Jumat, 23 Maret 2012

Tips Sukses Menabung

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Berbagai penelitian yang sempat dipublikasikan secara luas di berbagai media dalam kaitan dengan menabung senantiasa menampilkan data-data statistik yang memiris hati setiap orang yang membacanya. Data-data penelitian senantiasa menampilkan perolehan angka-angka yang menunjukkan secara telanjang kepada kita bahwa memang budaya atau karakter menabung masih menjadi titik kritis yang harus terus diperjuangkan demi meningkatkan pendapatan ekonomi para keluarga di Flores dengan hasil perolehan setiap bulan.

Data statistik menunjukkan hasil bahwa budaya menabung bagi masyarakat Flores cuma 1% sementara 99% lainnya semua perolehan pendapatan dialokasikan untuk hal-hal konsumtif; belanja harian rumah tangga, pesta adat, belis atau pesta-pesta lainnya bahkan ada kecenderungan negatif lainnya seperti mabuk-mabukkan, judi dan kresahan sosial lainnya yang membuat setiap individu masyarakat Flores tidak memiliki budaya untuk menabung. "Pendapatan yang diperoleh hari ini, dihabiskan untuk hari ini, tidak pernah memiliki perencanaan keuangan untuk hari esok apalagi masa depan hehehehe".

Kita tentu tidak menangisi apa yang telah terjadi atau menangisi kegelapan, ada baiknya kita menyalakan sebatang lilin keski kita ketahui bahwa lilin yang kita nyalakan tidak terang benderang namun harus ada keyakinan bahwa "lilin yang berkedip tak terpatahkan dan gelagah yang terkulai tidak terpatahkan".

Usaha untuk membangun kesadaran menabung secara terencana dan tertib membutuhkan proses dan perjuangan yang memakan waktu dan biaya. Apabila kita berputus ada maka kita akan berhenti berlari sebelum masuk finish dengan berbagai alasan pembenaran diri yang membuat kita masyarakat Flores untuk tidak memulai membangun karakter menabung meski dalam keluarga kita masing-masing.

Untuk itu, ada baiknya, kita meresapi apa yang disharingkan oleh Hasuna melalai www.tabloidnova,com bahwa budaya menabung harus diusahakan sejak usia dini dengan berbagai tawaran sebagai berikut:
1. Tentukan terlebih dahulu tujuan menabung, agar Anda memiliki target tertentu yang harus dicapai. Dengan demikian, Anda akan lebih bersemangat utnuk menabung.
2. Alokasikan dana yang akan ditabung segera setelah gajian, bukan diakhir bulan, untuk mencegah uang habis sebelum sempat disisihkan.
3. Pisahkan rekening untuk menabung dan rekening pemasukan Anda. Dengan demikian, keuangan lebih mudah dikontrol setiap bulan.
4. Berapapun penghasilan Anda, biasakan untuk menabung, sehingga Anda akan terbiasa melakukannya. Penghasilan yang kecil bukan alasan tak bisa menabung.
5. Biasakan melakukan pengeluaran dengan jumlah lebih sedikit dari pada penghasilan Anda, agar tidak tekor di akhir bulan.
6. Buatlah daftar anggaran selama satu bulan baik yang rutin maupun tidak, sehingga tidak ada uang yang habis tanpa tujuan sesuai kebutuhan yang mendasar.
7. Jangan lapar mata. Bila Anda memang gampang terpancing untuk berbelanja, jauhi hal-hal atau tempat yang bisa membuat Anda menghabiskan uang di luar rencana anggran.
8. Bila penghasilan Anda bertambah, naiklah pula dana yang akan ditabung.
9. Tak ada kata terlambat untuk menabung. Mulailah menabung sedini mungkin, sehingga hasil yang didapat juga lebih optimal.

Untuk kalangan anak-anak usia SD-SMP, kita nelatih mereka dengan celengan masing-masing namun kunci celengan dipegang orang tua. Setiap hari kita memberikan uang kepada mereka misalnya 2,000 rupaih dalam lembaran seribu-seribu rupiah. Kita melihat apa reaksi anak kita setelah menerima uang tersebut. Apakah anak itu menghabiskan semuanya untuk jajan di sekolah atau setiap hari ia menabung 1,000 rupiah pada celengan dan 1,000 untuk jajan. Apabila beliau belum melakukannya maka kita mengajarkannya dengan penuh kesadaran dan tanpa kekerasan. Ia hendaknya membiasakan diri untuk menabung dulu pada celengan sebelum yang sisanya untuk berbelanja.

