Oleh Kosmas Lawa Bagho BK3D Sumba bekerja sama dengan Ford Foundation Menggelar Pelatihan Manajemen Usaha, CUDCC (Kompetensi Pengurus) dan Manajemen Kepengawasan selama satu minggu, sejak tanggal 25 hingga 30 Juni 2012 di aula Kaori, Delsos Sumba Barat, Waikabubak, Nusa Tenggara Timur dengan fasilitator tunggal, Kosmas Lawa Bagho, Kepala Bidang SDM Puskopdit Flores Mandiri, Ende, Flores. Sumber daya manusia (SDM) merupakan investasi paling vital dan sangat menentukan bagi maju mundurnya gerakan koperasi kredit. Sejak berdiri pertama kali oleh Frederich Wilhelm Raiffeisien di Flamersfield, Jerman (1864), gerakan credit union atau koperasi kredit senantiasa memperhatikan secara sungguh-sungguh pengembangan sumber daya manusianya. Gerakan ini bahkan mempermandikan dirinya dengan moto yang sangat fenomenal “Koperasi Kredit berasal dari pendidikan, berkembang karena pendidikan dan dikontrol oleh pendidikan” dengan mengandalkan tiga pilarnya yang saling menguatkan satu sama lain “swadaya, pendidikan dan solidaritas”. Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Sumba sungguh menyadari bahwa oleh karena kurangnya perhatian pada program pendidikan dan pelatihan baik bagi anggota maupun fungsionaris menyebabkan koperasi kredit/CU maupun BK3D Sumba sendiri mengalami stagnasi dalam kemajuan dan pertumbuhannya. Sehingga tidak heran ada koperasi kredit yang sudah mulai bertunas tahun 70—80 an sepertinya tidak memiliki dampak apa-apa bagi anggota khususnya dan masyarakat Sumba secara keseluruhan. Pada hal dari sisi potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia, orang-orang Sumba tidak kalah-kalah amat dengan manusia di pulau lain di Indonesia bahkan di dunia. “Pertumbuhan dan perkembangan koperasi kredit/CU dan BK3D Sumba cukup stagnan apabila dibandingkan dengan BK3D atau Puskopdit di tempat lain terutama yang dulu sempat bergabung dalam satu payung dengan BK3D NTT Barat yang mencakup Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada (sebelum pemekaran), Kabupaten Manggarai (sebelum pemekaran). Ada banyak faktor yang menyebabkannya,” tegas Pastor Cypri M. Leyn, CSsR. Lebih lanjut, pastor yang rajin berkeliling dari kampung ke kampung untuk memotivasi bangkitnya kembali koperasi kredit atau credit union di Sumba menegaskan bahwa dari sekian banyak faktor tersebut, faktor penyebab utama adalah perubahan mindset atau cara berpikir yang belum memadai dalam hal pengelolaan CU lantaran kurangnya atau tidak adanya program pendidikan dan pelatihan secara teratur, padahal salah satu pilar koperasi kredit/CU adalah pendidikan. Untuk itu, mulai tahun 2012 ini, pendidikan bagi pengurus, manajemen dan anggota sambil membenah tata pengelolaan yang baik, benar dan transparan menjadi prioritas. “Sebelumnya, kami telah menghadirkan Stephanus Siagian dan Abraham Paulson dari Inkopdit-Jakarta untuk memberikan pelatihan manajemen keuangan serta melakukan berbagai pembenahan pembukuan menyangkut mis-management baik di koperasi kredit terutama di BK3D serta Bernard Situngkir, selama sepekan memfasilitasi Pelatihan Sikopdit CS. Kami berharap kalian semua bisa memberikan masukan-masukan berharga agar koperasi kredit/CU dan BK3D Sumba bisa bangkit kembali untuk ‘berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dan berlari sama cepat’ dengan gerakan di seluruh Indonesia. Tahun ini merupakan tahun kebangkitan. Kami sudah ada komitmen bersama menuju BK3D dan Kopdit 1000 anggota dengan asset minimal Rp1 milaiar hingga tahun 2015”, urai Pastor Cypri yang juga Ketua BK3D Sumba periode 2010-2015 itu. Sementara itu, Kosmas Lawa Bagho, hanya menyampaikan terima kasih berlimpah atas kepercayaan segenap pengurus, manajemen dan anggota koperasi kredit dan BK3D Sumba yang telah mempercayakan Puskopdit Flores Mandiri untuk sharing pengatahuan dan pengalaman pengelolaan koperasi kredit dan puskopdit. “Kami juga pernah mengalami masa-masa krisis sekitar tahun 1997-an sampai awal tahun 2000. Yang kami lakukan adalah konsolidasi dan reposisi keanggotaan koperasi kredit dengan indikator yang lebih jelas dan tegas seperti pelayanan harus harian, memiliki kantor tetap baik milik sendiri ataupun sewa, ada pemisahan yang tegas antara pengurus sebagai penetap kebijakan dan manajemen sebagai pelaksana operasional, menggunakan IT (komputerisasi), anggota minimal 1000 orang dan asetnya minimal Rp1 miliar dalam waktu dua sampai tiga tahun serta setiap dua atau tiga tahun selalu diakreditasi kembali. Ternyata diiringi dengan kerja keras dan doa, koperasi-koperasi kredit bisa bangkit dari krisis”, demikian Kosmas memberikan motivasi pada acara pembukaan. Harus Miliki Pencatatan Usaha Hari pertama dan kedua, tanggal 25-26 Juni 2012, pembimbing dan peserta berdiskusi serta mendalami materi manajemen usaha. Pelatihan manajemen usaha didominasi para anggota koperasi kredit/cu yang memiliki usaha seperti kios, pertanian, peternakan, papa lele (semacam pedagang kaki lima), pertukangan dan perbengkelan. Mereka berasal dari 7 koperasi kredit dengan 38 peserta. Semuanya larut dalam permenungan untuk mengusahakan agar usaha atau bisnis mereka bisa berkembang ke arah yang lebih baik dengan didukung pencatatan arus keuangan yang lebih terarah serta permodalan yang lebih memadai. Kebanyakan dari mereka membuka usaha tanpa perencanaan apalagi uji kelayakan jenis usaha di suatu tempat atau wilayah. Membuka usaha hanya karena tetangga sebelah membuka usaha bahkan kadang dari anggota koperasi kredit yang sama juga membuka usaha yang sama dengan produknya yang hampir sama. Hal ini diperkuat dengan ungkapan tulus dalam diskusi-diskusi kelompok yang dilakukan selama pelatihan berlangsung. Peserta umumnya mengungkapkan kendala-kendala seperti: melaksanakan usaha secara konvesional tanpa analisa kelayakan apalagi menghitung laba-rugi usaha, belum memisahkan