan nyata. Terkadang orang-orang jenis ini banyak omong dan banyak memberikan kritik tetapi tidak mau dan tidak mampu melakukan sesuatu atau bahkan tidak memberikan teladan yang baik dan positif.

Kelima: Pemimpi yang mempunyai impian besar, mencapai impian dan terus mempunyai impian yang lebih besar lagi. Tidak pernah berhenti dan terus-menerus memiliki impian baru setelah berjuang keras mencapainya.

Untuk menjadi pemimpi jenis ke-5 tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh komitmen atau spiritualitas yang kuat dan pengorbanan yang tidaklah kecil. Akan tetapi tidak berarti tidak bisa. Ada banyak contoh di negara Asia lainnya seperti Korea Selatan, Jepang, Philipina dan Thailand. Mengacu pada pengembangan Koperasi Kredit/Credit Union di Thailand, saya melihat ada suatu spirit jenis pemimpi ke 5 ini.


Umumnya mereka menyadari bahwa gerakan koperasi kredit atau credit union adalah lembaga yang berorientasi dan memberdayakan orang-orang miskin tetapi bukan lembaga orang-orang miskin. Mereka menyiapkan dana keberlanjutan untuk membangun gedung kantor bertingkat mulai tingkat 2 sampai tingkat 8, dana pengembangan SDM dan IT untuk profesionalisasi pelayanan serta pengembangan wirausaha termasuk pemasaran produk anggota, dana pengembangan masyarakat sebagai realisasi tanggungjawab sosial, gaji karyawan serta untuk deviden.

Yang mengherankan saya bahwa Kopdit atau Credit Union di Philipina maupun Thailand tidak lagi terlalu memperhatikan deviden namun yang penting koperasi kredit/credit union mengakses dana secara mudah untuk peningkatan usaha anggota. Kopdit Serviam tidak mengadopsi secara membabi buta tetapi mungkin bisa mengadaptasi secara kritis-rasional menuju profesionalisasi pelayanan pada masa yang akan datang sebagai lembaga keuangan alternatif bagi masyarakat untuk membangun kualitas kesejahteraannya.

Semua yang telah bergabung dalam rumah besar (sao’ meze) Koperasi Kredit Serviam merupakan para pemimpi tipe ke-5. Memiliki impian besar dan berjuang meraihnya serta terus berikhtiar untuk memiliki impian yang lebih besar lagi. Sebab keberhasilan yang telah dicapai selama ini belum seberapa jika dibandingkan dengan koperasi kredit lain ataupun lembaga keuangan lain, bank misalnya. Oleh karena itu, tipe pemimpi 1-4 tentu bukanlah pilihan yang cerdas.



Read more...

Minggu, 21 Juni 2009

Koperasi Kredit Terbaik Tahun 2008

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Suatu berkat Tuhan bagi perjalanan Koperasi Kredit (Credit Union) Serviam Ende-Flores-Nusa Tenggara Timur memasuki usia yang ke-15 (dibentuk 09 Januari 1993) meraih penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Ende sebagai Koperasi Terbaik Jenis Simpan Pinjam pada perayaan HUT ke-61 Koperasi Tingkat Kabupaten Ende pada tanggal 14 Juli 2008.

Memang sedikit mengejutkan bagi fungsionaris dan anggota Kopdit Serviam walaupun dalam penilaian menurut Dinas Koperasi & PKM Kabupaten Ende selama 3 tahun berturut-turut (2006-2008) selalu mendapat predikat SEHAT dengan nilai 88. Walaupun sedikit terkejut dengan penghargaan yang diterima namun pengurus berjanji bahwa penghargaan dapat memotivasi anggota dan seluruh fungsionaris bekerja lebih serius yang mengarahkan Koperasi Kredit Serviam ke arah pengelolaan profesional tahun 2012 agar bisa mewujudkan visi dan misinya menyejahterakan anggota dan masyarakat Kabupaten Ende.

“Penghargaan ini sebagai prestasi dan juga tantangan bagi anggota dan pengurus untuk bekerja lebih optimal ke depan” kata Ketua Kopdit, Kosmas Lawa Bagho ketika diwawancarai Flores Pos, sebuah media lokal Flores pada tanggal 17 Juli 2008.

