Catatan Awal
Tanggal 7-26 Mei 2005, 28 orang dari koperasi kredit (kopdit) yang tergabung pada Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Bekatigade Ende-Ngada mengadakan studi banding (stuba) ke Lampung, Pontianak, Medan dan Yogyakarta. Berikut laporan Koordinator Diklat Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada, Kosmas Lawa Bagho yang ikut dalam rombongan dan bahannya dirangkum oleh wartawan Flores Pos, Philipus Suri. Inilah tulisan pertama dari 6 tulisan berseri sejak tanggal 4-9 Juli 2005.Kegiatan studi banding (stuba) merupakan program yang dirancang dan dilaksanakan oleh Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada untuk menjawabi kebutuhan-kebutuhan primer. Stuba juga merupakan media pembelajaran alternatif yang cukup efektif.
Ide awal tentang stuba ini muncul pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2004 di Ende tanggal 15 Januari 2005, memutuskan bahwa stuba atau magang menjadi salah satu program pendidikan Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada.
Merujuk pada keputusan RAT tersebut maka manajemen Puskopdit memfasilitasi dan menggerakkan kopdit-kopdit yang asetnya di atas 1 miliar atau yang memiliki potensi lebih berkembang ke depan untuk melakukan stuba.
Berdasarkan formulir yang masuk maka 9 Kopdit primer yakni Kopdit Sangosay Bajawa mengutus 4 orang, Kopdit Boawae 2 orang, Kopdit Sinar Harapan Aimere 1 orang, Kopdit Sehati Bajawa 2 orang, Kopdit Kenisa Mauponggo 2 orang, Kopdit Jamu Maunori 3 orang, Kopdit Handayani Bajawa 2 orang, Kopdit Civita Dei Nangapenda 1 orang, Kopdit Bahtera Ende 3 orang dan Puskopdit BEN 7 orang serta 1 orang VSO sebagai management advisor. Jadi peserta semuanya berjumlah 28 orang melakukan stuba ke Puskopdit Lampung, Pontianak, Medan dan Yogyakarta dari tanggal 7 sampai dnegan 26 Mei 2005.
Fokus stuba pada proses pembelajaran tentang pengelolaan koperasi kredit yang semakin profesional pada daerah-daerah yang lebih berhasil implementasinya. Pepatah bijak mengatakan, “Jika anda ingin mengelola kopdit secara lebih berhasil maka anda harus belajar pada kopdit-kopdit yang telah mengaplikasikan pengelolaannya secara profesional dan berhasil. Teori-teori yang dipelajari hanya sebagai pendukung penerapannya di lapangan”.
Perjalanan rombongan nampaknya sangat mengesankan meski sedikit meletihkan, karena ada yang menggunakan pesawat, ada juga yang menggunakan bus, seperti Jakarta-Lampung pergi pulan (PP) dan kereta api Yogyakarta-Surabaya dengan jarak tempuh ada yang hanya 45 menit tetapi juga ada yang satu hari.
Namun ada hal-hal menarik untuk dicatat bahwa kemajuan kopdit di Indonesia bagian Timur seperti di Flores ini jauh dibandingkan dengan di Indonesia bagian Barat. Teman-teman di bagian barat bisa pilih salah satu alternatif dari berbagai sarana dengan harga bersaing serta berbagai kemajuan monumental. Sementara kita di Indonesia bagian timur, ya itu-itu saja dan terasa jauh dari sentuhan pembangunan yang cukup signifikan.
Ada di antara peserta yang berguman, “Untung saya bekerja di koperasi kredit sehingga bisa naik pesawat atau kereta api”. Tenyata bekerja di kopdit bukan hanya mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan dana pribadi seperti terjadi saat-saat awal pengembangan. Akan tetapi ada enaknya juga.
Pengkotbah mengatakan, “Barangsiapa menanam yang baik, dia akan menuainya. Segala sesuatu indah pada saatnya”. Mudah-mudahan spirit ini terus menggerakkan hati para perintis, penggerak, fungsionaris maupun anggota terutama peserta stuba untuk sungguh-sungguh berkopdit secara sadar dan bukannya bekerja di kopdit/puskopdit hanya sekedar mencari uang. Ada nilai lain yang dapat dinikmati (bersambung)
Flores Pos, 4 Juli 2005
Read more...
Selasa, 27 Juli 2010
Untung Bekerja di Kopdit Bisa Naik Pesawat
Kopdit Serviam Ende: Pipa Kekayaan Masyarakat Flores
Oleh Kosmas Lawa Bagho
Data yang ditampilkan dari Departemen Tenaga Kerja AS Tahun 2008 (Bisnis Bekerja dari Rumah: www.peaklifestyle.com tanggal 06 Juni 2009) cukup mengesankan dan mengejutkan saya. Dalam website tersebut memberikan hasil data penelitian orang-orang yang bekerja selama 40 tahun (usia 65 tahun) di kantor sebagai karyawan dengan perbandingan sebagai berikut:
a. 1 % orang-orang bersangkutan hidup makmur dan sejahtera.
b. 4 % memiliki cukup uang untuk hidup pas-pasan.
c. 5 % terpaksa untuk tetap bekerja di usia 65 tahun.
d. 54 % hidup dibawah garis kemiskinan, bergantung terhadap uang pensiun atau
bergantung pada sanak saudara, keluarga dan teman.
e. 36 % telah meninggal dunia.
Data statistik ini berkaitan langsung dengan cerita yang coba saya angkat dari Buku Cashflow Quadrant karangan Robert T. Kyosaki. Maaf cerita ini saya edit sedikit dari cerita asli. Inilah kisahnya. Zaman dulu terdapat sebuah desa kecil nan indah. Tempat itu sangat menyenangkan namun sayang tidak ada ketersediaan air jika hujan tidak turun mencium bumi. Para kepala kampung atau desa mengadakan rapat besar untuk mengatasi masalah yang cukup kronis itu. Rapat bersepakat mengontrak dua orang pemuda yang sanggup menyelesaikan persoalan yang dialami masyarakat. Mereka adalah Ed dan Bill. Ed seorang yang bergerak cepat.
Ed segera berlari ke pasar lalu membeli dua buah ember baja besar dan bolak balik ke danau untuk mengambil air. Jarak danau dari desa bersangkutan kira-kira 1,5 km. Pagi hingga petang, ia bekerja keras mengangkut air untuk memenuhi kepentingan masyarakat dan ia langsung mendapatkan uang. Setiap pagi dengan setia ia lakukan dan memperoleh banyak uang. Ia bersyukur bisa mendapatkan banyak pemasukan dari kerja kerasnya sejak pagi hari hingga petang tanpa henti.
Sementara Bill beberapa saat menghilang. Keadaan ini membuat Ed tambah bahagia lantaran tidak ada pesaing. Bill tidak membeli ember baja untuk bersaing dengan Ed tetapi dia membuat rencana usaha, mendirikan perusahaan, mendapatkan empat penanam modal, mengangkat seorang manajer untuk melakukan pekerjaannya dan kembali enam bulan kemudian dengan kru atau rombongan bangunan. Dalam waktu satu tahun, timnya telah membangun jaringan pipa baja anti karat bervolume besar yang menghubungkan desa dengan danau.
Pada pesta pembukaan, Bill mengumumkan bahwa airnya lebih bersih dan bisa memasok air ke desa selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu serta memberikan harga 75% lebih murah dari air yang dijual Ed dan sumber mata airnya lebih berkualitas dan sehat. Penduduk desa bersorak sorai dan langsung berlari ke kran air di ujung saluran pipa Bill. Ia mendapatkan pemasukan tanpa ia harus memikul air dari pagi hingga petang. Bill juga mulai melebarkan sayap usahanya ke desa-desa lain.
Kini Bill menjadi milioner tanpa harus bekerja keras lagi seperti Ed. Ia menghabiskan banyak waktu untuk keluarga sementara kekayaannya terus bertambah dari hari ke hari tiada henti selama air mengalir dari saluran pipa usahanya. Kini uang bekerja keras untuk Bill. Bill bisa mendapatkan uang meski sedang tidur. Dilain pihak Ed, kualitas tenaganya makin menurun karena bertambahnya usia serta mutu airnya menurun drastis maka ia tidak berdaya apa-apa.