keuangan bisnis dengan keuangan rumah tangga, tidak punya pencatatan (buku kas harian), kurangnya modal untuk berusaha lantaran koperasi kredit belum mampu memenuhi kebutuhan modal perputaran usaha, ada serangan penyakit (usaha ternak dan pertanian), persediaan bahan makan (ransum) yang cukup mahal, urusan adat dan pesta yang berlebihan serta adanya mental bon yang tidak segera bayar atau bahkan tidak bayar sama sekali termasuk pencurian. Untuk menjawab sebagian kendala yang disampaikan peserta maka pembimbing mengintrodusir materi-materi seperti pengenalan bisnis atau usaha (memilih usaha sesuai potensi orang yang menjalankannya serta potensi pasar), studi kelayakan (melihat kelayakan usaha pada suatu tempat tertentu), perhitungan laba-rugi usaha, resiko usaha, analisa titik pulang pokok usaha (Break Event Point=BEP), membuat proposal usaha, tips sukses usaha dan pengaturan keuangan (membuat buku kas harian dan buku persediaan serta buku penjualan). Selain itu, pengusaha perlu memiliki tips khusus agar bisa berhasil menjalankan dan mengembangkan usaha yang sedang dirintis secara lebih memadai. Sembari menyitir tulisan Redaksi Indonesia Cerdas dalam buku berjudul “Untung Besar dengan Modal 2 Juta Rupiah”, Kosmas Lawa Bagho menegaskan bahwa para pengusaha sukses harus memiliki tips-tips tersendiri yakni siapkan mental menjadi pengusaha, memiliki visi, misi usaha yang jelas, memiliki keyakinan bahwa berusaha itu gampang, tidak takut modal kere, mencari tempat usaha yang strategis, pertimbangkan manajemen resiko, cerdas menyikapi kegagalan, cerdas memperlakukan laba dan asah terus kreativitas maupun kemampuan. Tidak kalah penting, para pebisnis/pengusaha hendaknya juga memperhatikan pencatatan arus keuangan usaha. Tanpa pencatatan yang baik dan teratur maka pebisnis tidak bisa mengetahui laba-rugi dan memang lebih banyak usaha bersangkutan tidak memberikan daya ungkit bagi peningkatan pendapatan ekonomi keluarga yang menyebabkan kredit macet pada koperasi kredit. Apalagi pebisnis yang sebagian besar anggota koperasi kredit itu tidak mendapatkan pelatihan maupun pendampingan yang memadai. CUDCC dalam Konteks Implementatif Materi CUDCC yang diperkenalkan ACCU-Bangkok sungguh luar biasa dan mengandaikan koperasi kredit/CU yang sudah besar jumlah anggota, besar jumlah modal maupun aset serta pelayanan yang seharusnya sudah menuju profesional. Untuk itu, pembimbing meramu materi dimaksud dalam konteks implementasi yang sudah diterapkan di Puskopdit Flores Mandiri, Ende. Berbagai materi CUDCC diadaptasikan dengan kondisi riil koperasi kredit para peserta di BK3D Sumba namun hal-hal prinsipiil tetap diintrodusir. Yang mengikuti CUDCC (Credit Union Director’s Competency Course = Pelatihan Kompetensi Pengurus Koperasi Kredit) sebanyak 43 orang, utusan 9 kopdit dari hampir 20 buah koperasi kredit. Peserta secara tekun mendalami dan mendiskusikan materi-materi mulai dengan orientasi pelatihan, profil kopdit dan BK3D Sumba sejak tahun 1995 (berdiri sendiri dari BK3D NTT Barat yang kini Puskopdit Flores Mandiri) sampai Juni 2012 dan rencana ke depan, kopdit di pasar keuangan, tugas dan wewenang pengurus, pengembangan produk, analisa pearls, manajemen sumber daya manusia, administrasi kredit, tata kelola yang sehat dan perencanaan strategis. Diskusi pengurus dan pengawas menghangat adalah hal-hal yang menyenangkan periode 1995 sampai Juni 2012, yakni adanya kemudahan membuka koperasi kredit hanya dengan anggota awal 25 orang, tidak ada aturan yang mengikat dalam simpan-pinjam dan hanya bermodalkan saling percaya, adanya perlindungan/daperma, ada jasa simpan dan pinjam, membuka lapangan kerja baru (khusus Kopdit Merandiate yang telah memiliki manajer dan staf dengan anggota 3,000 dan aset Rp5 miliar lebih per Mei 2012 sementara yang lain rata-rata anggota baru 100-300 orang dengan aset Rp25.000.000-Rp300.000.000), mensejahterakan anggota namun ada hal yang menyakitkan seperti susah mendapatkan anggota baru (trauma dan kurang percaya), tidak ada pemahaman dan pengetahuan pengurus, tidak ada pembagian peran yang jelas, pengurus sekaligus pengelola, pelayanan masih bulanan, kerjasama pengurus kurang, bekerja tanpa upah, pelayanan pinjaman belum sesuai kebutuhan dan kredit macet. Hal yang menjadi harapan adalah pasar anggota masih luas (kopdit-kopdit masih terpaku pada ikatan pemersatu dan belum terbuka pada semua masyarakat), pengembangan produk non saham (selama ini belum ada kopdit yang membuka produk non saham), pembukaan cabang-cabang pelayanan, perubahan pelayanan dan kemampuan pengurus maupun pengawas serta manajemen, penggunaan IT dan kantor yang megah sebagai promosi sedangkan tantangannya adalah promosi Kopdit/CU masih lemah, masyarakat dan anggota belum memahami pengelolaan kopdit/CU yang sungguh-sungguh, masyarakat belum yakin dengan kopdit/CU, tradisi hidup boros dengan adat-istiadat yang masih konsumtif, persaingan bisnis dengan lembaga keuangan lain. Peserta yang sebagian pengurus dan pengawas berjanji untuk mengubah proses pengelolaan koperasi kredit agar bisa lebih maju ke depan dengan tetap memfokuskan diri pada pelatihan dan sharing pengalaman dari para praktisi yang telah secara sukses mengembangkan koperasi kredit. CUDCC ditutup dengan rencana strategis yang lengkap dalam bingkai rancangan 4 aspek Accesbranding (Keuangan, Keanggotaan, Bisnis Internal dan Pendidikan maupun Pembelajaran) dengan target-target yang lebih jelas, konkret dan mudah dicapai. Kompetensi Pengawas Organisasi keuangan yang sehat dan dinamis seperti koperasi kredit/credit union juga membutuhkan pengawas yang cerdas bahkan pengawas hendaknya lebih cerdas dari pengurus dalam aspek organisasi, keuangan dan manajemen agar mampu mengontrol serta mengevaluasi kinerja kerja pengurus. Bagaimana mungkin, pengawas bisa melakukan pengontrolan dan