Yang hadir dalam penerimaan Sertifikat Penghargaan dengan uang Rp. 1,000,000 adalah Kosmas Lawa Bagho sebagai ketua mewakili unsur pengurus serta David Sola mewakili pengawas dan Lambertus Liki Mare mewakili manajemen.

Koperasi Kredit Serviam dibentuk pada tanggal 09 Januari 1993 di lingkungan Yayasan Nusa Taruni Bhakti Ordo Susteran Ursulin mendapat badan hukum sebagai legalitas formal dari pemerintah pada tanggal 08 Juli 2006 dengan nomor: 02/BH/DKPKM/VII/2006. Sejak awal pendiriannya, Kopdit Serviam sangat komit pada asas swadaya atau kemandirian.

Unsur kemandirian ini ditunjukkan dengan tidak menerima bantuan modal dari siapapun untuk penguatan modal. Kopdit Serviam mengandalkan anggota sebagai pemodal utama. Yang diterima: bantuan pengembangan SDM dan pengadaan fasilitas.

Koperasi kredit yang baru melaksanakan RAT Tahun Buku 2007, tanggal 03 Pebruari 2008 memiliki rencana stratejik 3 tahun yang berfokus pada pengembangan anggota dan asset sebagai berikut :
Tahun      Anggota          Asset
2008        1000            3,500,000,000
2009        1500            5,000,000,000
2010        2000            6,500,000,000

Direncanakan juga Bulan Januari 2010, pengurus melaunching buku yang berjudul ‘KOPDIT SERVIAM ENDE DAN KEMISKINAN MASYARAKAT FLORES’ dalam rangka merayakan 15 tahun berkiprah di Kabupaten Ende serta promosi koperasi kredit melalui ungkapan pengalaman seluruh anggota, simpatisan dan fungsionaris.

Saat ini Koperasi Kredit yang berkantor pada jalur utama kota Ende, Jl, Eltari dengan luas kantornya 552m2 itu melemparkan berbagai variasi produk simpanan, pinjaman dan program pendidikan. Ada produk simpanan yang lazim seperti simpanan saham (simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan kapitalisasi) juga simpanan non saham seperti: Sibuhar (Simpanan Bunga Harian, SISUKA (Simpanan Sukarela Berjangka: 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan), Siwajar (Simpanan Wajib Belajar) sebagai pendidikan nilai menabung pada anak-anak sejak usia dini.

Kini sedang menjajaki anak-anak usia Sekolah Dasar pada KUB (Komunitas Umat Basis: Kelompok Doa Katolik,red), SIPENDIK (Simpanan Pendidikan) sebagai persiapan kelanjutan sekolah di Perguruan Tinggi. Simpanan ini untuk meminimalisir masalah orang tua tentang permasalahan biaya keuangan sekolah terutama di Perguruan Tinggi.

SIAGAM (Simpanan Ziarah Keagamaan): simpanan untuk mengantisipasi biaya kegiatan keagamaan sesuai iman dan agama anggota seperti naik haji, sunatan, ziarah ke Gua Lordes, permandian, sambut baru dll, SIMAPAN (Simpanan Investasi Masa Depan). Jenis simpanan untuk masa pensiun bagi semua anggota dari berbagai latar belakang pekerjaan. Simpanan Investasi Masa Depan  juga ingin merubah anggapan bahwa yang punya dana pensiunan hanyalah PNS, TNI dan POLRI.

Simpanan jenis ini sekaligus mau mengubah mindset masyarakat Flores untuk tidak hanya mengandalkan pekerjaan PNS sebagai pekerjaan yang kaya, aman dan nyaman. Pekerjaan boleh beda tetapi pencapaian kesejahteraan sama. Jalan boleh beda tetapi dermaga kehidupan yang dicita-citakan sama yakni SEJAHTERA LAHIR & BATIN. Sementara Produk pinjaman seperti pinjaman umum, pinjaman investasi dan pinjaman microfinance sedangkan produk pendidikan: Pendidikan Dasar 7 Jam, pendidikan spesialisasi, pendidikan internal fungsionaris, pendidikan kelompok, pendidikan wirausaha anggota (prioritas perempuan) dan pendidikan khusus anggota anak-anak.