Ia terus bekerja keras namun kekayaannya tidak bertambah malah tergerus habis untuk membiayai sekolah ana-anaknya dan biaya perawatan rumah sakit. Ed bekerja sebagai mental pembawa ember yang terus bekerja keras untuk memperoleh uang. Tidak pernah berubah nasibnya agar uanglah bekerja untuk dia. Kini kita mau seperti Bill membangun saluran pipa kehidupan atau seperti Ed sebagai pembawa ember seumur hidup?
Kopdit Serviam dan Mental Pembawa Ember
Koperasi Kredit Serviam dibentuk pada tanggal 09 Januari 1993 oleh sekelompok anak muda di Yayasan Nusa Taruni Bakhti Ende. Pembentukan awal hanya untuk menanggulangi beban kehidupan para guru, dosen, staf dan karyawan Yayasan Ursulin yang terkena dampak langsung gempa bumi 12 Desember 1992. Awalnya keanggotaan terbatas hanya intern dan tidak terbuka untuk masyarakat umum. Dalam perjalanan selanjutnya ada begitu banyak masyarakat mau bergabung dengan koperasi kredit ini dengan berbagai latar pendidikan, status sosial, profesi, suku, ras dan agama.
Tahun 2000, Kopdit Serviam terbuka untuk umum sesuai prinsip dan jati diri koperasi versi UU Koperasi No.25/1992; keanggotaan terbuka dan sukarela. Sejak saat itu, Koperasi Kredit berjuang melawan berbagai bentuk kemiskinan, kemelaratan dan sikap mental pembawa ember bagi seluruh masyarakat Flores umumnya dan Kabupaten Ende khususnya.
Data penelitian Departemen Tenaga Kerja AS hampir searah dengan hasil penelitian NGO Swisscontact di Ende yang dilaksanakan pada tahun 2006. Mereka meneliti sikap masyarakat terhadap sikap menabung serta di mana hal paling besar masyarakat menghabiskan uangnya. Mereka melakukan secara sampel di Kelurahan Tanalodu Bajawa dan Desa Mautenda, Ende. Hasil penelitian juga menunjukkan hal yang sangat mengejutkan dan mengesankan bahwa mamang sebagian besar masyarakat kita tidak segera membangun saluran pipa kehidupan menuju kesejahteraan melainkan sebagai pembawa ember yang senantiasa miskin turun temurun.
Penelitian tersebut menunjukkan angka-angka pembiayaan masyarakat Flores umumnya adalah bidang makan-minum dan konsumeris lainnya dengan prosentase tertinggi yakni 42%, diikuti pesta adat 12%, pendidikan 10%, transport, listrik, telepon dan pengembalian pinjaman sama-sama 9%, pertanian, peternakan dan perkebunan 8%, kesehatan, asuransi dan menabung masing-masing 1%.
Menarik untuk disimak bahwa prosentase pembiayaan masyarakat kita untuk asuransi dan tabungan hanyalah 1% dari seluruh pendapatan atau penerimaan. Bayangkan! Menabung masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat kita. Itu berarti pola pikir dan pola hidup kita masih sebagai pembawa ember. Kita belum mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih cerah-ceria dengan penciptaan kekayaan/asset melalui menabung. Data-data kuantitatif ini dipertegas lagi dengan data kualitatif yaitu sebagian masyarakat apabila mau masuk Koperasi Kredit SERVIAM, selalu bertanya berapa rupiah yang bisa dipinjam bukan berapa rupiah yang disimpan.
Apabila ada motivasi menabung selalu ada seribu alasan yang membuat mereka tidak bisa menyisihkan sesen dua untuk masa depan yang lebih cerah. Oleh karena itu tidaklah heran data dari Departemen Tenaga Kerja AS di atas bahwa setelah bekerja 40 tahun (dalam usia 65 tahun) hanya ada 1% yang hidup sejahtera lalu dimanakah 99%? Sangat tragis bahwa 36% dari antaranya telah meninggal dunia dan 54%-nya hidup dalam keadaan miskin. Semua itu terjadi lantaran kita masih hidup dengan mental pembawa ember.
Kopdit Serviam dan Perubahan Mindset:Pembawa Ember menjadi Pembuat Saluran Pipa
Reinald Kasali pernah menulis dalam bukunya Re-Code: Change Your DNA bahwa usaha yang paling berat dan prosesnya sangat lama adalah bagaimana upaya kita melakukan perubahan mindset atau mengubah pola pikir. Namun tanpa perubahan pola pikir, kehidupan masyarakat tidak akan lebih berkualitas. Untuk itu suatu pekerjaan paling memakan waktu dan biaya bagaimana upaya Kopdit Serviam mau mengubah pola pikir masyarakat Flores agar bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.
Membangun Sikap Optimis. Semua orang memiliki peluang yang sama yakni rasa percaya diri (dalam batasan yang positip) dan yakin usaha akan mencapai tujuan adalah sikap yang perlu dipupuk di dalam diri. Pepatah menyatakan,’Kita boleh kehilangan apapun tetapi jangan sampai kehilangan harapan’. Harapan akan melahirkan semangat atau optimisme. Sikap optimis harus kuat laksana gergaji yang mampu menembus batang kayu yang sangat keras sekalipun untuk maju dan meraih sukses.
‘A. Suman Kurik dalam bukunya; Membangun Ekonomi Kerakyatan’ pernah menyentil bahwa orang yang putus asa akan dekat dengan bahaya dan kemiskinan. Sesungguhnya peluang untuk hidup sejahtera milik semua orang dan peluang itu ada di mana-mana hanya yang berbeda adalah semangat atau tekad memanfaatkan peluang untuk meraihnya. Sebab perbedaan orang kaya dan orang miskin adalah motivasi untuk mencapai sukses. Sukses itu butuh komitmen tidak sekedar ingin. Komitmen memerlukan motivasi besar yang lebih dikenal dengan antusiasme atau optimisme. Mengeluh karena satu tantangan atau rintangan menandakan bahwa kita bukan pejuang tetapi pengecut.
Setiap orang bisa merubah keadaan. Keadaan sudah tercipta secara alamiah. Namun keadaan demikian bisa diubah sesuai visi dan rencana yang akan diejahwantahkan atau dilakukan dalam tindakan nyata. Jikalau keadaan tidak dapat diubah maka tidak akan memberi dampak apapun. Untuk itu kita harus siap mengoptimalkan modal terbesar dalam diri. Modal terbesar kita untuk merubah keadaan adalah tangan, kaki, mata, pikiran, anggota tubuh lainnya. Namun terkadang berbagai modal itu tidak dimanfaatkan atau malah ragu atau takut mengoptimalkannya. Apalagi dibarengi dengan cara pikir yang keliru bahwa kita orang kebanyakan dengan pola hidup pas-pasan rasa-rasanya sulit untuk menjadi kaya. Cepat menyerah dan menerima keadaan yang sudah ada. Hidup begini sudah cukup untuk apa diubah lagi. Kita harus berani ambil tindakan dan mau merubah keadaan yang bisa kita ubah. Tidak ada yang mustahil sejauh ada tekad, kerja keras dan kerja cerdas.
Membangun Karakter Menabung.
Pola pikir kita (hidup pas-pasan) yang keliru bahwa kebiasaan atau budaya menabung itu hanya berlaku jika seseorang mempunyai uang lebih atau ketika menabung harus dengan angka yang besar. Artinya orang yang hidup pas-pasan tidak perlu untuk menabung. Pola pikir seperti ini yang Kopdit Serviam perlu evaluasi. Menabung itu bisa dilakukan oleh siapapun, apapun profesinya dan di manapun juga.