Untuk nilai akan naik sesuai dengan kebutuhan namun satu hal yang mau kita tanamkan adalah menabung dulu di celengan baru berbelanja sesuai rumus :PENDAPATAN - TABUNG = BELANJA.
Rumus ini kelihatannya singkat dan mudah namun dalam pelaksanaannya kadang membutuhkan perjuangan yang tak kenal lelah sebab BUTUH SUATU PERUBAHAN PARADIGAM (MINDSET) BERPIKIR dari sebelumnya yang senantiasa mengpraktekkan PENDAPATAN - BELANJA = TABUNG sehingga tidak pernah tabung-tabug juga bahkan penghasilan jutaan rupiah tiap bulan namun akhir tahun, tidak pernah ada tabungan.

selamat berpraktek semoga sukses! Tidak ada yang mustahil apabila ada kemauan, tekad dan kerja cerdas.
Read more...

Selasa, 13 Maret 2012

Tips Mendirikan Koperasi Kredit/Credit Union

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Mei 1997. Suatu start waktu, penulis mulai melibatkan diri secara teknis dalam upaya memberdayakan masyarakat akar rumput melalui koperasi kredit atau credit union di wilayah Kabupaten Ende, Ngada dan Nagekeo (yang mekar 8 Desember 2006 dari induknya Kabupaten Ngada). Penulis tidak memiliki bekal yang cukup di perguruan tinggi sebab berbalik 360 derajat dari panggilan untuk menjadi penjala manusia "terjerumus" pada pemberdayaan bisnis yang berhati nurani meski tidak beda jauh jauh amat sebab di sana kumpulan orang lebih diutamakan ketimbang modal. Modal atau uang cuma sebagai sarana.

Waktu terjun aktif di sana, penulis menemukan berbagai suka dan duka apalagi memang dunia koperasi kredit saat itu di wilayah ini sedang mengalami masa krisis. Ada krisis kepercayaan anggota dan masyarakat terhadap dunia perkoperasian kredit lantaran ada satu dua kopdit yang bubar tanpa penyelesaian yang positif.

Dibalik berbagai masa krisis ini, muncul suatu tekad untuk membaharui dan membenah demi kemajuan dan keberlanjutan lembaga koperasi kredit yang masih sempat bertahan dan diselanatkan. Upaya keras yang dilandasi dengan doa, mulai nampak tanda-tanda perubahan dan kemajuan.

Koperasi kredit mulai tumbuh secara luar biasa sejak tahun 2001 dan tahun 2008 hingga saat ini seperti mendapatkan masa emasnya. Pertumbuhan anggota dan aset sungguh signifikan. Untuk total 47 koperasi kredit yang berpayung pada Puskopdit Flores Mandiri per 31 Desember 2011 mencapai 87 ribu lebih dan aset Rp 465 miliar lebih. Suatu perkmbangan fenomenal meski belum apa-apa dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya.

Dalam perjalanan menikmati pertumbuhan dan perkembangan memngembangkan koperasi kredit, ada pertanyaan teman-teman yang juga mengembangakan lembaga yang sama namun belum mencapai hasil optimal. Pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana awal mendirikannya, bagaimana cara mengembangkannya, bagaimana mengatasi kredit macet dan pertanyaan menggelitik lainnya (sharing pengalaman) bahwa mereka pernah mengalami kerugian akibat sejumlah uang dalam jumlah besar dibawa lari oleh petugas (karyawan).

Mungkin penulis tidak bisa menjawab semuanya dalam satu tulisan ini. Penulis meringkasnya agar bisa memberkan sedikit obat peneguahan untuk terlibat memberdayakan masyarakat akar rumput dengan mengandalkan kekuatan dari masyarakat sendiri.

Sahabatku,
Awal mendirikan koperasi kredit/credit union, hendaknya kita memiliki semacaram visualisasi apa yang dibuat dengan lembaga yang mau kita dirikan. Bahasa Steven Covey, "Beginning with the end". Awal mendirikan, kita harus sudah membayangkan bagaimana akhirnya atau hasilnya. Pengalaman penulis yang singkat, bahwa membangun koperasi kredit hendaknya kita mengandalkan segala sesuatu termasuk modal perputaran dari anggota melalui simpanan dasar seperti: simpanan pokok (disesuaikan dengan kemampuan keuangan masyarakat setempat tapi kami di sini Rp100.000) selama menjadi anggota, simpanan wajib yang wajib setor bulanan Rp10.000 dan simpanan kapitalisasi sesuai kemampuan anggota, disamping itu semacam uang administratif dalam bentuk uang pangkal Rp10.000/orang.

Namun untuk menjadi anggota, masyarakat (calon) hendaknya diberi pendidikan dasar 7 jam koperasi kredit dengan materi andalan: Ansos (Analisa Sosial), sejarah koperasi kredit, jati diri koperasi kredit, P3K, Struktur organisasi serta Usaha dan Pelayanan Kopdit. Materi-materi ini lebih menekankan perubahan cara berpikir (mindset) calon agar lebih berpikir produktif ketimbang konsumtif serta meningkatkan kesadaran menabung.

Pendidikan dasar diikuti dengan pendidikan lanjutan serta pendidikan spesialisasi mengenai perencanaan keuangan, peningkatan aset pribadi, kecerdasan keuangan (financial literacy), manajemen keuangan, manajemen kepemimpinan, manajemen perkreditan, manajemen usaha dan BIS (business information system).