Pemberdayaan Kaum Perempuan (Gender)

Semua produk pendidikan mau mengajak anggota sadar, bertanggungjawab dan fanatik dengan koperasi kredit. Kini sedang dikembangkan setelah pendidikan diikuti dengan sumpah/janji setia yang menyatakan bahwa setiap anggota bertanggungjawab terhadap pertumbuhan, perkembangan dan keberlanjutan koperasi kredit, berikrar setia mengikuti pendidikan, simpan teratur, pinjam bijaksana dan angsur tepat waktu terhadap kopdit serta menjauhkan sikap-sikap yang merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan koperasi kredit Serviam. Janji adalah komitmen yang patut diwujudnyatakan dalam kata dan tindakan nyata. TIDAK MAIN-MAIN MENJADI ANGGOTA KOPDIT SERVIAM ….

Pertumbuhan dan Perkembangan Kopdit Serviam dalam Statistik:
(dalam ribuan kecuali anggota) 
                    2005          2006          2007           April 2009
Anggota    251 org     424 org         584 org       1.205 org
Saham      576,781     861,882      1,209,793      2,503,098
Non Shm  241,649    346,918         600,643      1,540,778
P Anggt.   612,538     903,733      1,288,169      3,128,416
Pendptan 120,841     137,529          186,830        222,658
Biaya        117,474      136,379          185,830        221,800
Asset      1,082,449 1,533,883      2,042,098     4,431,854

Kepengurusan Kopdit Serviam Ende untuk periode 2008-2010 adalah :
Pengurus: Ketua, Kosmas Lawa Bagho,S.Fil, Wakil Ketua, Benediktus Deo, Sekretaris, Paskalis X. Hurint, S.Fil, M.Si, Bendahara, Maria Magdalena Bhiju Boro, S.Pd, Anggota, Yohanes Satu, S. Pd. Pengawas: Ketua, Andreas Ngea, S.Sos, Sekretaris, David Sola, S.H, Anggota, Petronela N. Adan. Sementara Penasihat: Drs. Aloysius B. Kellen, M.Si, Bernadus Gadobani, S.Ag (Wakil Bupati Ende 2004-2009), Rafael Bale, S. Ag, dan Darius Ibu, AM.Pd. Manajemen: Manajer, Ermelinda Ani, SE, Accounting/PL, Lambertus Liki Mare, S.Sos, dan Perkreditan/PL, Klemens Lae, Amd.


Read more...

Kamis, 18 Juni 2009

Belajar BDC (Pengembangan Usaha) di Thailand

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Suatu kesempatan berharga bagi saya bersama 4 orang teman yakni Bapak Fransiscus de Fransu, Manajer Puskopdit Swadaya Utama Maumere, Bapak Piter C. Patiladjar, Manajer Kopdit Ankara Lewoleba Maumere dan Bapak R. Anang Tinosaputra, Staf Diklat Puskopdit Bali Arthaguna dan Bapak Christophorus Sukirman, Ketua Pengurus Puskopdit Bogor-Banten melakukan studi atau kunjungan lapangan (Exposure) tentang Pusat Pengembangan Bisnis (BDC) di Koperasi Kredit Thailand, Bangkok sejak tanggal 21 – 27 Februari 2008.


Kegiatan ini dikenal dengan nama ‘2nd CULT Exposure Program 2008’ yang disponsori oleh Credit Union League of Thailand Limited (CULT) merupakan lembaga nasional koperasi kredit Thailand seperti di Indonesia kita kenal Induk Koperasi Kredit (Inkopdit-Jakarta) bekerjasama dengan Association of Asian Confederation of Credit Union (ACCU); pusat koperasi kredit Asia yang berkantor pusat di Bangkapi-Bangkok, Thailand. Ada 8 negara mengirimkan utusannya yakni Thailand sebagai tuan rumah (11 orang) , Mongolia (2 orang) , Philipina (2 orang), Malaysia (3 orang), Korea (1 orang), Srilanka (1 orang), Nepal (1 orang) dan Indonesia (5 orang). Total peserta : 26 orang.