Menabung tidak harus dalam jumlah yang besar tetapi Rp.1000 per hari juga sudah cukup. Apabila itu yang kita lakukan berarti 1 minggu sudah 7,000 rupiah, 1 bulan 30-31,000 dan setahun 365 ribu rupiah, 10 tahun 3,650,000 rupiah dstnya. Tabungan juga bisa menggunakan sarana celengan agar uang yang seribu rupiah per hari tidaklah tercecer atau cepat berubah bentuk menjadi es, ikan tongkol, rokok dan lain sebagainya.
Untuk bisa menjadi penabung yang baik ada trend pada Koperasi Kredit Serviam Ende yaitu mengajak anggota agar tidak menghitung berapa rupiah sehari yang perlu ditabung melainkan tanyakan dan hitung berapa rupiah yang dihabiskan sehari sebagai pengeluaran. Misalnya perokok surya 12 merokok dua bungkus sehari. 1 bungkus surya 12 diasumsi 8,000 rupiah maka sehari, perokok bersangkutan menghabiskan uang hanya untuk rokok 16,000 rupiah, dalam sebulan menghabiskan 496,000 rupiah, setahun menghabiskan 5,952,000 rupiah. Jika dia merokok 10 tahun berarti 10 x 5,952,000 = 59,520,000. Bayangkan jika perokok tidak merokok dan menginvestasikan uangnya pada koperasi kredit. Itu belum kita hitung bunga simpanan setiap hari x setiap minggu x setiap bulan x setiap tahun x 10 tahun x 20 tahun dstnya. Berapa rupiah kekayaannya ... ?
Mayoritas masyarakat kita bertumpu pada pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan hendaknya melakukan gerakan menabung sebagai investasi untuk membangun kekayaan demi meningkatkan mutu kesejahteraan keluarga maupun pribadi. Seiring dengan memperkuat budaya hidup hemat dan memulai gerakan menabung tanpa harus menunggu hari esok.
Manfaat menabung adalah memiliki asset (kekayaan) yang tidak berkurang jumlahnya melainkan terus bertambah karena pemberian bunga dari Koperasi Kredit Serviam seperti perhitungan di atas. Manfaat lain adalah mengantisipasi apabila sewaktu-waktu ada kebutuhan yang sangat mendesak memerlukan uang untuk pembiayaan dikala sakit, meninggal dunia, melahirkan, biaya panen, dll.
Kalau begitu tidak ada salahnya, Kopdit Serviam Ende menjadi pipa saluran kekayaan masyarakat Flores.
Catatan:
Tulisan ini dirangkum dari tulisan penulis dengan judul 'Kopdit Serviam Ende: Pipa Orang Miskin Flores' dalam buku Bunga Rampai: Kopdit Serviam & Kemiskinan di Flores, 2010 & Dimuat juga di Flores Pos, 27 Juli 2010 dengan judul seperti di atas!
Read more...
CU Gerbang Kasih = CU Gereja: Mengapa Harus Takut?
Oleh Kosmas Lawa BaghoSekali lagi saya tidak bermaksud melakukan polemik berkepanjangan melalui media ini yang akhirnya membingungkan tanggapan anggota dan masyarakat umum terhadap apa yang dinamakan koperasi kredit atau credit union. Tulisan ini juga bukan sebagai jawaban atas apa yang ditulis oleh adik dan imam saya Rm. Ricard Muga Buku, Pr. Apalagi seolah-olah saya memposisikan diri sebagai pecundang bagi kelahiran CU Gerbang Kasih yang oleh Rm. Ricard disebut CU GEREJA (FP, 04 Juli 2007).
Gereja yang universal dan besar itu sudah berbuat banyak bagi masyarakat dunia umumnya terutama umat katolik khususnya secara lebih khusus umat dan masyarakat di tanah Flores tercinta. Rm. Ricard melalui tulisannya ‘CU GEREJA, TIDAK PERLU TAKUT’ seolah-olah membentangkan perasaan takut dan cemas yang saya alami melalui tulisan ‘MENGAPA TIDAK MENJADI ANGGOTA KOPERASI KREDIT’, (FP, 27 Juni 2007).
Mengapa harus takut jika semua kita berkehendak baik melakukan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Saya sangat yakin bahwa CU Gerbang Kasih (independen milik anggota) bukan identik dengan CU GEREJA juga berbuat baik untuk membebaskan seluruh masyarakat (umat) dari keterbelengguan kemiskinan dan kemelaratan. Oleh karena itu saya tidak perlu dan tidak pernah merasa takut.
Saya patut mengancungkan jempol bagi sebagian ‘klerus’ (PSE-KAE) telah berjuang memperjelas keberpihakan gereja pada yang miskin secara kasat mata dengan membentuk CU Gerbang Kasih. Romo Ricard menulis ‘Dengan sendiri mendirikan CU, Gereja hendak menyakinkan umatnya dengan tindakan, bukan sekedar kata-kata.’
Statemen ini mengundang aneka ragam pertanyaan di dalam hati saya. Apakah selama ini gereja cuma berkotbah atau berkata-kata? Ataukah peran nyata yang dimainkan ‘para klerus’ selama ini baik sebagai individu maupun hirarkis untuk membangkitkan kesadaran umat (masyarakat) hidup lebih baik bukan bagian dari peran gereja? Ataukah Koperasi Kredit/CU yang didirikan sebagian ‘klerus’ dalam kerjasama dengan awam (masyarakat) bukanlah juga keterlibatan gereja secara nyata? Lalu apa itu gereja? Kopdit-Kopdit/CU yang ada sekarang berkat fasilitasi dan keterlibatan aktif gereja (DELSOS yang kini lebih dikenal PSE-KAE).
Kalau mau jujur, keseluruhan tulisan saya tidak pernah menisbikan atau mengeliminasikan peran gereja lokal terhadap perintisan, pertumbuhan dan pengembangan Koperasi Kredit/Credit Union di bumi nusa bunga ini. Malah saya sangat mengapresiasi peran gereja baik secara perorangan maupun hirarkis. Saya menulis,’Gereja lokal berperan besar di wilayah yang mayoritas Katolik ini. Meski harus diakui, peran itu bukan datang secara hirarkis tetapi hanya beberapa pastor yang memiliki kepedulian dengan umatnya yang miskin.
Mereka bahkan tidak hanya berkotbah tentang Kopdit di mimbar tetapi juga terjun langsung menjadi anggota. Bahkan di setiap Kopdit di wilayah paroki tertentu, pastor kepala paroki menjadi salah satu penasihat, pengawal moral dan hati nurani yang jujur. Namun rasanya pengaruh perorangan kurang meluas. Angin segar bagi gerakan ini tiba pada saat lokakarya perencanaan strategis yang dilaksanakan di Aula PSE Ende sejak tanggal 11-13 Juni 2007 lalu.
Keuskupan Agung Ende melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) memprakarsai serta melahirkan bayi Kopdit dengan nama ‘Credit Union Gerbang Kasih (Gerakan Rakyat Membangun Kesejahteraan dalam Kasih)’. Mungkin Romo Ricard tersinggung dengan pernyataan dalam tulisan saya ‘Sebaliknya, sang bayi jangan mau menang sendiri’. Anak kalimat itu memang bisa diinterpretasi bahwa saya menuntut 100% hanya dari sang bayi. Saya mohon maaf jika salah satu anak kalimat ini melukai hati romo dan siapa saja. Tanpa bermaksud membela diri, akan tetapi melalui pernyataan itu saya mau mengatakan ada saling menghargai dan kerjasama/kemitraan sejati.
Sesungguhnya anak kalimat itu dilengkapi dengan statemen ‘Menang bersama dan saling menghidupkan’. Namun saya pikir secara terimplisit sudah termuat pada paragraf berikutnya ‘Kita berharap, jika kita dapat bekerjasama maka cita-cita menggempur musuh bersama yakni kemiskinan dan kemelaratan serta menciptakan investor-investor handal di tanah sendiri dapat kita raih secara sukses dalam kebersamaan.