Pendidikan hendaknya menjadi urat nadi gerakan koperasi kredit yang dilaksaanakan secara terprogram dan teratur. Jika anggota sudah sadar, koeperasi kredit bisa membuka produk non saham sesusai kebutuhan anggota dan kemampuan manajerial (perlu ada pembagian yang tegas, pengurus sebagai penetap kebijakan dan manajer sebagai pelaksana operasional).

Tidak kalah penting, koperasi kredit hendaknya memiliki kantor atau sekretariat yang tetap dan strategis, mudah dijangkau agar menarik masyarakat dan mau bergabung dengan koperasi kredit bersangkutan.

Sebagai lembaga kuangan tentu ada kendala kredit macet. Kita dulu biasa dengan jaminan watak si peminjam namun karena kemajuan zaman maka watak sudah bisa diperhitungkan lalu kita ada garansi sertifikat tanah, barang bergerak namun juga mengalami kendala dalam mengeksekusi karena harus berhadapan dengan pengadilan. Butuh banyak energi, usaha dan uang namun eksekusi lapangan tidak segera terjadi.

Kini, kami mengalihkan dengan garansi simpanan calon peminjam baik saham maupun non saham, suami-isteri ataupun anak-anaknya. Akumulasinya menjadi jumlah pinjaman. Memang tidak menjawab kebutuhan pinjaman tetapi kita melatih anggota bertanggungjawab terhadapa keuangannya sendiri baru kita tingkatkan agar dia bisa mengelola uang orang lain.

Mengenai karyawan/petugas lapangan yang melarikan uang organisasi maka kami biasanya memperketat saat perekrutan awal dan calon karyawan harus menyerahkan jaminan berupa ijazah asli atau barang agunanan yang segera bisa dijadikan uang apabila dia melakukan manipulasi atau melarikan diri.

Kita juga membudayakan audit secara internal maupun eksternal untuk menjamin transparansi pengelolaan dan kejujuran dalam memenej uang anggota yang puluhan bahkan ratusan miliar serta sekarang ada kopdit yang menargetkan mencapai 1 triliun hehehehe

Dengan demikian, kita berharap anggota sejahera, manajer dan karyawan bekerja dengan nyaman dan organisasi koperasi kredit/credit union bisa besar, kuat, sehat dan profesional.
Read more...

Kamis, 01 Maret 2012

Sambutan RAT Primer

SAMBUTAN PUSKOPDIT FLORES MANDIRI
PADA SAAT RAT XXIII
KOPERASI KREDIT WREDATAMA (KOPTAMA) NGADA
BAJAWA, 03 MARET 2012

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Yang terhormat: ....
Singkatnya hadirin yang kami muliakan …
Sebagai insan beriman, patutlah kita menyampaikan puji syukur dan terima kasih berlimpah kehadirat Tuhan yang maha esa atas berkat dan penyelenggaraan-Nya sehingga kita keluarga besar Koperasi Kredit Wredatama (Koptama) dapat melewati tahun buku 2011 dengan berbagai suka duka yang dialami dan melangkah ke tahun buku 2012 dengan penuh kepercayaan diri untuk membangun koperasi kredit ini lebih sehat, kuat dan profesional serta semua anggota bisa meraih kesejahteraan.

Bapak/Ibu Undangan, peserta RAT yang terhormat,
Hampir tiap tahun kita senantiasa mengakhiri kegiatan tahunan dengan mengadakan rapat anggota tahunan (RAT). Rapat Anggota Tahunan merupakan wujud nyata asas demokrasi dan media pertanggungjawaban pengurus-pengawas atas apa yang telah dilakukan pada tahun buku 2011 serta merancang komitmen perubahan yang akan kita lakukan pada tahun buku 2012.

Koperasi Kredit kita telah dibentuk 23 tahun lalu, tepatnya tanggal 06 April 1989. Pertanyaan kritis yang menggelitik kita semua, “Apakah koperasi kredit kita telah menjadi lembaga pemberdayaan yang bertahan kini dan sepanjang masa?” Kopdit yang dapat bertahan kini dan sepanjang masa menurut Tung Desem Waringin, salah seorang pakar revolusi keuangan (Financial Revolution) adalah Kopdit WIN-WIN dan WIN (MENANG-MENANG DAN MENANG).