Sharing Pengatahuan dan Pengelaman
Kruewan Chonlanai; Manajer Kantor CULT sekaligus sebagai pelaksana Program Exposure dalam acara pembukaan melaporkan bahwa kegiatan exposure dilakukan untuk sharing pengelaman pengembangan koperasi kredit di masing-masing Negara, membuat jaringan informasi untuk mengatasi kemiskinan masyarakat melalui koperasi kredit serta yang perlu dilakukan selama 1 minggu adalah sharing pengembangan BDC di masing-masing Negara lalu mencari strategi-strategi baru pengembangan BDC dalam rangka membantu anggota mengembangkan usaha produktif demi meningkatkan pendapatan per kapita per keluarga terutama masyarakat di daerah pedesaan.

Sementara itu, Mr. Ranjith Hettiarachchi, General Manager ACCU menekankan kembali makna BDC yakni bukan lembaga untuk membeli dan menjual produk anggota melainkan lembaga konsultasi untuk membangkitkan dan mengembangkan jiwa wirausaha serta berwirausaha anggota, membantu anggota untuk dapat menghitung cashflow, membantu anggota (orang miskin) mendesain produk dan kemasan yang menarik yang memenuhi keinginan dan kebutuhan pasar, membantu promosi dengan menggunakan teknologi IT seperti email dan web-site khusus promosi produk serta membantu memperluas pasar produk anggota. “Di sini kita saling tukar ketrampilan dan pengalaman” kata Ranjith dalam bahasa Inggris dengan aksen Srilanka.

Sedangkan Mr. Sahaphon Sangmek, General Manager CULT mengatakan bahwa peran CULT sesungguhnya memperkuat koperasi kredit di Thailand serta diharapkan melalui kegiatan sharing ‘best practice’ ini dapat memperkuat koperasi kredit di Negara masing-masing terutama 8 negara yang mengambil bagian dalam kegiatan exposure saat ini.

Kegiatan ini juga mau membangun mitra CULT dengan Induk Koperasi Kredit di Negara masing-masing sebagai tempat pembelajaran, sharing pendapat dan pengetahuan. ‘Diharapakan setelah mengikuti kegiatan ini masing-masing orang dapat melakukannya di Negara masing-masing tentu yang dianggap baik’, katanya mengajak.

CULT adalah lembaga sekunder nasional yang bertindak sebagai pusat pelayanan keuangan, IT, dan pengembangan SDM. Dalam pengembangan koperasi kredit, CULT berkomitmen menerapkan nilai kejujuran, kerja keras/pengorbanan, tanggungjawab, empati dan kebenaran.


Berkenalan dengan CULT (Credit Union League of Thailand Limited)

CULT dibentuk pada tahun 1968. Pembentukan CULT sebagai lembaga sekunder tingkat nasional diinspirasi oleh sejarah gerakan koperasi kredit dunia tahun 1914 di India (Sir Bernard Hunter), 1915 di Jerman (Raffaisien), Pendaftaran Koperasi pertama di Thailand (Koperasi Wat Chan) tanggal 26 Februari 1916 dan Bulan Februari menjadi Hari Koperasi Nasional Thailand yang dirayakan secara meriah hingga kini sebagai bentuk promosi. Tahun 1935, terdaftar koperasi pertanian pada pemerintah diikuti koperasi konsumsi tahun 1938 dan tahun 1968 beberapa koperasi kecil beramalgamasi.

Hingga kini Negara Thailand memiliki 7 tipe koperasi yakni Koperasi Pertanian, Koperasi Jasa Akomodasi, Koperasi Perikanan, Koperasi Simpan-Pinjam, Koperasi Konsumsi, Koperasi Pelayanan dan Koperasi Kredit. Masing-masing berotonomi tetapi tetap bermitra saling menguntungkan.Menarik bahwa semua jenis koperasi ini diperlakukan sama di mata pemerintah dan hukum. Intinya semua jenis koperasi harus bisa memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup secara perorangan dan kelompok.

Tidak kalah menarik juga ada perbedaan jelas antara koperasi simpan pinjam yang berbasis pada pengembangan lembaga (Institutional Based) dengan lembaga nasionalnya bernama FSCT (Federation of Savings and Credit Cooperative of Thailand, Ltd) yang juga ikut mengembangkan koperasi kredit dalam negeri dan di negara lain seperti pengembangan Koperasi Kredit di Laos, MOCCU (Mongolian Confederation of Credit Union) di Mongolia, Koperasi Kredit Barangka di Philipina dan Puskopdit Swadaya Utama Maumere, Indonesia sementara koperasi kredit berbasis pada pengembangan masyarakat (Community Based) dengan lembaga nasionalnya bernama CULT (Credit Union League of Thailand, Ltd) yang juga tidak kalah agresif membantu pengembangan koperasi kredit Asia dengan mengadakan kegiatan-kegiatan berskala Asia seperti 2nd CULT Exposure Program 2008 dan program pemberdayaan lainnya yang melibatkan para utusan dari negara lain. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat dan bahu membahu memperkuat koperasi kredit. Keduanya tidak saling memojokkan apalagi saling melenyapkan.