Dengan demikian tidak ada lagi rakyat (umat) kita yang terus-menerus mengharapkan bantuan tunai langsung (BLT). Di atas pundak kita ada rasa tanggungjawab bersama agar masyarakat di daerah ini memiliki harga diri, kepercayaan dan mampu berdiri di kaki sendiri secara sosial, budaya, ekonomi dan politik. Tidak ada lagi yang menggantungkan hidupnya pada orang lain. Oleh karena itu kita perlu membentuk karakter (watak) baru, memberdayakan manusia melalui wadah yang namanya koperasi kredit atau credit union. Kemitraan itu saya tegaskan lagi pada kalimat yang padat dan singkat ‘Indah rasanya jika taman Flores dipenuhi oleh beraneka jenis warna bunga yang cantik.’
Sedangkan paragraf yang dimulai dengan ‘Kehadiran CU Gerbang Kasih bukan berarti lonceng kematian …’ Ini justru mengajak dan menguatkan saya ataupun siapa saja menanggapi sesuatu yang baru atau perubahan apa saja secara positip. Paragraf ini juga mau mengangkat CU Gerbang Kasih dan CU/Kopdit yang sudah ada pada tingkat kemitraan sejati tanpa saling melenyapkan satu sama lain. Paling kurang, tidak saling bertentangan. Sebab kehadiran CU/Kopdit yang baru, saya anggap sebagai media saling belajar dengan tujuan yang satu dan sama walaupun caranya berbeda-beda. Ada banyak jalan lain menuju Roma. Akan tetapi jika ada penafsiran lain yang menyinggung perasaan, sekali lagi saya mohon maaf.
Selanjutnya paragraf ‘Mudah-mudahan …. tidak menghapus segala jerih lelah..’ Pernyataan ini menitipkan pesan moral bagi saya dan siapa saja untuk tidak melupakan sejarah atau apapun yang sudah dibuat oleh para pendahulu kita. Apapun yang kita perbuat sekarang ini tidak harus mendiskreditkan ataupun menyudutkan yang sudah ada atau yang diperbuat oleh orang lain. Mungkin peringatan saya melalui paragraf ini agak prematur. Akan tetapi saya lakukan ini berdasarkan apa yang saya dengar, saya lihat dan saya rasakan selama lokakarya berlangsung (saya salah seorang peserta utusan dari Paroki St. Yosef Onekore-Ende).
Mungkin juga pernyataan-pernyataan sebagian peserta selama lokakarya tanpa sadar menyudutkan orang lain atau lembaga koperasi kredit yang sudah ada. Akan tetapi jika tidak diperingatkan lebih awal akan menjadi preseden buruk bagi gerakan kita di wilayah ini. Saya inginkan kita dapat berkembang secara sehat tanpa harus mengorbankan yang lain. Betapa indahnya, kesuksesan yang kita raih dapat dirasakan atau bermanfaat bagi orang lain (sesama).
Oleh karena itu, mengapresiasi tulisan Rm. Ricard saya perlu titipkan beberapa pesan berikut ini:
Pertama: Secara pribadi saya ucapkan selamat datang kepada CU Gerbang Kasih dan selamat berpartisipasi membebaskan masyarakat dari semua rasa keterbelengguan baik secara sosial, budaya, ekonomi dan politik. Saya tidak pernah takut dan cemas. Sebagai sesama gerakan, saya hanya mengingatkan agar dalam seluruh proses pelaksanaan kegiatan CU/Kopdit ini tidak saling menyudutkan atau mendiskreditkan. Atau mempertentangkan CU dengan Kopdit. Kita bisa bermitra secara produktif tetap dalam nuansa kritis-konstruktif.
Kedua : Bagi saya, CU Gerbang Kasih bukanlah CU Gereja. Di sini Gereja memprakarsai ibarat seorang bidan membantu ibu hamil untuk melahirkan sang bayi tetapi bidan bersangkutan tidak menjadi ibu dari sang bayi. CU atau Kopdit boleh saja dilahirkan atau dibentuk siapa saja, lembaga apa saja namun tetap milik anggota-anggota yang berhimpun di dalamnya (bdk. UU Koperasi No.25/1992). CU/Kopdit/Koperasi berbasiskan anggota. Jika kita menyamakan CU Gerbang Kasih dengan CU Gereja, ada kekuatiran hal ini akan melahirkan polarisasi di dalam masyarakat atau umat atau ada kesan eksklusivisme.
Pada hal UU Koperasi negeri ini telah mengamanatkan bahwa keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. Koperasi dari segi nama maupun pengelolaannya terbuka bagi siapa saja. Jika kita menyamakannya ada bahaya akan melahirkan ‘unsur pemaksaan’ Gereja terhadap umatnya untuk menjadi anggota CU Gerbang Kasih. Kita berharap tidak akan terjadi demikian.
Sebab Rm. Ricard sudah mewanti-wanti melalui tulisannya, ‘Sama sekali tidak dimaksudkan umat lalu melihat hanya Gerbang Kasih atau Bahtera Sejahtera saja sebagai CU yang baik. Umat boleh saja memilih CU mana saja’. Saya juga hanya kuatir jika hal itu yang dilakukan maka apakah Gereja (KAE), siap bertanggungjawab apabila terjadi sesuatu hal luar biasa menimpa CU Gerbang Kasih? Saya berharap Gereja tidak perlu dibebankan lagi dengan apa yang boleh dan bisa dibuat oleh umat/awam (bdk. Konsili Vatikan II) atau orang-orang yang tergabung dalam CU yang dibidani oleh Gereja (PSE).
Ketiga: Sebagai awam dan aktivis gerakan koperasi kredit/CU, saya hanya mengharapkan agar para ‘klerus’ tetap menjadi penengah dalam seluruh proses kehidupan umat apalagi yang berkaitan dengan koperasi kredit. Keterlibatan pada CU/Kopdit tidak membatasi dirinya sebagai milik semua orang (umat). Para ‘klerus’ tetap sebagai pengawal moral dan hati nurani bagi seluruh gerakan yang ada di dalam masyarakat. Jika hal itu yang terjadi maka mengapa harus takut?
Pernah dimuat di HU Flores Pos, 10 Juli 2007
Read more...
Senin, 12 April 2010
Mindset Pemberdayaan Perlu Diubah
Oleh Kosmas Lawa Bagho
Tanggal 08 Desember 2006 merupakan hari kelahiran bayi Nagekeo yang gemuk dan sehat. 4 tahun sudah kelahirannya dengan berbagai geliat pembangunan baik yang mengagumkan maupun yang masih memiris hati banyak orang termasuk rakyat Nagekeo.
Mungkin rakyat Nagekeo terlalu berharap banyak terhadap bayi yang baru mekar itu untuk memberikan kepuasan dan kesejahteraan lahir dan batin. Hal ini terkadang menjadi motivasi atau dorongan namun acapkali lebih banyak menjadi beban yang tak tertanggungkan sehingga menimbulkan kekecewaan, sakit hati dan putus asa.
Tahun 2010 merupakan tahun macan menurut kalender cina. Tahun macan mendatangkan berbagai tantangan di tengah harapan untuk hidup lebih baik. Laksana macan yang terus bergerak maka tahun ini ditandai dengan riak-riak gelombang besar menghantam ketentraman masyarakat dan pemerintah di berbagai belahan bumi termasuk di Nagekeo .
Memang kita tidak boleh berharap terlalu banyak terhadap bayi yang belum berpengalaman dalam upaya pemberdayaan masyarakat secara ekonomis maupun harkat dan martabat manusia. Itu tidak berarti kita mengakomodir berbagai kesalahan dan kekeliruan pengelolaan yang kurang berpihak pada pemberdayaan masyarakat Nagekeo umumnya. Sebab visi dan misi awal pembentukan adalah memberdayakan masyarakat Nagekeo untuk lebih mandiri dan bermartabat secara sosial, ekonomi dan politik. Pemekaran dari ibunya Kabupaten Ngada seharusnya membuat masyarakat Nagekeo menjadi tuan atas daerahnya sendiri dan menikmati bagian kue kesejahteraan yang lebih besar.