Win pertama adalah kita harus pastikan bahwa anggota win (menang, sejahtera lahir dan batin karena bergabung dengan keluarga besar Koperasi Kredit Wredatama (Koptama). Apabila anggota sudah win maka win yang kedua adalah manajer dan para karyawan yang mengabdi siang dan malam di lembaga ini menyangkut kompensasi, salari, perlindungan dan tunjangan setelah pension agar manajer dan para karyawan bisa bekerja dengan tenang tanpa mau melompat ke lembaga lain yang lebih ‘gemuk”. Win ketiga adalah para pengurus, pengawas dan penasihat menyangkut penghargaan, biaya transport dan jasa akhir tahun agar mereka memberikan yang terbaik dari potensi yang mereka miliki dan win keempat adalah masyarakat. Kehadiran koperasi kredit Wredatama todak boleh merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Dalam kerangka WIN-WIN dan WIN dimaksud, koperasi kredit kita per 31 Desember 2011, mampu menjaring anggota sebanyak 1.659 orang, simpanan saham Rp7,5 miliar lebih, Simpanan Non Saham Rp2 miliar lebih, Pinjaman beredar Rp9,9 miliar lebih dan kekayaan Rp12,4 miliar lebih. Disamping itu, koperasi kredit ini secara progresif melakukan perubahan-perubahan menuju pengelolaan profesional seperti tempat pelayanan yang nyaman, manajer dan staf yang terampil melayani anggota setiap hari kerja, peralatan dan sistem komputerisasi yang meningkatkan citra pelayanan kepada anggota dan masyarakat sekitar, pengurus, pengawas, penasihat dan manajer yang terus meningkatkan kemampuan di Puskopdit Flores Mandiri, Inkopdit maupun tingkat asia (mari kita tepuk tangan bersama).

Kendati demikian kemajuan-kemajuan dan hasil-hasil yang telah kita nikmati tidak membuat kita cepat berpuas diri sebab musuh terbesar kemajuan sebuah organisasi keuangan termasuk koperasi kredit adalah puas diri dan tidak mau berubah sesuai perubahan yang terus terjadi.

Bapak/Ibu Undangan, peserta RAT yang terhormat,

Suroto, seorang Ketua Lembaga Studi Pengembangan Koperasi Indonesia pernah menulis, agar koperasi kredit kita dapat berkembang menjadi koperasi kelas dunia atau dalam bahasa bisnis WIN-WIN dan WIN perlu memenuhi persyarat-prasyarat sebagai berikut:
Prasyarat Pertama: Hendaknya kita tetap mempertahankan dan tunduk pada prinsip, jati diri dan nilai-nilai yang dioperasionalisasikan dalam rangkulan tiga pilar koperasi kredit yakni swadaya, pendidikan dan solidaritas. Kemandirian membuat kita tidak menggantungkan pengelolaan dan perputaran modal usaha pada lembaga lain, pendidikan membuat kita mampu dan sadar berkoperasi sehingga tidak ada lagi kredit macet sementara solidaritas membuat kita kuat dalam satu keluarga untuk saling bersetia kawan, rajin menabung, rajin meminjam dan rajin mengembalikan pinjaman. Satu rupiah pinjaman yang tidak kita kembalikan, secara tanpa sadar kita telah membunuh 1.658 anggota lain belum lagi seluruh anggota keluarganya.

Prasyarat Kedua : Menjaga aset anggota dengan meminimalisir kredit macet atau kredit bermasalah. Ada banyak cara untuk melakukannya namun satu hal yang juga menjadi perhatian adalah hendaknya pengurus dan anggota mulai mempertimbangkan pelayanan pinjaman setara jaminan. Jaminan dimaksud adalah simpanan saham anggota bersangkutan, simpanan non saham anggota bersangkutan, simpanan isteri/suami dan anak-anak baik saham maupun non saham sehingga apabila anggota peminjam tertentu mengalami macet dalam pengembalian, pengurus dan manajer bisa melakukan kontra pos tanpa merugikan organisasi dan anggota lain. Kebijakan ini juga menjaga agar anggota tidak melakukan pinjaman spekulasi yang merugikan diri sendiri, keluarga, anggota dan lembaga koperasi kredit yang kita cintai ini.

Prasyarat Ketiga: Koperasi kredit harus mulai keluar dari citra sebagai fungsi pelengkap dan sampingan ketimbang sebagai pelaku utama. Memposisikan koperasi kredit “kecil itu indah” bukan saatnya lagi apalagi menganggap hanya usaha sampingnan dan bahkan hanya dijadikan sebagai tempat mengemis bantuan kepada pihak lain maupun pemerintah yang pada akhirnya menjadikan citra koperasi kredit semakin terpuruk. Sebastianus Hayong, Ketua Devisi Pendidikan KSP Wisuda Guna Raharja Denpasr pernah menulis, “Kita perlu menjauhi sikap BEJ : Blame (suka menyalahkan, fungsionaris dan anggota kopdit tidak pernah belajar dari kegagalan, suka merasa benar sendiri, merasa diri hebat dan akhirnya tidak perlu bertindak), Excuse (suka beralasan, dapat dipastikan fungsionaris dan anggota kopdit tidak berbuat apa-apa. Kata-kata yang selalu muncul “terlalu tua, cuma lulusan sd/smp, tidak berbakat, tidak punya keterampilan, dan beribu alasan lainnya yang membuat dia tidak melakukan sesuatu), Justify (suka membuat pembenaran, fungsionaris dan anggota jenis ini suka menutupi kelemahan atau kemalasan untuk berubah menjadi lebih baik dengan membenarkan keadaan sebagai sesuatu yang wajar).”