pengawasan keseluruhan kinerja kunci organisasi dan keuangan koperasi kredit, apabila pengawas tidak memiliki kompetensi, apalagi pengawas tidak mampu membaca neraca dan seluk beluk siklus akuntansi keuangan koperasi kredit yang standar. Untuk itu, kompetensi pengawas mutlak perlu dan sama pentingnya dengan kompetensi pengurus maupun manajemen. Menarik dalam berbagai diskusi kelompok mengemuka bahwa ada koperasi kredit/CU yang personel pengawasnya tidak pernah melakukan pemeriksaan ataupun pengawasan lantaran belum pernah mendapatkan pelatihan atau orientasi tentang kepengawasan. Peserta sungguh berterima kasih kepada BK3D Sumba yang boleh mengadakan pelatihan manajemen kepengawasan meski ada beberapa pengawas koperasi kredit tidak bisa mengikutinya karena kesibukan sebagai orang-orang profesional pada lembaga pemerintahan, lembaga agama maupun lembaga pendidikan. Selama dua hari, tanggal 29-30 Juni 2012, pengawas berproses bersama pembimbing dalam diskusi, tanya jawab dan presentasi dengan materi-materi seperti: fungsi,tugas dan wewenang pengawas, kode etik pemeriksaan, prosedur pemeriksaan (bidang hukum, organisasi, keuangan, permodalan dan manajemen), analisa pearls, jadual kegiatan pengawas dan pelaporan pengawas. Para peserta menerima dan berpartisipasi dalam diskusi-diskusi dengan penuh antusias hanya kurang dalam proses praktek lapangan lantaran waktu yang disediakan hanya dua hari. Peserta berharap pelatihan jenis ini diadakan lagi dan dengan ketersediaan waktu yang lebih memadai agar bisa langsung praktek pemeriksaan agar tugas dan tanggungjawab pengawas lebih optimal di koperasi kredit maupun BK3D, dengan demikian diharapkan “Gerakan Kopdit/CU dan BK3D bangkit menuju 1000 anggota dan asset Rp1 miliar, bisa lebih cepat terrealisasi”. Keseluruhan pelatihan selama sepekan diakhiri dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk dievaluasi setiap tiga bulan dan evaluasi peserta terhadap materi yang disajikan, gaya dan metode penyajian pembimbing, pelayanan panitia termasuk akomodasi dan konsumsi. Peserta umumnya menyampaikan rasa puas lantaran materi sangat menyentuh langsung dengan kebutuhan peserta baik dalam pelatihan manajemen usaha, CUDCC (kompetensi pengurus) dan kompetensi pengawas. Metode yang disampaikan juga cukup membantu peserta lebih cepat memahami materi terutama disampaikan dengan bahasa yang sederhana, berangkat dari praktek (pengalaman praktis) serta didukung dengan metode diskusi, bermain sambil belajar serta penayangan video. Andreas Ng.B. Ole, Sekretaris Pengawas yang mewakili Pengurus BK3D Sumba pada akhir acara menyampaikan terima kasih kepada Puskopdit Flores Mandiri yang bersedia mengirimkan orang kepercayaannya untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan dengan sangat baik. “Kami masih berharap agar saat-saat mendatang tidak berkebratan apabila kami membutuhkan untuk terus memberikan penyegaran, pengatahuan dan pengalaman pengelolaan koperasi kredit/CU sebab selama ini kami berjalan dalam kegelapan di hutan belantara sehingga koperasi kredit dan BK3D kami belum bertumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya,” urai Andreas lebih lanjut. Kepada para peserta beliau mengharapkan agar apa yang telah diperoleh dan telah dirumuskan dalam RTL maupun Renstra perlu diimplementasikan secara serius dan sungguh-sungguh. Kosmas Lawa Bagho mengakhiri kesan dan pesan terakhirnya dengan menceritakan kembali cerita “seekor burung” yang pernah dilontarkan oleh Trisna Ansarli, mantan fasilitator Inkopdit yang sekarang mengabdi di Yayasan BK3I-Jakarta. Konon suatu kali seorang pemuda desa merasa penasaran dengan sang penatua di desanya yang selalu dikerubuti orang-orangnya sebagai orang yang selalu benar dalam hal meramal masa depan setiap orang yang datang kepadanya. Pemuda tadi pergi mencari ilmu di kota lalu kembali ke desanya untuk mengalahkan sang penatua tadi. Ia membawa seekor burung pada genggamannya dan meminta sang penatua meramalkan apakah burung yang ada pada genggamannya itu mati atau hidup. Sang penatua berpikir sejenak dan dengan suara berwibawa, dia berkata, “Hai anak muda, burung yang ada pada genggaman anda itu hidup atau mati tergantung pada genggaman tangan anda.” Sang penatua benar sebab jika beliau mengatakan bahwa burung itu mati maka anak muda tadi membiarkan burung itu hidup tetapi apabila sebaliknya maka anak muda akan memencet burung itu mati. Kosmas hanya mengatakan bahwa pelatihan selama sepekan (25-30 Juni 2012) mulai pelatihan manajemen usaha yang dihadiri oleh para anggota koperasi kredit, pelatihan kompetensi pengurus (CUDCC) dan manajemen kepengawasan yang dihadiri sebagian besar pengurus, pengawas maupun manajer dan staf, bermanfaat atau tidak sangat bergantung pada perubahan mindset, kerja keras dan kecerdasan para peserta sendiri. Kosmas juga berharap agar apa yang telah ditulis secara sadar pada rencana tindak lanjut (RTL) ataupun rencana stragis perlu diwujudnyatakan dalam tindakan sebab motto koperasi kredit adalah “melaksanakan apa yang diwartakan dan mewartakan apa yang dilakukan”. Dengan demikian, cita-cita 1000 anggota dan aset Rp1 miliar tidak tunggu sampai tahun 2015 dan pelatihan yang diikuti selama ini tidaklah sia-sia. Kepengurusan BK3D periode 2010-2015 Dewan Pimpinan: Pastor Cypri M. Leyn, CSsR (Ketua), Bernard Bora Lamunde (Wakil Ketua), Joseph Edu Bha, Amd (Sekretaris), Dominica Woda Lado (Bendahara). Panitia Kredit: Antonius K. Bili (Ketua), Yosef Rangga Kapodo (Sekretaris), Marsel Rana (Anggota). Panitia Pendidikan: Raymundus Woge (Ketua), Agustina Bulu (Sekretaris), Agustinus S. Rua (Anggota). Badan Pengawas: Lukas Manja (Ketua), Andreas Ng.B. Ole, SST (Sekretaris), Vincent Ng. Righuta (Anggota). Manajemen: Anselmus Tana (Manajer), Alfonsus Pon (Petugas Lapangan), Yohana Nuna Dama, S,Kom (Adum). Read more...