Dalam perjalanan pemberdayaan dan pembangunan selalu saja ada tantangan dan hambatan silih berganti bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan namun hanya bisa dibedakan. Kadang-kadang tantangan atau hanbatan itu masih bisa dimaklumi namun terkadang diluar ambang batas kewajaran dan penerimaan nurani maupun rasa keadilan masyarakat Nagekeo.
Minta maaf sebelumnya apabila tulisan ini agak keras namun saya berani mengangkatnya untuk mendapatkan pikiran-pikiran cerdas bagaimana sebaiknya membangun Nagekeo agar lebih berdaya saing dengan kabupaten otonom lainnya di Flores dan di Indonesia.
Pagi hari tanggal 25 Maret 2010, hati kecilku sebagai orang Nagekeo (Rawe-Boawae) yang sedang merantau di Ende ( Mei 1997) di Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo dan Kopdit Serviam Ende agak terasa pilu membaca bentara Flores Pos. Bentara itu menulis judul yang cukup menggugat siapa saja apalagi orang Nagekeo dengan judul “Apakah Nagekeo Salah Lahir?”
Sebagai jurnalis, penulis bentara itu memiliki mata atau optik keenam untuk membaca realitas kehidupan manusia secara transparan dan tanpa kompromi untuk memberitakan dan membedah fakta dan data. Seorang jurnalis tanpa rasa takut seinci pun dalam mengungkapkan kebenaran dan keadilan masyarakat yang sering kali disembunyikan pihak-pihak tertentu.
Justru saya lebih berkosentrasi pada judul tulisan bentara itu yang merujuk pada berita Flores Pos hari sebelumnya, Rabu; 24 Maret 2010. Hari itu Flores Pos merilis berita tentang pengaduan para wartawan yang tergabung dalam PJN (Persatuan Jurnalis Nagekeo) terhadap tindakan salah seorang staf Dinas PU Kabupaten Nagekeo yang ‘memaki dan mengancam’ wartawan yang dengan berani menulis berita mutu jalan yang kurang baik berdasarkan pengaduan masyarakat setempat sebagai subjek dan pemanfaat pertama lahirnya kabupaten otonom Nagekeo dari Ngada (2006).
Tindakan yang dilakukan salah seorang staf Dinas PU (EJ) secara in se memang harus dikutuk namun perbuatan tersebut sesungguhnya menyiratkan sejumlah gurita persoalan dalam pengelolaan (good governance) Kabupaten Otonom Percobaan itu yang harus segera diperbaiki. Sudah menjadi rahasia umum bahwa berbagai proses persiapan, pelelangan dan pengerjaan proyek-proyek terkadang kurang transparan dan sedikit berbau KKN. Mungkin juga benang kusut persoalan itu sudah ada sejak perencanaan, pelelangan dan penentuan para rekanan. Kadang-kadang tindakan tersebut tidak didasarkan pada fakta dan data objektif namun lebih dipertimbangkan pada berbagai kepentingan yang tentu bukan sebesar-besarnya untuk rakyat.
Belum lagi kita menyibak masalah pencairan anggaran yang tidak tepat waktu dan tidak tepat angkanya sesuai proposal yang diajukan dan disetujui. Ditambah lagi kontrol atau awasan dari segenap komponen masyarakat dan wakilnya di Dewan yang kurang njelimet dan mungkin juga kurang profesional. Ini semua patut menjadi refleksi kita semua terutama para aktivis pemberdayaan yang dipercayakan rakyat untuk mengelola Nagekeo sesuai visi dan misi serta perjuangan awal melahirkan Nagekeo.
Kita tidak menyalahkan orang per orang apalagi hanya berdasarkan informasi dari koran atau desas-desus. Namun fakta ini cukup memberikan gambaran telanjang kepada kita bahwa ternyata kebenaran itu barang lanka dan mahal harganya. Kebenaran itu harus terus diperjuangkan dan terkadang yang benar dicemooh dan diancam sedangkan yang salah dilindungi dan dianak-emaskan.Merujuk pada judul bentara di atas, menggugah kita sesama orang Nagekeo untuk bersepakat mendorong secara positif agar teman-teman dan para pengelola pemerintah yang dipercaya RAKYAT Nagekeo untuk memberikan kontribusi terbaik bagi Nagekeo agar bisa berdaya guna secara lebih positif bagi KESEJAHTERAAN seluruh rakyat dan pemerintah Nagekeo.
Untuk itu mindset pelayanan dan pemberdayaan yang top down, tuan-hamba, atasan dan rakyat bawahan perlu dievaluasi secara serius dan diubah secara profesional serta dikontrol secara ketat agar tuntutan dasar dan misi awal melahirkan Nagekeo tidak melenceng dan bahkan salah.
Kita harus nyatakan bahwa Nagekeo ‘tidak salah lahir’ dengan tindakan nyata membangun kesejahteraan rakyat lahir dan batin. Untuk itu para pengawai dan siapa saja yang hadir di Nagekeo sekarang ini untuk mengabdi rakyat seoptimal mungkin menjadi landasan pijak pengelolaan yang bersih ke depan bukan sebaliknya (maaf) mengeruk keuntungan pribadi atas nama rakyat. Cukup sudah cap-cap negatif terhadap Nagekeo karena ulah kita yang kurang bijak dan cerdas. Mari kita mengawal, mengontrol dan menjaga serta memberikan kontribusi pemikiran, tenaga dan bahkan biaya agar Nagekeo tidak salah lahir.
Catatan:
Dimuat juga pada Harian Umum Flores Pos; 12 April 2010.
Read more...
Senin, 14 Desember 2009
Kopdit Serviam & Orang Miskin Flores
Oleh Kosmas Lawa Bagho
Naomi Susan dalam bukunya ‘Be Negative = Menjadi Negatif’ pernah menulis, “Anda memiliki kebebasan untuk memilih. Tetapi, mengapa Anda memilih untuk tetap berada dalam keadaan yang sama setiap harinya dan tidak bergerak lebih maju selangkah demi selangkah?”Koperasi Kredit Serviam Ende yang dibentuk pada tanggal 09 Januari 1993 dengan anggota awal hanya 27 orang dan asset 670 ribu rupiah terus-menerus menata dirinya untuk berkembang selangkah demi selangkah sebagai salah satu wadah dan sarana pemberdayaan yang handal bagi orang-orang miskin, orang-orang yang berpenghasilan rendah terutama berupaya menjawab berbagai kebutuhan mendesak (uang) para guru, dosen, pegawai dan karyawan Yayasan Nusa Taruni Bakhti yang terkena dampak langsung bencana gempa bumi menghantam Flores tanggal 12 Desember 1992. Di atas reruntuhan itu mereka membangun Koperasi Kredit Serviam (saya mengabdi tanpa pamrih).
MEMBANGUN DARI APA YANG ADA
Perjalanan pertumbuhan dan perkembangan Koperasi Kredit ini ada jatuh dan bangun seperti bayi yang baru berlatih untuk jalan. Walaupun demikian koperasi kredit yang pada awalnya hanya diperuntukkan bagi orang-orang lingkungan Yayasan, sejak tahun 2001 mulai membuka pintu keanggotaan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Ende, pertumbuhannya terus menampakkan hasil yang signifikan: per 31 November 2009; anggota: 1.457, asset: 5,4 M dan modal 3,08 M.
Modal ini dikumpulkan dari kekuatan sendiri, mereka menghemat dari pendapatannya dalam jangka waktu 16 tahun mencapai 3,08 Milliar apabila terus dipacu dan didorong maka perhitungan kasar penduduk Kabupaten Ende misalnya: 20.000 saja maka asset yang dimiliki masyarakat : 20.000 x 3,706,246 = Rp.74.124.914.207 (3,706,246 diperoleh dari 5,400,000,000 : 1.457) dan apabila kita menabung 10 tahun dari sekarang (2009) berarti 2019 = Rp. 74.124.914.207 x 10 (thn) = Rp. 741.249.142.073. Masih pantaskah kita menerima raskin dan blt....???
Jika kita tidak secara serius melakukan ini maka kita dan generasi kita turun-temurun terus mendapatkan ‘raskin dan blt’ sampai dunia akhirat.