Program Pendidikan dan Pelatihan CULT:
Materi Dasar (Basic Subject) : Peran dan tanggungjawab RAT, peran dan tanggungjawab pengurus, pengawas, manajemen dan anggota, Akuntansi tingkat 1 dan 2, Perencanaan dan Anggaran, Teknik Rapat yang Efektif, Manajemen Keuangan di Koperasi Kredit.

Materi Pengembangan : (Advance Subject): TOT para pelaksana pendidikan, pelatihan manajer dan staf, Pengembangan Lembaga Koperasi Kredit, promosi/iklan moderen (IT), Pelayanan yang Mengesankan (CRM/Service Excellent), Pengembangan Sumber Daya Manusia (HRD), Microfinance, IT dalam Koperasi Kredit, Manajemen Perkreditan, Pola Kebijakan atau Tata Aturan Pelayanan dalam Koperasi Kredit, Kepemimpinan yang Transformatif serta Pembelajaran Orang Muda (youth campus).House Training: Keuangan, Pengembangan Produk dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (HRD).

CULT memiliki 6 kantor cabang pada 75 provinsi dengan 1,277 koperasi kredit serta anggota perorangan 754,981 menurut data per 31 Desember 2007.



Konsep dan Strategi BDC (Pusat Pengembangan Bisnis)

Ranjith Hettiarachchi, General Manajer ACCU mengawali pemaparannya dengan menampilkan data tentang orang miskin di dunia. Masih banyak penduduk dunia yang masih sangat miskin kurang lebih 20% dan akan bertambah sesuai kondisi di Negara masing-masing. Untuk itu Kopdit hendaknya mengakses mereka melalui program CUMI.

CUMI (Credit Union Microfinance Inovation) adalah sebuah produk desain khusus untuk menyediakan akses kepada orang miskin untuk menabung secara berkelanjutan dan meminjam secara bertanggungjawab, menyediakan pendidikan dan pelatihan, memberikan akses lembaga keuangan bagi orang miskin yang berwirausaha yang tidak memiliki kesempatan menabung dan meminjam uang pada lembaga keuangan formal, membangkitkan wirausaha anggota dari kalangan orang miskin, menggabungkan anggota yang pendapatan kecil kedalam lembaga yang kuat seperti koperasi kredit.


Program CUMI berhubungan sangat erat dengan BDC (Business Development Center). Dalam pengembangan BDC perlu memperhatikan, ‘Mengapa kita membutuhkan BDC, Bagaimana mengembangkannya, Apa pelayanan BDC, Apa keuntungan BDC dan Bagaimana Kopdit/Puskopdit mendukung BDC?.

Kita butuh BDC karena tingkat pertumbuhan ekonomi orang miskin sangat lamban termasuk tidak adanya jiwa wirausaha, anggota/orang miskin memiliki kesempatan yang terbatas mengembangkan bisnis, terbatasnya akses informasi dan pasar yang lebih luas, membutuhkan konsultasi bisnis (perencanaan bisnis, manajemen keuangan, manajemen operasi produksi, pemasaran dan IT, sponsor perdagangan produk serta penghubung antara pembeli dengan pembuat tanpa melalui orang kedua).

Cara pengembangan BDC adalah membuat proposal kegiatan BDC untuk mendapat persetujuan pengurus, manajer dan anggota, merekrut staf BDC melalui pengumunan terbuka yang diikuti seleksi yang profesional, melakukan kontrak dan orientasi tugas bagi staf yang telah direkrut, menyediakan show-room BDC yang dilengkapi dengan IT, memperkenalkan kegiatan dan hasil BDC kepada anggota dan publik melalui pertemuan, brosur, bulletin, media elektronik seperti RRI dan media massa misalnya Flores Pos. Sedangkan centra pelayanan BDC adalah analisis produk termasuk analisis kebutuhan anggota (kebutuhan makanan, elektronik, pertanian: peralatan & produk, tranportasi, akomodasi dll), promosi penjulan produk-produk anggota (pamphlet, bulletin, siaran radio, email, web-site dll), menyediakan pelayanan kepada anggota (pembayaran telepon,transfer uang, desain kartu nama, fax, foto copy, internet dll).