Hadirin yang yang kami hargai …
Untuk mampu memenuhi prasyarat-prasyarat di atas maka kita perlu menerapkan rumus 5 I yang diusulkan oleh Jaya Suprana, pengusaha Jamu Indonesia menulis:
I Pertama : Informasi. Setiap organisasi koperasi kredit harus berusaha menyerap sebanyak mungkin informasi. Informasi ini kemudian dianalisis dan dimanfaatkan untuk kepentingan koperasi kredit baik ketahanan, keberlanjutan dan pengembangan. Tanpa informasi kita akan kalah bersaing dan kurang mampu berkembangan secara cepat.

I Kedua: Intelegensi (kecerdasan). Untuk menjalankan koperasi kredit yang sukses dibutuhkan kecerdasan untuk memilih peluang-peluang yang lewat bagi kemajuan lembaga dan kesejahteraan anggota. Pilihan pada peluang yang ditawarkan hendaknya berbasis informasi dan data-data yang telah dikumpulkan secara akurat.

I Ketiga: Intuisi. Koperasi kredit hampir setiap detik perjalanan hidup mengambil keputusan. Keputusan diambil selain berbasiskan intelek tetapi juga intuisi atau naluri agar koperasi kredit tidak rugi seperti dalam hal kerjasama dengan pihak lain atau menerima dana dari lembaga lain selain dari jejaringan atau pun keputusan menginvestasi uang koperasi kredit pada lembaga lain hanya karena pengaruh iklan atau hipnotis.

I Keempat: Inisiatif. Koperasi kredit kita tidak akan bertumbuh dan berkembang apabila tidak ada inisiatif untuk melakukan sesuatu yang lebih progresif. Inisiatif yang dilakukan oleh pengurus periode ini adalah melakukan kebijakan untuk menerima anggota selain masyarakat pensiun.

I Kelima: Immanuel atau insya Allah. Koperasi kredit harus siap untuk berhasil dan gagal. Tidak ada organisasi yang selalu berhasil. Kita jangan sombong karena kehebatan kita sebab kesuksesan adalah kehendak Tuhan. Tuhan, Immanuel, senantiasa menyertai kita.

Bapak/Ibu Undangan, Peserta RAT yang terhormat …
Kemajuan, keberhasilan koperasi kredit ini karena partisipasi dan dukungan kerjasama semua kita. Para anggotalah penentunya. Untuk itu, Puskopdit Flores Mandiri patut menyampaiakan terima kasih berlimpah untuk kerja keras semua komponen dalam rangka menumbuh-kembangkan Koptama seperti yang kita nikmati saat ini. Puskopdit juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan semua pihak yang telah ikut mendorong dan memberikan iklim yang kondusif bagi peningkatan ekonomi masyarakat terutama para lansia melalui Koperasi Pensiunan Wredatama (Koptama) Ngada. Akhirnya, Puskopdit menyampaikan permohonan maaf apabila selama ini perhatian dan pendampingan Puskopdit Flores Mandiri pada Koptama belum memuaskan.

Sekian dan terima kasih.
Read more...

Rabu, 29 Februari 2012

Bisnis Win-Win dan Win

Oleh Kosmas Lawa Bagho

Lama sudah, tidak pernah menulis lagi sejak Oktober 2011 meski masih sesekali posting pada blog ini namun memposting tulisan wartawan HU Flores Pos yang secara kebetulan memuat kegiatanku yang adalah ketua pengurus Kopdit Serviam Ende, Flores, NTT.

Pagi hari ini, 1 Maret 2012, saya secara iseng membersihkan berbagai spam dan email yang masuk dengan jumlah ribuan. Saya menghapusnya tanpa pandang buluh apakah email bersangkutan penting atau tidak. Mulai bosan melihat email yang kebanyakan komentar pada facebook. Memang akhir-akhir ini, saya juga mulai agak kurang bergairah berdiskusi pada media jaringan sosial dimaksud. Tak tahu mengapa? meski memang sesekali ikut nimbrung.

Suatu keistimewaan muncul ketika akan menghapus satu email dengan judul "Bisnis yang dapat bertahan kini dan sepenjang masa yang bernama Win-Win dan Win." Email sangat fenomenal dan berharga ini dikirim oleh Tung Desem Waringin.

Saya membuka dan coba mulai membaca kelanjutannya. Naluri menulisku tiba-tiba muncul kembali dan saya merekamnya dalam sebuah komentar (tulisan) pada blog ini. Tung lebih lanjut menjelaskan bahwa bisnis atau perusahaan yang dapat bertahan kini dan sepanjang masa adalah bisnis win-win dan win.