Beras Miskin atau raskin dan BLT (Bantuan Langsung Tunai) merupakan musuh keswadayaan dan martabat manusia. Sebab melalui berbagai program (apalagi bersifat proyek) akan semakin mematikan kreativitas masyarakat untuk berusaha sekeras mungkin mempertahankan hidup (e’lan vitae) dan semakin meninabobokan mereka. Proyek ini juga akan mewarisi kepada generasi berikut : “generasi yang hanya tahu menerima tanpa mau bekerja keras” sehingga tidak heran banyak orang mencari jalan pintas dan melahirkan kerusuhan sosial baik di kota terutama sekarang mulai di desa.
Mungkin program padat karya yang sharing kapital dari pemerintah dengan sharing tenaga masyarakat rasanya memiliki nilai lebih ketimbang memberikan uang tunai atau beras raskin. Beras raskin dimakan oleh anak-anak akan melahirkan juga otak miskin, cara berpikir miskin sehingga benang kusut kemiskinan atau penyakit turunan kemiskinan tak akan terobati dan tidak akan tersembuhkan.
Berdasarkan refleksi pengalaman pribadi sudah kurang lebih 12 tahun berkiprah di koperasi kredit, saya mempunyai 1 kesimpulan sederhana bahwa gerakan ini lebih menggerakkan masyarakat untuk hidup mandiri dari apa yang ada pada mereka (pengatahun, ketrampilan, sikap/perilaku) yang disokong dengan berbagai sumber daya alam yang ada. Juga ketika saya ke Thailand, Koperasi Kredit di sana memobilisasi sikap hidup hemat dengan menabung serta memprakarsai lahirnya jiwa kewirausahaan anggota (masyarakat) yang akhir-akhir ini menghasilkan kurang lebih 3-4% penduduknya berwirausaha dan mengurangi jumlah masyarakatnya untuk memilih bekerja sebagai orang upahan.
Tentunya semua mimpi tersebut tidak mudah untuk direalisasikan namun paling kurang secara strategis; cara kerja pemberdayaan ala koperasi kredit rasanya lebih cocok untuk masyarakat kita menuju standar ideal negara maju secara ekonomis sekurang-kurang penduduknya 2,5% bergerak di bidang wirausaha.
MEMBANTU TUGAS PEMERINTAH
Cara kerja dan mekanisme pelayanan Koperasi Kredit yang mengandalkan keswadayaan, pendidikan dan solidaritas tidak untuk dirinya sendiri. Melalui cara dan sudut pandang berbeda ikut membantu memberdayakan anggota dan masyarakat yang sama yang menjadi titik fokus kerja pemerintah.
Walaupun kadang-kadang kita berbeda dalam cara dan sudut pandang namun kita memiliki visi dan misi yang sama untuk memberdayakan anggota (masyarakat) keluar dari lilitan kemiskinan. Kita bersama-sama mengurai benang kusut kemiskinan yang menjadi musuh bersama turun-menurun.
Anggota sedang mengikuti RATKoperasi Kredit Serviam dalam keseluruhan kiprahnya baik langsung maupun tidak langsung telah, sedang dan akan membantu tugas-tugas pemerintah sehingga diharapkan saat-saat mendatang ada kerjasama yang lebih aplikatif dan saling menguntungkan dalam nuansa saling percaya yang jujur. Tidak diharapkan ada usaha saling menciderai.
MELIBATKAN AKTIVIS YANG SE-IDE
Koperasi Kredit Serviam sejak awal pembentukannya selalu melibatkan berbagai pihak yang se-ide, se-pikiran agar se-tindakan untuk memberdayakan masyarakat akar rumput dalam perspektif keswadayaan, pendidikan dan solidaritas.
Oleh karena itu Koperasi Kredit Serviam senantiasa merangkul sekolah-sekolah (SD-SMA) meski belum optimal, Yayasan, Perguruan Tinggi (ada pribadi-pribadi yang menjadi anggota) juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa melakukan penelitian untuk penulisan skripsi, LSM baik lokal maupun internasional, Akta Notaris, Media Massa (terutama Flores Pos), Media Elektronik (RRI-Ende) serta Pemerintah setempat (Dinas Koperasi) selain kerjasama jejaring Puskopdit, Inkopdit, ACCU dan WOCCU.
Kita bekerja sama untuk membangun paradigma cara berpikir baru bagi masyarakat menuju habitus baru yang lebih mengandalkan keswadayaan, kewirausahaan dan kesejahteraan yang bermartabat.
TERBIT BUKU BUNGA RAMPAI
Bermula dari suara-suara dan sekaligus rekomendasi anggota dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2008 agar pengurus menerbitkan buku bunga rampai untuk menceritakan kepada anggota, masyarakat dan pihak III terutama generasi penerus tentang apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan aktivis Koperasi Kredit Serviam.
Para generasi penerus harus memiliki sikap optimis dan moralitas harapan memberdayakan kehidupannya yang lebih bermartabat melalui wadah Koperasi Kredit Serviam Ende.
Menerbitkan buku .... suatu pekerjaan sangat besar dan memakan waktu serta biaya yang tidaklah kecil. Lalu apakah buku itu bermanfaat bagi anggota bahkan tidak sebaliknya membebankan anggota?
Namun itulah kenyataan. Anda memiliki kebebasan untuk memilih, mengapa Anda memilih untuk tetap berada dalam keadaan yang sama setiap harinya?
Buku Bunga Rampai ini bukan buku yang super hebat. Namun kami yakin buku ini bisa membantu membuka wacana bagi kita semua. Buku ini lebih banyak bercerita tentang pengalaman, sejarah pembentukan, opini tentang strategi mengatasi kemiskinan, tips-tips untuk berwirausaha dan hal-hal menarik lainnya yang bisa memberikan rasangan dan suntikan ke otak sehingga berpikir positip dan bergerak lebih maju selangkah demi selangkah.
Buku Bunga Rampai ini merupakan buku pertama kami namun bukan yang terakhir. Kritik dan saran kami harapkan dari rekan-rekan aktivis koperasi kredit atau credit union dan sidang pembaca sekalian agar buku-buku karya kami selanjutnya lebih bermutu dan bermakna.
Terima kasih berlimpah kepada semua pihak yang telah terlibat pada penerbitan buku ini : Pemerintah Kabupaten Ende yang bersedia memberikan kata sambutan, General Manager Inkopdit-Jakarta, Para Penyumbang Tulisan, Tim Editor, Fungsionaris dan 1.457 Anggota Kopdit Serviam yang telah memberikan kepercayaan untuk menerbitkan buku ini serta semua saja yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu dan Tuhan Yang Maha Sempurna. “Kita tidak perlu ahli untuk memulai namun kita memulai untuk menjadi ahli”.
Ende, Desember 2009
Read more...
Kamis, 03 Desember 2009
Mengapa Angka 15 ???
(Kata Sambutan Ketua Kopdit Serviam untuk dimuat pada
Buku Bunga Rampai yang telah dilaunching di Ende, 19 Maret 2010)
Oleh Kosmas Lawa BaghoTentu menjadi pertanyaan banyak orang dan terutama kita sebagai anggota ataupun fungsionaris Koperasi Kredit Serviam bahwa mengapa kita rayakan 15 tahun koperasi kredit kita berkiprah di Kabupaten Ende pada tahun 2010? Apabila kita merujuk pada tahun pembentukan 09 Januari 1993 berarti sudah memasuki usia 17 tahun.
Inilah keunikan Koperasi Kredit Serviam yang sejak awal terus melakukan terobosan meski belum berkembang besar sesuai harapan kita semua. Angka 15, kita tarik dari tahun 2008. Tahun 2008 merupakan garis demarkasi kita menyatakan pengelolaan dilakukan secara profesional. Tahun ini juga Kopdit kita memenuhi target anggota 1000 lebih dengan kekayaan di atas 1 Milliar yang tahun-tahun sebelumnya untuk mencapai hal itu terasa tidak mudah dan mungkin hanyalah sebuah mimpi yang tak terwujudkan.