Sementara itu keuntungan BDC seperti adanya relasi yang harmonis antar anggota dengan koperasi kredit terutama proses produksi yakni para pembuat produk, penjualan dan pelayanan, produk lebih banyak dan bervariasi yang dipasarkan kepada anggota dan publik dengan harga murah namun tetap bermutu tinggi, menigkatkan lebih banyak pendapatan, anggota lebih banyak mendapat pendapatan dan deviden serta Kopdit dapat melakukan kerjasama dengan toko lain dan citra Kopdit lebih baik di tengah masyarakat.

Tentang dukungan Kopdit/Puskopdit terhadap BDC adalah memasukan program pengembangan BDC dalam perencanaan strategis koperasi kredit, menyediakan show-room untuk menampilkan sampel usaha anggota, menyediakan dana secukupnya, menyiapkan sarana dan prasarana serta komit mengembangkan BDC secara berkelanjutan. BDC bukan lembaga baru dalam koperasi kredit/Puskopdit melainkan salah satu devisi mendongrak wirausaha anggota terutama perempuan dan orang miskin.


Kunjungan Lapangan
Tanggal 23 Februari 2008, peserta berkesempatan melakukan kunjungan langsung pada Koperasi Kredit Klongchan dan Kopdit St. Peter yang diangap cukup berhasil menerapkan BDC. Ada banyak pembelajaran pada 2 Koperasi Kredit yang dikunjungi namun saya meringkasnya sebagai berikut :

Best Brand Image:
Kedua koperasi kredit (Klongchan dan St. Piter) menerapkan manajemen profesional yang didukung dengan kepengurusan yang visioner. Mereka sungguh-sungguh fokus mengembangkan koperasi kredit sebagai salah satu lembaga keuangan alternatif yang dikelola secara serius dan sungguh-sungguh. Koperasi kredit memang lembaga pelayanan yang berpihak pada orang miskin namum bukan lembaga orang-orang miskin. Mereka membangun kantor megah berlantai 3 dengan interior yang representatif dilengkapi high technologi (IT). Setiap kantor dilengkapi dengan asrama penginapan serta garasi mobil yang diset secara menarik. Rasanya kantor sudah menjadi tempat yang aman bagi anggota dan siapa saja untuk bertransaksi dan menginvestasi uang dan ketrampilan (HRD).

Pusat Pengembangan Bisnis (BDC) digarap sangat sungguh-sungguh dan fokus. Kedua koperasi kredit sadar bahwa apabila hanya memobilisasi simpanan tanpa pengembangan produk/usaha anggota maka akan terjadi idle cash (kas ngaggur) atau menabung tidak berkelanjutan yang akan menimbulkan kredit macet. Oleh karenanya mereka sungguh-sungguh menggarap BDC sebagai salah satu jalan keluar untuk meningkatkan pendapatan anggota dengan sendirinya meningkatkan pendapatan kopdit dan federasi. BDC bukanlah lembaga yang terpisah dari koperasi kredit. Dia hanya salah satu devisi yang membantu pendidikan dan pelatihan anggota, bantuan teknologi (IT), desain produk dan pemasaran (website dan email), menyediakan ruangan semacam ‘show-room’ untuk memamerkan sampel-sampel produk anggota.

Pengembangan SDM (HRD). Pendidikan tetap menjadi prioritas pertama dan utama dalam seluruh gerakan koperasi kredit di Thailand. Pintu masuk menjadi anggota kopdit melalui pendidikan. Anggota harus mengikuti pendidikan dasar dan lanjutan yang diikuti dengan pre-test dan past-test secara ketat dan tanpa kompromi. Apabila ada anggota yang belum lulus past-test maka ia harus mengikuti dari awal. Pendidikan dan pengembangan ini diikuti ketersediaan dana 15% dari pendapatan kotor setiap tahun. Pengembangan SDM bisa dilakukan dalam negeri maupun di luar negeri yang penting bisa memajukan koperasi kredit dan terutama meningkatkan pendapatan anggota perorangan dengan memanfaatkan pelayanan koperasi kredit.