Rabu, 25 Juli 2012
Pelatihan Pelatih (ToT) Pendidikan Dasar Kopdit Khusus Perempuan
Oleh Kosmas Lawa Bagho
Menyadari peran perempuan belum optimal dalam mengaktualisasikan potensi yang dimiliki serta masyarakat perempuan kadang kurang terlibat aktif dalam keseluruhan kiprah pengelolaan koperasi kredit sebagai fungsionaris maupun sebagai anggota maka Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri yang berkedudukan di Ende, Flores melakukan Pelatihan Pelatih (ToT) Pendidikan Dasar Kopdit Khusus Perempuan di Aula Pusdiklat Puskopdit Flores Mandiri dalam dua gelombang yakni Gelombang Pertama tanggal 9-11 Mei 2012 dengan melibatkan 18 orang peserta dari 14 utusan kopdit dan Gelombang Kedua tanggal 30 Mei – 1 Juni 2012 melibatkan 13 peserta dari 8 utusan kopdit. Drs. Mikhael Hongkoda Jawa, Manajer Puskopdit Flores Mandiri baik dalam acara pembukaan dan penutupan kegiatan pelatihan ini menegaskan bahwa selama ini kami masih memprioritaskan laki-laki. Sesungguhnya sejak awal pendirian koperasi kredit atau Puskopdit senantiasa memiliki kepedulian yang sama antara peran laki-laki dan peran perempuan. Orang lebih mengenalnya dengan kesetaraan gender. Namun patut diakui bahwa kadang peran perempuan belum diperhatikan atau potensi perempuan belum dioptimalkan dalam proses pengembangan koperasi kredit. Untuk itu momen ini merupakan pintu pembuka, Puskopdit memberikan perhatian yang sama besar kepada perempuan. Perempuan biasanya menyentuh pribadi-pribadi anggota atau calon anggota dengan hati maka anggota maupun calon anggota lebih merasa tersentuh dan mulai terlibat secara aktif di dalam koperasi kredit maupun Puskopdit. “Anda kalian yang hadir adalah utusan-utusan terbaik dari koperasi kredit dan bagi yang terbaik sebagai fasilitator akan juga dimanfaatkan untuk membantu Puskopdit dalam memfasilitasi anggota atau calon anggota khususnya perempuan. Untuk itu, manfaatkan momen ini sebagai investasi sumber daya manusia pribadi sebagai asset berharga bagi koperasi kredit dan Puskopdit” demikian tegas Mikhael, manajer yang dikenal sebagai pekerja keras dan suka melakukan terobosan. Pelatihan pelatih ini memiliki tujuan: Pertama, Menyiapkan peserta (khusus perempuan) untuk menjadi fasiltator pendidikan anggota yang berkemampuan dan terampil. Kedua, Agar peserta mampu memahami materi/modul dan strategi memfasiltasi pendidikan anggota koperasi kredit secara menarik, menyenangkan dan mudah dipahami. Ketiga, Meningkatkan kualitas fasiltator perempuan untuk pendidikan anggota berbasis IT (menggunakan media PowerPoint). Selama tiga hari peserta dibekali diri dengan teori dan praktek. Materi yang diperoleh selama pelatihan yaitu Analisa Sosial (Ansos) untuk menyakinkan peserta agar mengubah mindset dalam menganalisis berbagai sebab kemiskinan, dampak dan akibat serta mencari jalan keluar agar litani kemiskinan secara turun-temurun bisa diminimalisir, Perencanaan Penerimaan dan Pengeluaran Keluarga (P3K), mengajak peserta juga membalik mindset pengelolaan keuangan keluarga agar bisa terciptanya keluarga yang harmonis, bahagia lahir-batin serta bijak mengatur keuangan rumah tangga, Jati Diri Koperasi untuk melihat apa keunikan koperasi (kredit) dibandingkan dengan lembaga keuangan lain, Sejarah dan Filosofi Koperasi Kredit agar peserta bisa memahami sejarah perjalanan dan filosofi dasar koperasi kredit yang dihidupi para perintis agar tidak melupakan sejarah dan setia pada jati diri untuk tidak terombang ambing oleh kemajuan saat ini. Juga modul Struktur Organisasi dan Landasan Hukum agar peserta memahami apa sih struktur organisasi dengan tugas, peran dan wewenang masing-masing struktur yang dipayungi landasan hukum yang terjadi di Republik ini dilanjutkan dengan Usaha dan Produk Pelayanan agar peserta tahu dan memahami apa produk utama pelayanan koperasi kredit yang didukung dengan pendidikan kritis serta perlindungan. Khusus perlindungan bisa yang dikembangkan oleh Inkopdit dalam bentuk Daperma tetapi juga di Puskopdit Flores Mandiri (SKP) serta yang dilakukan masing-masing koperasi kredit. Semua materi diatas dilengkapi dengan pembekalan tehnis mengenai komunikasi yang efektif, tehnis berbicara di depan umum secara menarik dan cerdas, bagaimana menggunakan media fasiltasi serta bagaimana menyikapi perilaku peserta (audiens) saat pelatihan. Untuk lebih mempertajam berbagai teori dibuat juga praktek memfasilitasi oleh masing-masing peserta dengan materi diundi lalu dinilai oleh fasilitator dengan memberikan catatan-catatan kritis agar menjadi fasiltator perempuan yang handal. Tujuan pelatihan serah dengan harapan yang diutarakan para peserta pelatihan baik gelombang pertama maupun kedua sebagai berikut: mampu menjadi yang baik dan handal meyakinkan pendengar serta peyajiannya menarik, memahami teknik-teknik fasiltasi dan mampu menerapkannya setelah pelatihan, menjadi fasilitator yang terpercaya dan patut diteladani, mampu berbicara di depan umum secara meyakinkan pendengar, meningkatkan jumlah anggota melalui fasilitasi yang meyakinkan calon anggota, mampu memfasilitasi materi pendidikan dasar koperasi kredit dan mengambil bagian dalam tim untuk melaksanakan pendidikan dasar koperasi kredit kepada anggota serta mendapatkan pengalaman fasilitasi dan hidup disiplin untuk terus belajar mengembangkan diri sebagai investasi pengembangan sumber daya manusia pribadi dan kelompok. Walaupun harapan begitu menjulang tinggi namun ada juga kekuatiran peserta pelatihan selama mengikuti pelatihan antara lain; tidak mampu memahami materi dalam waktu singkat (2-3 