Dia menjelaskan, Win pertama, kita harus pastikan bahwa pelanggan kita win. Win kedua, karyawan kita juga harus win, Win ketiga adalah para pemilik saham dan win keempat adalah masyarakat. Bisnis anda tidak boleh membuat masyarakat dirugikan.

Diakhir tulisannya, Tung menegaskan lagi,"Kalau kita jadi pemimpin pasar selalu tanya supaya laku. Kalau anda tak bisa jualan? You die! Kalau anda bisa jualan anda kaya."

Sembari menyetir pendapat Tung Desem Waringin dimaksud, saya masuk ke dunia koperasi kredit yang saya abdi sudah sejak tahun 1997. Saya bertanya di dalam hati, apakah saya bisa menerapkan sedikit dari begitu besar dan luasnya mindset Tung Desem Waringin tersebut. Apalagi saya sekarang memimpin sebuah koperasi kredit di kota Ende dengan anggota per 31 Desember 2011 sebanyak 2.052 orang dengan aset Rp10 miliar lebih. Kopdit ini didirikan 9 Januari 1993 berarti sudah 19 tahun (2012) sementara aku dipercayakan sebagai ketua sejak tahun 2005 dengan masa periode setiap tiga tahun (2005-2007, 2008-2010, 2011-2013).

Tanggal 19 Maret 2012, kami baru menyelesaikan Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk mempertanggungjawabkan komitmen perubahan yang telah kami lakukan selama tahun buku 2011 serta merancang komitmen perubahan penting untuk tahun buku 2012. Banyak hal telah dilakukan dan mengalami perkembangan baik secara kuantitas (jumlah) maupun kualitas (perubahan cara berpikir dalam hal menabung, mengurangi hal-hal konsumtif, pesta adat dan budaya pesta lainnya).

Namun masih banyak nada minor dari sebagian anggota kepada kinerja pengurus terutama menyangkut kredit macet. Pertanyaan menggelitik dari anggota, "Apa kerja pengurus?" Pertanyaan dan PR ini terasa semakin bernas dengan pikiran Tung Desem Waringin pagi ini. Kalau saya mengadaptasi pikirannya, maka saya bisa menulis, Kopdit yang dapat bertahan kini dan sepanjang masa adalah Kopdit yang bernama WIN-WIN dan WIN.

Win pertama, kami (saya) harus pastikan anggota win (menang, sejahtera),
Win kedua, karyawan win (kompensasi, salari agar mereka bekerja dengan tenang),
Win ketia, pengurus, pengawas, penasihat win (penghargaan, transport, jasa akhir tahun agar mereka juga memberikan yang terbaik dari potensi yang mereka miliki),
Win keempat, masyarakat. Kehadiran kopdit tidak boleh merugikan masyarakat dan lingkungan dalam berbagai dimensi kehidupan baik secara lahir maupun terutama batiniah.

Akhirnya apabila koperasi kredit yang saya pimpin mau menjadi pemimpin pasar selalu tanya laku atau dalam usia 19 tahun hendaknya bagaikan gadis cantik yang diminati masyarakat tanpa ada lagi kegitan promosi untuk menjadi anggota. Kopditku tidak bisa jualan? Ya, kopditku, die (mati). Kalau kopditku bisa jualan, anggota sejahtera dan kopditku berkelanjutan.

Bersama segenapa komponen (anggota, sesama fungsionaris), saya yakin, Kopditku bisa menjadi bisnis yang bertahan kini dan sepanjang masa serta bisa menjadi pemimpin pasar yang sangat kompetitif . Amin
Read more...

Selasa, 21 Februari 2012

Kopdit Serviam Bangun Komitmen Menuju Kemandirian

Oleh Frans Obon, Redaktur Pelaksana Flores Pos

(Flores Pos, 20 Pebruari 2012). Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Kredit (Kopdit) Serviam Ende tahun buku 2011 menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali komitmen pada perubahan oleh para anggota koperasi untuk membangun kemandirian dan profesionalisme dalam pengelolaan koperasi.

Dalam RAT di aula BBK Ende, Minggu (19/2), Ketua Kopdit Serviam Kosmas Lawa Bagho menegaskan momen RAT harus dijadikan sebagai kesempatan evaluasi dan refleksi mengenai perubahan-perubahan yang dilakukan.

"Momen RAT kita manfaatkan untuk merefleksi dan mengkritisi berbagai perubahan yang telah kita lakukan selama tahun 2011 serta berkomitmen untuk melakukan perubahan penting pada tahun 2012," katanya.

Komitmen pada perubahan itu, kata Kosmas, tidak lain bertujuan agar Koperasi Kredit Serviam semakin profesional dan terpercaya. Komitmen pada perubahan itu dimaksudkan sebagai jawaban atas visi dan misi awal pendirian koperasi yakni kesejahteraan anggota dan keberlanjutan lembaga Kopdit Serviam.