Syukur kepada Tuhan bahwa tahun ini bagaikan tahun rahmat lantaran kita juga secara swadaya membeli gedung pelayanan sendiri yang berluas 552 m2 di Jalan Eltari serta mendapat penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Ende sebagai Koperasi Kredit Terbaik Kabupaten Ende. Hingga per November 2009, anggota kita mencapai 1.457 orang dan kekayaan (asset) Rp. 5,4 M lebih.
Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bahwa pada tahun 2008 menjadi titik start kita merayakan berbagai keberhasilan kecil, merefleksi diri dan memberi makna tersendiri sebagai bekal berharga untuk menumbuhkembangkan Kopdit Serviam semakin JAYA dan ANGGOTA SEMAKIN SEJAHTERA ...!
ASSET KEBANGGAAN
Sadar atau tidak bahwa Koperasi Kredit Serviam merupakan juga anak kandung sebagai asset kebanggaan ibu pertiwi Kabupaten Ende yang berjuang bersama komponen masyarakat lain di daerah ini untuk mengurai benang kusut kemiskinan yang melilit sebagian besar masyarakat.
Kemiskinan masyarakat Kabupaten Ende bukan karena mereka tidak mempunyai ‘apa-apa’ untuk memenuhi kebutuhan dasariah namun lebih dikarenakan oleh kemiskinan cara berpikir (mindset) yang hanya menghabiskan tanpa suatu upaya yang serius dan sungguh-sungguh untuk menghemat dari berbagai pendapatannya dengan cara menabung.
Pada titik kritis inilah, Koperasi Kredit Serviam coba tampil untuk mengambil bagian dalam proses perubahan cara berpikir untuk keluar dari berbagai himpitan kemiskinan dan kemelaratan.
Bukan sesuatu yang luar biasa kontribusi yang diberikan Koperasi Kredit Serviam bagi masyarakat Kabupaten Ende namun hal yang biasa apabila dilakukan secara luar biasa akan memberikan dampak yang luar biasa juga.
TIDAK BERHENTI DISINI
Sesuatu yang baik patut dilanggengkan dan ditingkatkan kualitasnya. Para aktivis dan seluruh anggota Koperasi Kredit Serviam tidak boleh berpuas diri dan berhenti pada zona aman. Sebab 95% manusia di muka bumi ini selalu tergoda untuk berada pada zona aman dan tertidur. Mereka mulai malas untuk bergerak lebih maju. Mereka malas melakukan perubahan.
Padahal siapa yang tidak melakukan perubahan pasti akan terpuruk. Diharapkan kita tetap menjadi manusia yang 5% untuk terus menerobos hutan belantara persaingan agar menjadi salah satu lembaga pelayanan keuangan yang dapat dipercaya dengan ‘branding-designed’ yang tidak mudah dilupakan anggota dan masyarakat.
Kita merasa perlu untuk terus memperbaiki diri dan berubah, selalu ada cara dan sistem kerja yang lebih profesional, mekanisme dan prosudur yang lebih cepat serta produk-produk yang lebih bermutu. Hendaknya perubahan dan perkembangan organisasi kita bagaikan ‘never ending story’: sebuah cerita melodrama yang tak pernah selesai’.
S e m o g a!
Read more...
Rabu, 02 September 2009
Pelatihan Kompetensi Manajer Kopdit
Oleh Kosmas Lawa BaghoPertumbuhan dan perkembangan koperasi kredit dan pusat koperasi kredit (Puskopdit) dari sisi keanggotaan dan kekayaan secara nasional mengalami peningkatan yang cukup signifikan akhir-akhir ini. Pertumbuhan yang super cepat itu hendaknya didukung dengan kompetensi para pengelolanya terutama manajer atau general manajer (CEO: Chief Executif Office versi ACCU) sebagai epicentrum atau penaggungjawab utama operasional organisasi kita yang berlandaskan kemandirian, pendidikan dan solidaritas. Demikian suara Edy Subagio yang mewakili Pengurus dan Manajemen Inkopdit menggelegar dihadapan 44 peserta Pelatihan Kompetensi Manajer Koperasi Kredit Regio Timur di Aula Pusdiklat Puskopdit Bekatigade Timor-Kupang, tanggal 02 – 09 Agustus 2009.
Senada dengan itu, Chris Polo; Sekretaris Pengurus yang mewakili Pengurus Puskopdit Bekatigade Timor dalam acara pembukaan menyatakan bahwa semakin banyak orang terlibat pada jasa keuangan koperasi kredit dengan kemajuan yang cukup pesat sesungguhnya menjadi tantangan sekaligus peluang agar kita siap diri untuk menjadi pemenang di arena kompetisi bisnis. Lebih lanjut Polo menegaskan bahwa patut disadari seorang manajer sebagai ujung tombak untuk memajukan kopdit/puskopdit. Dengan demikian manajer juga harus kuasai hal-hal teknis.
“Disini kita saling sharing untuk dijadikan panduan bagaimana cara terbaik mengelola kopdit secara profesional. Diharapkan setelah pelatihan kompetensi manajer, para peserta bisa membawa oleh-oleh kompetensi yang baik untuk membangun puskopdit/kopdit yang lebih besar, kuat dan aman”. Beliau juga atas nama pengurus Puskopdit Bekatigade Timor menyampaikan ucapan selamat datang dan mohon maaf kepada peserta apabila ada kekurangan terutama besarnya ruangan pelatihan yang agak terbatas.
Ke-44 peserta pelatihan terdiri atas 21 utusan dari Puskopdit Swadaya Utama Maumere dibawah koordinasi ade Nong Baba, 12 utusan dari Kupang, Alor dan Rote, 4 utusan dari Maluku Utara (Kopdit AHA asuhan Romo Carrol), 5 utusan dari Puskopdit Manggarai Raya dan 2 utusan dari Ende-Ngada-Nagekeo. Mereka bagaikan ribuan warna bunga dengan kelebihan dan kelemahan yang menghiasi taman pelatihan untuk mendongkrak kompetensi manajer dan calon manajer gerakan koperasi kredit yang handal dan dapat dipercaya.
Pelatihan itu sendiri difasilitasi FX. Ari Setiawan (penanggungjawab) didukung para fasilitator muda: Edy Subagio (ES), Arina Kusuma Dewi (AKD), Abraham M. Paulson (AMP) dari Inkopdit-Jakarta serta fasilitator “terbang” Fl. Frediyanto (General Manajer Kopdit Obor Mas-Maumere)serta disokong kuat oleh panitia lokal; nona Lucy dan mas Yanto dari Puskopdit Bekatigade Timor-Kupang.
Pelatihan Kompetensi diawali dengan Orientasi Pelatihan yang dibawakan oleh FX. Ari Setiawan, Kabid Pendidikan Inkopdit setelah perkenalan peserta dan penetapan kesepakatan tata aturan selama kegiatan berlangsung. Yang menarik bahwa peserta yang melanggar aturan dikenakan sangsi pembayaran keuangan mulai dari Rp. 5000 s/d 50,000 dilihat dari besar kecilnya pelanggaran. Ari Setiawan dalam orientasinya menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, hasil yang diharapkan serta modul-modul materi pelatihan yang dijalankan selama 1 minggu.
Ke-8 modul kompetensi manajer yang diadaptasi dari modul CUCCC-ACCU adalah: Manajemen Dasar Kopdit, Perencanaan Strategis, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Resiko, Tata Kelola Kopdit yang Baik, Manajemen Perkreditan dan Manajemen Keuangan.
Menurut Ari Setiawan; perkembangan anggota, simpanan saham dan non saham dan aset koperasi kredit secara nasional memang cukup pesat dan nyata. Data nasional per 31 Desember 2008 menunjukkan angka-angka: ada 947 primer dengan jumlah anggota perorangan 1,154,208 orang, simpanan saham Rp. 1,4 triliun, non-saham: Rp. 3,4 triliun, pinjaman beredar Rp. 4,6 triliun, dana cadangan Rp. 128 miliar serta aset Rp. 5,7 triliun. Pertumbuhan naik 40% dari tahun 2007.