hari), gugup menghadapi pendengar (sebagian peserta yang berpendidikan), kurang percaya diri, kurang terampil berbicara di depan umum, takut ditertawakan pendengar, kurang mampu menjadi fasilitator yang menggugah pendengar, deman situasi, kaku dan tegang dalam memberikan materi serta kurang mampu meyakinkan pendengar maupun kurang mampu menerapkannya setelah pelatihan selesai. Sementara itu, Kosmas Lawa Bagho, fasilitator tunggal pada kedua gelombang kegiatan dimaksud memberikan kesaksian bahwa setelah melewati berbagai proses pelatihan yang disertai praktek yang dilakukan oleh para peserta pelatihan ternyata potensi perempuan sungguh luar biasa. Perempuan memiliki potensi kemampuan dan ketrampilan untuk memfasilitasi anggota apalagi dalam seluruh prosesnya menggunakan dengan hati. Perempuan dirasakan lebih peka dan berani menyentuh hati dan pikiran anggota yang sebagian besar juga perempuan untuk mulai terlibat aktif di dalam proses menabung serta mempersiapkan masa depan keluarga masing-masing secara lebih baik. Mungkin perempuan hanya kadang kurang berani untuk tampil atau kadang kurang diberi kesempatan oleh sahabatnya laki-laki. Pelatihan ini menurut Kosmas bahwa sebagai awal pembuka untuk memberikan kobaran baru bagi perempuan untuk menyadari potensi yang dimiliki dan mau terlibat aktif sebagai anggota koperasi kredit yang baik dan bertanggungjawab maupun sebagai pengurus, pengawas maupun manajemen yang berkontribusi lebih bagi pertumbuhan dan kemajuan koperasi kredit dengan demikian dapat diharapkan bisa mensejahterakan masing-masing keluarga sebab perempuan juga menjadi salah satu titik kunci kebahagiaan keluarga baik secara ekonomi, politik, budaya dan sumber daya manusia. Para peserta yang semuanya perempuan tersebut mengharapkan agar pelatihan atau program pengembangan sumber daya manusia (SDM) perempuan koperasi kredit dilakukan secara terprogram dan berkelanjutan agar mereka juga bisa memberdayakan perempuan lain menuju manusia baru yang berkompetensi dan terampil dalam bidangnya masing-masing terutama menabung di koperasi kredit, meminjam di koperasi kredit untuk pengembangan usaha dan akhirnya menabung kembali ke koperasi kredit. Perempuan sesungguhnya bisa diandalkan hanya belum diperhatikan secara proporsional. Keseluruhan rangkaian kegiatan pelatihan ini ditutup dengan evaluasi dan rencana tindak lanjut masing-masing peserta agar bisa diimplementasikan setelah pelatihan usai dan dalam tiga bulan berikutnya akan diundang kembali bagi peserta yang melakukannya untuk mengikuti lokakarya saling menguatkan satu sama lain di Puskopdit Flores Mandiri sebagai investasi sumber daya manusia yang handal bagi gerakan kini dan masa depan. Read more...Minggu, 27 Mei 2012
Perempuan Belum Diperhatikan secara Proporsional
oleh Kosmas Lawa Bagho
Mei 1997, penulis bergabung dengan gerakan koperasi kredit dibawah payung BK3D dan berubah nama menjadi Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada dan tanggal 27 Mei 2011 setelah RAK (Rapat Anggota Khusus) tanggal 25-26 Februari 2011 berubah nama menjadi Puskopdit Flores Mandiri. Sejak saat itulah baik di tingkat motivasi dasar, gerakan koperasi kredit senantia mengutamakan peram perempuan dalam segala bidang terutama pemberdayaan peran perempuan dalam koperasi kredit atau lebih dikenal dengan nama Kemitrasejajaran Perempuan dan Laki-Laki dalam karya besar koperasi kredit atau Credit Union (CU). Di berbagai pertemuan, forum, lokakarya dan pelatihan, kemitraan sejajaran ini senantiasa didengungkan, didiskusikan dan bahkan sudah ada semacam aturan atau panduan bahwa posisi pengurus atau pun pengawas koperasi kredit/CU hendaknya 30% dari antaranya perempuan. Seiring dengan perjalanan waktu, ketentuan tersebut tidak serta merta dipraktekkan sebab ada diskusi hangat bahwa jabatan itu diberikan tanpa mempertimbangkan kompetensi pada hal jabatab pengurus dan pengawas dalam koperasi kredit/CU adalah jabatan kepercayaan yang dipilih anggota secara demokratis dalam forum Rapat Anggota (Tahunan). Gerakan juga melihat bahwa kebanyakan anggota dalam sebuah koperasi kredit tingkat primer atau sekunder daerah (Puskopdit) dan sekunder tingkat nasional (Inkopdit) kebanyakan perempuan. Apabila merujuk secara garis lurus maka perempuan mendapatkan tempat yang semestinya sebagai pemimpin sebab apa pun yang terjadi dalam pemilihan tentu mereka lebih unggul. Namun kenyataannya lain. Romanus Woga, dalam pemaparannya pada acara lokakarya nasional (loknas) dengan materi "Kemitra sejajaran Pria dan Wanita dalam CU" di Yogyakarta tanggal 16 Mei 2012 pada Group "Youth dan Woman" pernah menyetir pengalaman nyata pribadinya ketika terjadi pemilihan pengurus dan pengawas di tingkat sekunder daerah Puskopdit (Swadaya Utama) Maumere bahwa cuma ada satu calon perempuan dari antara para kandidat dan satu-satunya perempuan tersebut malah tidak terpilih. Cerita seperti ini bukan hanya terjadi di Maumere bahkan di seluruh wilayah Indonesia. Romanus menambahkan bahwa "Dari 34 Puskopdit/BK3D dan 8 Daerah Binaan, dari padanya ada 930 buah kopdit primer dengan jumlah anggota indivisu sebanyak kurang lebih 1.808.755 orang, terdiri dari anggota pria: 965.684 orang dan wanita (perempuan) 843.071 orang. Tentu saja jumlah ini hampir berimbang antara pria dan perempuan, namun yang belum berimbang adalah kepengurusan (pengurus dan pengawas) baik pada tingkat primer (kopdit), sekunder Puskopdit dan sekunder Inkopdit, ternyata masih lebih dominan oleh kaum pria. Ini mengandung implikasi bahwa kepentingan perempuan kurang mendapat