Menurut data 31 Desember 2011, jumlah anggota Kopdit Serviam 2.052 orang, dengan simpanan saham Rp4,8 miliar lebih, simpanan non saham Rp3,6 miliar lebih, pinjaman beredar Rp5,9 miliar lebih dan kekayaan Rp10 miliar lebih.

"Kemajuan-kemajuan yang kita capai dan nikmati tidak membuat kita puas diri sebab musuh terbesar kemajuan sebauh organisasi keuangan termasuk koperasi kredit adalah puas diri dan tidak mau berubah," katanya.

Untuk berkembang menjadi koperasi yang kuat, katanya, gerakan koperasi harus tetap tunduk pada prinsip-prinsip, nilai-nilai dan jati diri dari gerakan koperasi yakni swadaya, pendidikan dan solidaritas. Sedangkan untuk menghindari kredit macet, dia mengusulkan agar menghindari "pinjaman spekulasi yang merugikan diri sendiri, keluarga, anggota dan lembaga koperasi kredit".

Dia juga meminta anggota koperasi untuk terbuka terhadap informasi, bertidnak cerdas dan berinisitif. Sedangkan sekretaris Puskopdit Flroes Mandiri Paskalis X Hurint dalam sambutannya mengatakan, gerakan koperasi kredit di Flores sudah berusia 40 tahun. Apakah koperasi kredit sudah mensejahterakan anggotanya dan melenyapkan kemiskinan?"

Menurut Feri, masalahnya bukan uang melainkan maslah nilai. Menurut dia, jika masalah uang kita bisa mencetak sebanyak-banyak uang tapi uang yang banyak itu akan menimbulkan inflasi. Uang tidak punya nilai lagi. Yang diperlukan, katanya, adalah nilai. Nilai itu merupakan kekayaan dari satu kelompok masyarakat dan serentak akan menjadi mesin yang menghasilkan kekayaan bagi kelompok tersebut.

"Untuk menjawab, apakah koperasi kredit selama 40 tahun sudah mensejahterakan anggotanya harus berpulang pada anggotanya. Apakah anggota sudah menyuntikkan nilai menabung sebagai bagian dari sistem kehidupannya atau masih setia dengan nilai atau perilaku yang sudah mapan selama ini membuat ita tetap miskin," tamdasnya.

Elias Cima, salah satu pengurus Kopdit Serviam menegaskan, apakah gerakan koperasi kredit itu bisa mensejahterakan anggotanya atau tidak tergantung pada titik start seseorang masuk menjadi anggota koperasi kredit. Oleh karena itu, menuut dia, yang perlu diubah adalah cara berpikir dalam kebersamaan.

Berapa pun banyaknya uang, hal itu tidak akan membuat orang bisa sejahtera, yang diperlukan adalah bagaimana uang itu bisa membuat orang berubah. Karena itu pula dia menganjurkan, motivasi berubah itu tidak saja diharapkan dari anggota melainkan juga dari para fungsionaris koperasi.
Read more...

Koperasi Kredit Serviam Ende Bangun Kemandirian

Oleh Tula Robertus, Kontributor HU Flores Pos

(Flores Pos, 18 Pebruari 2012). Berdiri pada tanggal 9 Januari 1993, Koperasi Kredit Serviam Ende berupaya membangun kemandirian para anggota dengan usaha-usaha kecil.

Kosmas Lawa Bagho, Ketua Koperasi Kredit Serviam. kepada Flores Pos, Jumat (17/2), mengatakan Koperasi Kredit Serviam Ende, pada awal berdirinya beranggotakan 27 orang dengan modal 607.000. Anggotanya terdiri dari para guru, doses, pegawai dan karyawan di lembaga pendidikan Santa Ursula Yayasan Nusa Taruni Bhakti. Hal itu dikatakan Kosmas usai kunjungan ke makam Pater B.J. Baack, SVD di Kuburan Biara Bruder St. Konradus Ende. Kunjungan tersebut dibuat untuk menghormati Pater B.J. Baack, SVD sebagai pencetus Credit Ubion/Koperasi Kredit di Flores khurusnya BK3D NTT Barat yang telah menggungah sekelompok anak muda membentuk Koperasi Kredit/CU di yang namanya Serviam.

Sesudah gempa Flores 12 Desember 1992, sekelompok anak muda tadi berupaya membangun kebersamaan untuk memulai usaha-usaha kecil dalam lembaga koperasi. Inisiatif dan niat baik itu direspons oleh para guru, pegawai dan dosen termasuk karyawan/karyawati. Maka pada tanggal 9 Januari 1993 dimulailah Koperasi Kredit Serviam Ende.