Pertumbuhan keuangan koperasi kredit yang mengelola keuangan masyarakat demikian pesat namun memiliki resiko yang cukup besar juga. Dalam menghadapi resiko yang akan timbul maka diperlukan orang-orang yang kompeten. Kompeten atau kompetensi adalah kombinasi antara ketrampilan (skills), atribut personal dan pengatahun (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (attitude) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Untuk mencapai itu semua harus diadakan suatu pendidikan dan pelatihan. Dalam nada ini, pelatihan kompetensi manajer dilaksanakan.
Dalam sesi Manajemen Dasar Kopdit, Ari menjelaskan tentang defenisi, ruang lingkup dan apa keinginan pengurus, manajer (staf) serta anggota. Manajemen adalah seni untuk merencanakan, mengorganisir, mengimplementasi dan mengawasi sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Manajer sebagai top-management harus peka terhadap kebutuhan anggota, staf dan pengurus (pengawas, penasihat).
Beliau juga menjelaskan ruang lingkup atau fungsi-fungsi manajemen yakni perencanaan (memikirkan rencana apa yang akan dikerjakan dengan sumber daya yang dimiliki: ingat orang tidak menilai rencana atau pikiran tetapi tindakan), pengorganisasian (menciptakan struktur dengan bagian-bagian yang terintegrasi, selaras dan efektif), penggerakkan (tindakan untuk menggerakkan segala sumber daya agar mencapai sasaran secara optimal), pengawasan (tindakan manajer untuk menilai pencapaian kegiatan yang mengarah pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan).
Untuk bisa menjalankan tugas secara sukses maka manajer perlu memiliki ketrampilan teknis, ketrampilan konseptual dan ketrampilan komunikasi. Melengkapi berbagai ketrampilan demikian, manajer juga harus paham tipe atau gaya kepemimpinan sesuai staf yang ia hadapi. Peserta dibekali dengan test untuk mengetahui gaya kepemimpinannya yakni Telling, Selling, Participating dan Delegating dengan skor jika mendapat nilai 30-36: sangat tinggi, 24-29: moderat dan 0-23: perlu peningkatan untuk mampu menyesuaikan gaya. Saya sendiri mendapat nilai akumulatif : 19 artinya masih perlu belajar banyak untuk menjadi manajer yang efektif dan berhasil.
Sesi berikutnya kami ditawarkan materi perencanaan strategis oleh fasilitator cantik Arina Kusuma Dewi (AKD). Ia memulai dengan meminta peserta membuat puri di udara secara berkelompok untuk mengetahui ketrampilan perencanaan dan hal-hal teknis yang harus dilakukan manajer. Ada berbagai ragam hasilnya. Ada yang tinggi sekali tetapi fundasinya tidak kuat. Ada yang fundasinya kuat tetapi purinya rendah sekali. Ini menunjukkan perbedaan pengatahun, ketrampilan dan keuletan masing-masing manajer di lapangan bakhti dengan aneka ragam tantangannya. Ada banyak penjelasan tentang Perencanaan Strategis seperti yang telah kita peroleh bahkan kita buat selama ini seperti: pra-perencanaan, analisa swot, pernyataan visi-misi, tujuan jangka panjang, sasaran jangka pendek, rencana strategis, rencana taktis, anggaran, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Sebagian peserta bisa membuat PS secara baik tetapi ada juga yang masih butuh bimbingan dan pembelajaran lebih lanjut.
Materi Manajemen Sumber Daya Manusia difasilitasi oleh auditor Inkopdit, Edi Subagio. Cakupan penjelasannya cukup luas dan lengkap. Yang menarik bahwa ia menyinggung SDM dalam takaran atau standarisasi accesbranding serta dalam tinjauan UU Koperasi No. 25 Tahun 1992.
Ari Setiawan melanjutkannya dengan sesi Marketing. Ia membuka dengan permainan 3 vs 3 secara berhadapan dengan 1 orang sebagai pembatas serta meminta peserta sebagai manajer memberi petunjuk: setiap orang hanya boleh melangkah ke depan 1x dan tidak boleh mundur sampai akhirnya 3 orang sebelahnya berada secara berurutan pada tempat ke-3 orang disebelahnya. Semua peserta mencoba memberikan komando tetapi tidak ada satupun yang berhasil. Nampaknya sulit ternyata bisa dilakukan secara sukses oleh mas Ari. Marketing atau pemasaran adalah mencari sesuatu yang unik atau berbeda. Ia juga menyinggung tentang service excellent.
Ada 3 tingkatan servis atau pelayanan yakni servis dasar: servis minimal, servis sesuai harapan anggota dan servis melebihi harapan anggota. Servis melebihi harapan anggota itulah service excellent. “Manajer mau pilih tingkatan servis yang mana...?” tanya Ari menantang peserta.
Kami juga dibekali secara berturut-turut dengan materi Manajemen Resiko serta sharing SDM oleh Fl. Frediyanto, Perpajakan Kopdit oleh Edi Subagio, Tata Kelola yang Baik oleh Ari Setiawan, Manajemen Perkreditan oleh Edi Subagio, Manajemen Keuangan oleh Edi Subagio yang dilengkapi dengan Pembuatan Arus Kas oleh Abraham M. Paulson (AMP). Materi-materi ini disimpulkan dengan ujian tertulis serta studi lapangan pada Kopdit Serviam-Penfui, Samijaya, Adiguna, Swastisari dan Solidaritas.
Sesungguhnya pelatihan ini sangat membantu para peserta dalam mempersiapkan diri bagi yang belum manajer dan meningkatkan kompetensi dirinya bagi yang sekarang sedang memangku jabatan manajer baik di kopdit primer maupun di puskopdit untuk mengelola organisasinya secara profesional sesuai kompetensi yang dimiliki. Patut disadari bahwa profesionalisme dan kompetensi mampu mengarahkan koperasi kredit/puskopdit untuk berkompetisi secara sehat dan unggul di tengah pacuan bisnis yang super cepat kemajuan dan perkembangan saat ini. Apalagi menghadapi era pasar bebas ... tuntutan kompetensi sudah seharusnya dilakukan.
Namun demikian masih ada saja masukan kritis dari peserta untuk lebih meningkatkan mutu pelatihan agar tidak berhenti pada tataran teoretis namun sudah harus lebih aplikatif sesuai kondisi masing-masing kopdit/puskopdit. Tentu kita ada banyak kepala berarti ada seribu satu cara berpikir atau persepsi yang berbeda. Berbagai masukan kritis tidak melemahkan para fasilitator yang telah bekerja optimal serta mengurangi mutu pelatihan atau ada pikiran sesat bahwa pelatihan itu tidak penting tetapi harus dilihat dalam kerangka membangun sesuatu yang lebih berkualitas dan berkompeten ke depan. Tentu teori atau praktek bagi kita sebagai praktisi koperasi kredit masih harus diperdebatkan karena teori tanpa pratek adalah bohong tetapi praktek tanpa landasan teori yang benar adalah omong kosong.
Maka bijaklah kita menyimak pepatah tua mengatakan,”Kita tidak harus ahli untuk memulai tetapi kita harus memulai untuk menjadi ahli”. Semoga pelatihan ini membawa efek positif peningkatan kompetensi manajer dan calon manajer nusantara yang berdampak pada semakin profesionalnya pengelolaan organisasi kita hari ini terutama pada hari depan.
Tidak berarti juga bahwa pelatihan ini meneguhkan pemikiran yang sedang berkembang dalam gerakan kita akhir-akhir ini yakni mau menciptakan dan mencetak manajer abadi atau manajer seumur hidup tanpa tergantikan dengan satu alasan bahwa yang berhak berkompetisi menjadi calon manajer adalah mereka yang telah lulus pelatihan kompetensi manajer atau versi ACCU dinamakan CUCCC. Penempatan seseorang pada suatu jabatan apapun dalam Koperasi Kredit, Puskopdit, Inkopdit harus tetap berpegang teguh pada kompetensi yang dimiliki atau bahasa pemerintah, ‘The right man on the right place’ atau ‘The right place special for the right man’.