perhatian secara proporsional sehingga manfaat koperasi kredit belum dapat dinikmati sebagaimana mestinya." Untuk itu Romanus mengajak seluruh komponen terutama para peserta lokakarya perlu memperhatikan secara sungguh-sungguh peran perempuan dalam lingkungannya masing-masing terutama dalam gerakan koperasi kredit secara nasional. Sebab "perempuan dan pria" sama kedudukannya atau mitra sejajar seperti terluki dalam kata-kata Dale S. Hadley. "Woman was created from the rib of man. Not from his head to be above him. Not from feet to be walked upon. But from his side to be equal. Near his arm to be protected and Close to his heart to be loved" yang bisa diterjemahkan secara bebas sebagai berikut: Perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria. Bukan dari kepala untuk menjadi penguasa, bukan dari kaki untuk menjadi alas tetapi dari samping untuk sejajar, dekat di lengannya untuk dilindungi dan rapat di hatinya untuk dicintai. Inilah bahasa yang paling pas untuk melukiskan kemitrasejajaran pria dan perempuan. Walaupun demikian dalam kenyataan hidup sehari-hari selalu ada bias. Banyak kisah sedih tentang yang namamya perempuan. Ada banyak alasan sehingga perempuan tidak berperan sebagaimana mestinya. Rere Bibiana Paulina, Pengawas Inkopdit juga memberikan beberapa alasan sehingga perempuan kurang berpartisipasi aktif dalam gerakan koperasi kredit terutama sebagai pengurus dan pengawas. 1. Secara personal, perempuan merasa kurang percaya diri untuk bisa tampil secara optimal dalam kegiatan-kegiatan publik (kopdit, puskopdit, inkopdit) lantaran bapak-bapak kurang memberikan kesempatan atau peluang agar perempuan bisa mengaktualisasikan potensi yang dimiliki secara optimal. 2. Peran ganda yang dimainkan perempuan terutama perannya sebagai isteri agar susah meninggalkan rumah apalagi dalam waktu yang cukup panjang. Prempuan di[ercayakan dengan 1001 macam urusan rumah tangga termasuk merawat anak-anak dan suami. 3. Perempuan kerja secara profesional pada lembaga lain sehingga agak susah membagi waktu untuk bisa berpartisipasi di koperasi kredit sebingga jika ada peluang untuk menjadi pengurus atau pengawas, perempuan selalu berpikir 1001 kali menerima kepercayaan tersebut. 4. Perempuan bersuami betapa sering tidak diberi kesempatan oleh suami meninggalkan anak-anak dan rumah. 5. Perempuan juga tidak diberi kepercayaan oleh sesesama perempuan (dalam proses pemilihan) dengan streotip bahawa perempuan tidak mampu, tidak tegas, tidak kuat dll. 6. Perempuan juga tidak diberi kepercayaan oleh pria. Adanya diskriminasi dengan berbagai alasan yang dibuat kaum pria sehingga perempuan terlempar dari gelanggang persaingan menjadi pengurus dan pengawas. 7. Aspek Budaya: budaya patriakhat yang selalu menomrsatukan anak-anak laki-laki daripada perempuan. Untuk mengatasi berbagai hambatan, Rere Bibiana memberikan alternatif solusi adalah perempuan harus percaya diri, kreatif, cerdas dan penuh integritas. Dalam mewujudkan hal tersebut adalah dengan meningkatkan pendidikan dan pelatihan bagi kaum perempuan dengan menyetir apa yang disampaikan Romanus Woga yang juga mengutif tulisan Julius Nyerere (Mantan Presiden Tanzania, berkuasa 29 Oktober 1964 - 5 November 1985) "Jika engkau mendidik satu orang laki-laki maka akan menghasilkan satu orang terdidik, tetapi apabila engaku mendidik satu orang perempuan maka akan menghasilkan satu generasi terdidik". Untuk tingkat koperasi kredit mulai memikirkan keseimbangan komposisi perempuan dalam kepengurusan dan kepengawasan mulai tahun buku 2012. Juga perlu dirancang atau review kebijakan (AD/ART) yang lebih memungkinkan perempuan masuk dalam jajaran pengurus dan pengawas tentu bukan keterberiam melainkan berdasarkan kompetensi. Hal ini diperkuat dengan sharing seorang peserta Noberta Yati, ketua Kopdit Pancur Kasih, Kalbar bahwa dirinya terpilih menjadi ketua dan tidak ada masalah dengan peran sebagai perempuan, istei bagi suami dan ibu bagi anak-anak. Merdeka, Perempuan Kopdit, Bangkitlah berkiprah di dalam gerakan dengan percaya diri, pengatahuan serta skill yang mumpuni. Masih dalam hubungan dengan lokakarya pada group yang sama, Maria Andina (Inkopdit-Jakarta juga sebagai notulis) memberikan tambahan informasi rekomendasi yang dikirim melalui inbox facebook akun Koperasi Kredit Serviam Ende tanggal 28 Mei 2012 untuk melengakapi tulisan di atas sebagai berikut: 1.GKKI (Gerakan Koperasi Kredit Indonesia) membuat pelatihan khusus untuk perempuan serta ada SOM/SOP (Standar Operasional Manajemen/Standar Operasional Prosedur) yang jelas, khususnya mengenai pengaturan kuota perempuan dalam kepengurusan di koperasi kredit/CU. 2.Pria dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk mengikuti setiap pendidikan yang diberikan baik di tingkat primer, Puskopdit dan Inkopdit. 3.Apabila dalam penjaringan belum ada calon perempuan perlu ada penjaringan ulang. 4.Pada saat pemilihan perlu disosialisasikan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama untuk dipilih. Meski sudah memiliki rekomendasi bersama secara nasional dalam gerakan koperasi kredit/credit union untuk memperhatikan kemitrasejajaran pria dan perempuan secara sungguh-sungguh dalam komposisi kepengurusan dan kepengawasan namun masih menuntut "political will" dari segenap komponen yang terlibat di dalamnya dan perempuan hendaknya membalut diri dengan kompetensi dan intergritas diri yang dapat dipercaya. Merdeka Perempuan Koperasi Kredit/CU Indonesia!!! Read more...Kamis, 24 Mei 2012
Mutiara Pembelajaran Loknas & Open Forum Inkopdit di Yogyakarta