Sejak tahun 2001-2002, Koperasi Kredit Serviam Ende sudah mulai membuka diri bagi masyarakat umum untuk membantu mereka dalam memperkuat dan meningkatkan perekonomian mereka. Sejalan dengan itu, lembaga Koperasi Kredit Serviam Ende membenah manajemen yang diregulasi dengan baik dan tertib. Dari usaha-usaha dan modal terkumpul pada tahun 2005-2006, Koperasi Kredit Serviam Ende sudah bisa membeli tanah di Jalan Eltari dan memiliki kantor yang dikelola oleh 6 orang staf.

Untuk melayani kebutuhan pendidikan, Koeprasi Kredit Serviam Ende, memiliki produk Simpanan Pendidikan (Sipendik) dan Simpanan Wajib Belajar (Siwajar) yang beranggotakan sebagai pilot project anak SD, SMP dan mahasiswa STPM Santa Ursula Ende.

Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk tahun buku 2011 yang diselenggarakan pada tahun 2012 ini beda dengan tahun sebelumnya. Biasanya RAT dilaksanakan di Ende tetapi tahun ini dilakukan di kelompok di masing-masing daerah dengan maksud melibatkan masyarakat secara langsung dan mendengarkan secara langsung masukan, keluhan, aspirasi serta hal lain yang dirasakan oleh anggota Koperasi Kredit Serviam Ende.

Diharapkan agar sosialisasi di masing-masing kelompok terus dijalankan. Respon dari anggota sangat antusias terhadap kegitan yang direncanakan demi peningkatkan perekonomian anggota. Berkat kerjasana dalam kelompok Koperasi Kredit Serviam Ende, biaya pendidikan untuk anak-anak para anggota bisa diatasi.

Elias Cima, anggota mengatakan bahwa koperasi adalah sarana menuju kesejahteraan. Di dalamnya para anggota saling membangun dan mendidik demi meningkatkan perekonomian dalam mengatasi berbagai kesulitan keluarga. Dalam koperasi, para anggota dapat memfokuskan diri pada pendidikan anak-anak.

Aloysius B. Kelen, penasihat Koperasi Kredit Serviam Ende, mengatakan masyarakat kota sudah keluar dari kunkungan kemiskinan tetapi di desa masih banyak yang tinggal dalam kegelapan. Hidup berkoperasi diawali dengan pendidikan bagi para anggota untuk membuka wawasan mereka. Lewat pendidikan mereka tahu bagaimana cara berkoperasi dan bagaimana membuka usaha. Dengan demikian anggota koperasi yang sudah terbina akan berkembang terus dari waktu ke waktu.

Rapat Anggota Tahunan akan dilaksanakan pada hari Minggu 19 Pebruari 2012 pkl. 09.30 di Biara Bruder Santu Konradus Ende. Hingga saat ini, anggota Koperasi Kredit Serviam Ende, berjumlah 2.052 orang. Dari jumlah tersebut 30 prosen terdiri dari orang muda dan anak-anak. Sedangkan aset Koperasi Kredit Servian Ende sudah mencapai 10 miliar lebih. Inilah Koperasi Kredit Serviam Ende. Dari hari ke hari jumlah anggotanya terus bertambah.
Read more...

Kamis, 02 Februari 2012

Tips Menerima Kegagalan

Siapa manusia paling sempurna di planet bumi ini yang senantiasa sukses tanpa mengalami kegagalan sedikit pun. Menurut tulisan pengalaman para orang sukses di seluruh pelosok bumi yang hidup sukses dalam berbagai ragam usaha dan latar belakang, juga pernah mengalami kegagalan. Tidak cuma satu kali tetapi bahkan berkali-kali.

Lalu apa sih rahasianya. Salah satu tips yang coba dibagikan saudara kita, Andreas Ho melalui www.pembelajar.com adalah menerima kegagalan untuk bangkit sukses lebih besar. Jangan takut mengakui dan menerima kegagalan dalam proses kehidupan manusia. Namun dalam kenyataan ... tidaklah mudah.

Ada banyak manusia menghabiskan nyawa dengan sia-sia karena tidak mampu atau tidak mau dianggap gagal. Kebanyakan orang akan merasa canggung kalau dirinya diterpa kegagalan yang seharusnya dijadikan sebagai bara api tambahan untuk hidup lebih sukses. Untuk itu ikuti tips Andreas Ho berikut ini untuk menyapa dan menyentuh saya pribadi dan para sahabat yang pernah mengalami kegagalan namun belum putus asa apalagi meregang nyawa sia-sia.

Tujuh (7) Alasan Mengapa Kita Menrima Kegagalan:
1. kegagalan memberi kita kesadaran telah melakukan kesalahan.
2. Kegagalan membuat kita lebih kuat.
3. Keegagalan menginspirasi dan membakar semangat.
4. Kegagalan menjadikan sikap seseorang menjadi lebih lembut dan berempati kepada sesama.
5. Kegagalan membangun keberanian.
6. Kegagalan merupakan salah satu jalan yang akan membawa kita pada kesempatan atau peluang
yang lebih bagus.
7. Kegagalan menjadikan kesuksesan yang tercapai terasa lebih manis.
Read more...