Perencanaan Strategis yang SMART dan memiliki komitmen untuk melakukan. Mungkin kita sudah biasa melakukan perencanaan strategis namun terkadang hanya menjadi hiasan di laci atau lemari dan terkadang SP-nya dibuat sangat diawang-awang yang agak sulit untuk diwujudkan dalam tindakan nyata. Mereka melakukan SP secara SMART dan berkomitmen untuk menerapkan. Tidak hanya banyak bicara tetapi banyak bicara dan banyak melakukan sehingga hasilnya sangat mengagumkan. Setiap koperasi kredit memilik SP. SP-nya nampak sederhana seperti : latihan teknik (administrasi dan akuntansi), promosi kopdit melalui web-site, seminar dan lokakarya dengan mengundang tenaga ahli bagi pengurus dan staf serta pendidikan bagi staf BDC.

Pengembangan Anggota Perempuan dan Kaum Muda (Youth: 0-13, 14-21 thn). Koperasi kredit-koperasi kredit di Thailand memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan pemberdayaan perempuan dan kaum muda untuk terlibat aktif dalam keseluruhan aktivitas koperasi kredit. Perempuan dan kaum muda diberi pendidikan dan pelatihan sedemikian rupa serta bimbingan yang ketat namun dibuat secara manarik sehingga banyak perempuan dan kaum muda mulai menjadi anggota koperasi kredit. Tidak hanya itu saja. Bahkan kini perempuan dan kaum muda menjadi pengurus atau manajemen dalam koperasi kredit dengan perbandingan 70 : 30. Sekedar contoh di CULT sendiri dari 100 karyawan : 70 orangnya perempuan dan belum menikah dan di Kopdit Klongchan dari 400 karyawan 300 orangnya perempuan dan muda. Kita tidak heran kalau yang menyambut kita adalah orang-orang muda dan perempuan-perempuan cantik. Katanya sebagai best promosi.

Program Penghargaan. Kedua Kopdit memiliki program permanen untuk memberikan penghargaan kepada orang-orang yang berjasa mengembangkan koperasi kredit baik pendiri, kepengurusan, manajemen dan anggota termasuk orang memiliki keahlian khusus dari luar koperasi yang ikut mengembangkan koperasi kredit. Penghargaan juga diberikan kepada setiap orang yang melakukan kunjungan ke koperasi kredit. Penghargaan bisa dalam bentuk plakat/piagam. Tindakan kecil tetapi berimplikasi pada image koperasi kredit. Pemberian penghargaan juga bermakna untuk tidak melupakan sejarah. Mereka bersedia mengumpulkan barang-barang rongsokan yang bermakna sejarah misalnya mesin ketik tua, telelpon tua, meja, kursi, foto dll sejak awal pendirian. Ini tanda penghargaan pada jerih lelah yang telah ditumpahkan oleh para perintis.

Program Tanggungjawab Sosial. Kedua koperasi kredit juga mengembangkan program tanggungjawab sosial seperti sumbangan kematian kepada anggota selain program Daperma, menyediakan tempat olahraga bagi anak-anak dan kaum muda serta menyediakan program beasiswa bagi kaum muda, menyediakan tempat pembelajaran kreatif bagi orang muda, mendukung sekolah dasar di daerah pedesaan dan mensuport tenaga dan dana bagi pengembangan koperasi kredit internasional. Hal ini dirancang sedemikian sehingga tidak menimbulkan kecemburuan dan tetap dilakukan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi tanpa muncul perdebatan dalam RAT.

Koperasi Kredit-Koperasi Kredit di Thailand maju karena kesungguhan dan keseriusan dilandasi kejujuran para fungsionaris maupun anggota untuk mengembangkannya serta tidak kalah penting adanya kerja sama lintas sektor baik pemerintah, LSM dan Swasta lainnya. Kapan tiba waktunya untuk Gerakan Koperasi Kredit di Indonesia khususnya di Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada?
Dimuat pada Buletin BK3 Jakarta, edisi III Tahun 2008

Read more...