Oleh Kosmas Lawa Bagho
Koperasi Kredit Serviam Ende, Flores mengirimkan empat (4) punggawanya ke arena Lokakarya Nasional (Loknas) dan Open Forum Inkopdit-Jakarta Tahun Buku 2011 yang dilaksanakan di Hotel Saphir, Yogyakarta sejak tanggal 15-19 Mei 2012. Sementara utusan Puskopdit Flores Mandiri dan utusan puskopdit lainnya mengikuti juga Rapat Anggota Nasional (Ratnas) tanggal 19-20 Mei 2012 di tempat yang sama. Para punggawa Kopdit Serviam Ende yang sebentar lagi akan berubah menjadi Kopdit Serviam Flores adalah Elias Cima, S.Sos (Wakil Ketua Pengurus), Paskalis X. Hurint, S.Fil, M.Si (Bendahara Pengurus), Jeharut Remigius, S.Pd (Anggota Pengawas) dan Lambertus Liki Mare, S.Sos (Acting Manajer). Keempat punggawa tersebut mengikuti kegiatan dengan sungguh dan hadir pada semua sesi yang diberikan (hal ini diketahui karena penulis sekaligus ketuanya hadir mewakili Puskopdit Flores Mandiri). Sudah menjadi kebiasaan wajib di Kopdit Serviam Ende adalah apabila para utusan menghadiri kegiatan-kegiatan nasional hendaknya melaporkannya kepada pengurus secara tertulis untuk semua butir pembelajaran serta memberikan rekomendasi apa yang bisa diadopsi dan diterapkan di koperasi kredit demi kesejahteraan anggota serta keberlanjutan lembaga kecintaan masyarakat Flores. Untuk mempertajam hasil pembelajaran pada kegiatan nasional tersebut, keempat punggawa bersama ketuanya pada Hari Kamis sore, 24 Mei 2012, sejak pkl. 17.00-20.30, melakukan rapat konsolidasi yang oleh ketua diberi nama Rapat Tim RATNAS Yogya. Kami memulai dengan doa dan diikuti dengan sharing masing-masing peserta kebetulan juga hadir pada masing-masing group pada acara di Hotel Saphir Yogya yakni Kelompok "Youth & Woman" oleh Paskalis X. Hurint, Kelompok "Manajer & Calon Manajer" oleh Lambertus Liki Mare, Kelompok "Pengurus, Pengawas & Calon Pengurus, Pengawas" oleh Elias Cima dan Jeharut Remigius. Demikian hasil sharing pembelajaran masing-masing group: 1. Kelompok Youth dan Woman oleh Paskalis X. Hurint. Paskalis membuka sharingnya dengan mengemukakan semua materi yang didapatkan selama acara dimaksud. Berturut-turut: Wanita dalam CU oleh Rere Bibiana Paulina dan Romanus Woga dengan moderator Ibu Fransiska Dyah Riswati, Kaum Muda dalam CU oleh Peter Lawadiharja dengan moderator Fransiscus De Fransu, Financial Literacy oleh Drs. Haryono Daud dengan moderator Yuspita Karlena, Practice Youth oleh Andreas M. Mbete, SH dengan moderator Benediktus Seran, SH. Berbagai materi ini dibekali lagi dengan kunjungan lapangan. Menurut Paskalis, pembelajaran yang ia petik adalah tidak ada pembedaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki dalam CU serta keduanya saling bermitrasejajar termasuk dalam hal memilih dan dipilih menjadi pengurus maupun pengawas koperasi kredit. Koperasi kredit secara nasional belum memberikan kesempatan yang luas kepada perempuan untuk beraksi tentu dengan kompetensi bukan pemberian. Orang muda juga memiliki potensi untuk sukses dalam mengembangkan usaha pribadi melalui koperasi kredit dengan cara pertama-tama menabung, menghemat dari berbagai tindakan konsumtif. Melalui financial literacy sesungguhnya mengajarkan anggota koperasi kredit untuk merencanakan masa depan melalui menabung serta membuka produk-produk sesuai kebutuhan anggota. Praktek youth memberikan review tentang produk-produk khusus bagi kaum muda dengan pendampingan yang lebih intensif termasuk pendampingan usaha anggota. Rekomendasi: 1. Kopdit Serviam perlu melakukan pendampingan intensif usaha kategorial anggota. 2. Melakukan pengembangan anggota muda dengan cara mendekatkan sekolah-sekolah yang ada di kota Ende. 2. Kelompok Manajer oleh Lambertus Liki Mare. Beliau juga memaparkan materi yang diperoleh Base Landing Rate (Suku Bunga Pinjaman) oleh Abat Elias, SE dengan moderator Hugeng Tayan Putra, SE, IT (Information Technology) oleh Frans Supriyanto (Sicundo), Yoel Filemon (Sikopdit CS) dengan moderator Frans Laten, SE, SDM (Sumber Daya Manusia) oleh Ir. Dede Farhan Aulawi, SE, MM dengan moderator Yohanes RJ, S.Pd, MM, Practice SDM oleh Drs. Mikhael H. Jawa dengan moderator Rere Paulina Bibiana dan kunjungan lapangan. Lamber mendapatkan pembelajaran tentang suku bunga pinjaman kepada anggota harus sesuai dengan suku bunga pasar dan juga suku bunga simpanan non saham koperasi kredit, pajak koperasi kredit (perlu persiapan suatu saat ada pajak dalam koperasi kredit), dana cadangan lembaga, sikopdit cs, sicundo, sikopdit md (masing-masing kopdit memilih sesuai kebutuhan), sistem perekrutan staf yang efektif agar staf bisa produktif di koperasi kredit, usaha anggota. Rekomendasi: 1. Pengurus perlu review suku bunga pinjaman disesuaikan dengan suku bunga simpanan non saham. 2. Perlu kesiapan pajak bagi koperasi kredit (NPWP). 3. Seleksi karyawan yang ketat dan produktif. 3. Kelompok Pengurus dan Pengawas oleh Elias Cima dan Jeharut Remigius. Sama seperti pembicara sebelumnya, keduanya juga menyampaikan materi yang diperoleh selain kunjugan lapangan dan diskusi informal dengan peserta dari lain kopdit dan puskopdit juga dari daerah lain seperti Kalimantan, Sumatra, Jakarta dll. Materi yang diperoleh SDM oleh Ir. Dede Farhan Aulawi, SE, MM dengan moderator Sutanto Andya Hamid, Marketing oleh Drs. Munaldus Merang dengan moderator Yosef Semana, SH, Suksesi oleh Trisna Ansarli dengan moderator Akhmad Affandi, BSc, Pratice Marketing oleh yosef Pattilajar dengan moderator Tarsisius, SE. Keduanya menyoroti tentang pengembangan SDM anggota, pengurus-pengawas dan manajemen, strategi pengembangan anggota yang progresif, suksesi kepemimpinan untuk tetap menjaga roh (30%) pengurus-pengawas lama, pelayanan yang prima (CRM), pemberian awards kepada anggota, manajemen ataupun pengurus-pengawas bukan saja uang tetapi dalam bentuk lain namun dirayakan dalam suatu perayaan sebagai media promosi, penguatan devisi pendidikan, strategi pemasaran berdasarkan usia dengan simpanan dan pinjaman berdasarkan siklus kehidupan manusia mulai lahir hingga meninggal dunia, penerapan awards dan punishment, peta pelayanan kopdit didukung dengan data, kopdit juga perlu menyiapkan souvenir dari anggota (pemberdayaan usaha anggota). Rekomendasi Umum untuk ditindaklanjuti segera: 1. Revitalisasi para motivator didukung dengan ruang pelayanan, SK, insentif yang jelas. 2. Peta pelayanan berbasis data. 3. Strategi pengembangan anggota muda di sekolah-sekolah. 4. Pendidikan dan pelatihan terfokus (perlu ada devisi di tingkat manajemen). 5. Melibatkan act. manajer dan PL untuk magang di Kopdit Ankara-Lewoleba dan Kopdit Obor Mas Maumere. 6. Mereview poljak anggota, simpanan dan pinjaman serta perlindungan. Tuhan, Bunda Maria berkatilah kami agar mampu mengimplementasi berbagai rekomendasi bernas ini. Para punggawa merasa berterima kasih kepada Kopdit Serviam Ende (Flores) yang telah memberikan kesempatan untuk merasakan pembelajaran yang bernas dan menarik. Terima kasih juga kepada ketua yang telah memungkinkan semuanya ini. Sama-sama teman. Mari kita ciptakan Serviam Flores yang luar biasa dengan melaksanakan hal-hal biasa secara luar biasa, mantap, dahsyat!!! Read more...Lagi dan Lagi Aparat Keamanan Terlibat Narkoba
Judul di atas mungkin saja memerahkan telinga para aparat keamanan negeri ini yang telah berjuang dengan cucuran keringat bahkan darah untuk melindungi masyarakat RI dari berbagai ancaman dan boleh hidup nyaman di alam Republik yang bernama Indonesia. Ada sederetan prestasi positif yang telah dikontribusikan oleh aparat kita untuk kejayaan dan kenyamanan 247 juta jiwa planet bumi tercinta. Namun dibalik sederetan prestasi gemilang para aparat keamanan negera ada-ada saja beberapa oknum yang cukup kuat menampar langsung pencitraan dan sumbangan positif secara kolektif. Kerapkali kita menyaksikan secara mata telanjang dalam berbagai siaran media Televisi dan Radio atapun surat kabar nasional yang mewartakan perilaku oknum-oknum tertentu aparat keamanan terlibat pada hal-hal yang tidak patut dan tidak layak mereka lakukan. Kadang mereka secara berani melanggar hukum seharusnya mereka gawangi sebagai contoh tauladan terbaik bagi masyarakatnya. Kita masyarakat awam kadang tidak habis mengerti bahwa para aparat kita yang pintar hukum dan sebagai penjaga tulisan-tulisan hukum secara detail tetapi toh justru melakukan hal yang sebaliknya. Tentu kita tidak menganggap mereka adalah malaekat tetapi sekurang-kurangnya mereka bisa memberikan contoh terbaik bagi masyarakatnya. Kesedihan penulis bertambah ketika membaca berita tentang keterlibatan aparat keamanan pada Narkoba terjadi di daerah penulis, Flores. Tidak main-main sang oknum itu bertindak sebagai Sindikat Pengedar Narkoba. HU Flores Pos (24/5) menulis pada halaman depan dengan judul "Aipda I Wayan Masuk Sindikat Pengedar Narkoba, Sudah Ditahan di Polda NTT". Peristiwa ini terjadi di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores. "Wakapolres Sikka, Kompol Jarot Yusviq Andito mengatakan Aipda I Wayan Chandra adalah anggota sindikat peredaran narkoba di Kabupaten Sikka. Aipda I Wayan Chandra memiliki jaringan komunikasi dengan beberapa pihak yang juga diduga sebagai pengguna, di antaranya tiga temannya yang sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka, yakni Antoni Go, Mus Kopong dan Nona Margareta." Dari peristiwa ini memunculkan keresahan mendalam bagi penulis dengan alasan: Pertama, Flores, kampung yang sedang mengarah ke kota sudah tidak aman dari sisi pengedaran narkoba. Narkoba yang hanya didengar, kini benar-benar hadir di depan mata dan paling mengerikan adalah yang mengedar adalah para oknum aparat keamanan yang diharapkan masyarakat berfungsi melenyapkan narkoba dan berbagai bentuknya di bumi merdeka Flores. Flores, sungguh suatu taman bunga yang tidak lagi indah dan nyaman. Kedua, Narkoba merupakan mutiara yang sangat menakutkan dan mengerikan apabila dikonsumsi warga masyarakat Flores yang masih dikenal dengan wilayah religius ini. Bagaimana bisa dibayangkan kalau seandainya semua generasi muda Flores mengedar dan mengkonsumsi narkoba. Akan muncul generasi yang idiot dan los-generation yang berbudi pekerti dan pantas. Ketiga, Narkoba akan melahirkan generasi kekerasan yang bergerombolan dan terus-menerus menghantui rasa nyaman masyarakat Flores. Di mana ada narkoba, di sana pasti ada tindakan kriminal lainnya bagaikan di mana ada semut, di situ pun pasti akan ada gula. Untuk itu, masyarakat Flores tidak menganggap enteng dan lengah dengan pemberitaan ini apalagi yang menjadi kaki tangannya adalah para oknum aparat kemananan. Kejadian ini harus sudah menjadi perhatian dan keprihatinan bersama seluruh warga bangsa Flores terutama para aparat keamanan untuk bertindak secara tegas orang-orang yang bermain-main dengan narkoba (terutama para oknum aparat keamanan) bila perlu hukuman seumur hidup kalau tidak bisa hukuman mati agar mereka hanya beredar di dalam penjara hahaha kalau diberi kesempatan oleh negara. Masyarakat Flores Merdeka, mari kita bersatu memberantas narkoba, sekarang juga agar Flores terbebas, merdeka dari gangguan maut narkoba! Read more...


